KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,
segala puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala, karena
atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyusun makalah ini tepat pada
waktunya.
Shalawat
berangkaikan salam kita hadiahkan kepada Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi
Wassalam, yang syafaatnya kita harapkan di yaumil akhir kelak.
Terimakasih
kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi, hingga makalah kami yang
berjudul “Analisis Produksi” pada mata kuliah Ekonomi Manajerial ini
dapat terselesaikan. Kepada dosen pembimbing, terimakasih telah memberi tugas
kepada kami, banyak pengalaman dan pengetahuan yang kami dapatkan dalam proses
penyelesaian makalah, juga kepada rekan-rekan yang ikut
berpartisipasi sehingga makalah ini sampai ke tangan kita semua.
Demikianlah
makalah ini kami selesaikan, semoga membawa banyak manfaat bagi kita semua,
kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan, demi kesempurnaan makalah
ini.
Banyuwangi,
15 Maret 2016
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Produksi
merupakan mata rantai konsumsi, yaitu menyediakan barang dan jasa yang
merupakan kebutuhan konsumen. Produsen sebagaimana konsumen, bertujuan untuk
memperoleh mashlahah maksimum melalui
aktivitasnya. Jadi, produsen dalam perspektif ekonomi islam bukanlah seorang
pemburu laba maksimal melainkan pemburu mashlahah.
Ekspresi mashlahah dalam kegiatan
produksi adalah keuntungan dan berkah sehingga produsen akan menentukan
kombinasi antara berkah dan keuntungan yang memberikan mashlahah maksimal. Oleh karena itu, tujuan produsen bukan hanya
laba, maka pertimbangan produsen juga bukan semata pada hal yang bersifat
sumber daya yang memiliki hubungan teknis dengan output, namun juga pertimbangan
kandungan berkah (nonteknis) yang ada pada sumber daya maupun output.
Misalnya
ketika untuk menghasilkan baju diperlukan kain, benang, tenaga kerja, serta
mesin jahit produsen tidak hanya memikirkan berapa meter kain dan benang yang
diperlukan agar labanya maksimal, namun juga mempertimbangkan jenis kain dan
benang apa, dan dibeli dengan harga berapa, berapa tenaga kerja diperlukan,
berapa baju akan dibuat agar mashlahah mencapai
maksimal.
Kegiatan produksi membutuhkan
berbagai jenis sumber daya ekonomi yang lazim disebut input atau faktor
produksi. Secara garis besar input dapat dikategorikan ke dalam input manusia
dan input non manusia.
Produksi merupakan mata rantai konsumsi, yaitu menyediakan barang
dan jasa yang merupakan kebutuhan konsumen. Produsen, sebagaimana konsumen,
bertujuan untuk memperoleh mashlahah maksimum melalui aktivitasnya. Jadi,
produsen dalam perspektif ekonomi Islam bukanlah seorang pemburu laba maksimal
melainkan pemburu mashlahah. Ekspresi mashlahah dalam kegiatan produksi adalah
keuntungan dan berkah sehingga produsen akan menentukan kombinasi antara berkah
dan keuntungan yang memberikan mashlahah maksimal. Oleh karena itu, tujuan
produsen bukan hanya laba, maka pertimbangan produsen juga bukan semata pada
hal yang bersifat sumber daya yang memiliki hubungan teknis dengan output,
namun juga pertimbangan kandungan berkah (nonteknis) yang ada pada sumber daya
maupun output.Misalnya ketika untuk menghasilkan baju diperlukan kain, benang,
tenaga kerja, serta mesin jahit produsen tidak hanya memikirkan berapa meter
kain dan benang yang diperlukan agar maksimal, namun juga mempertimbangkan
jenis kain dan benang apa, dan dibeli dengan harga berapa, berapa tenaga kerja
diperlukan, berapa baju akan dibuat agar mashlahah mencapal maksimal. Bab ini
mengupas mengenai bagaimana keputusan produsen dalam menggunakan sumber daya
dan menginternalisasi berkah dalam keputusan produksi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Produksi
Produksi
merupakan mata rantai konsumsi, yaitu menyediakan barang dan jasa yang
merupakan kebutuhan konsumen. Produsen sebagaimana konsumen, bertujuan untuk
memperoleh mashlahah maksimum melalui
aktivitasnya. Jadi, produsen dalam perspektif ekonomi islam bukanlah seorang
pemburu laba maksimal melainkan pemburu mashlahah.
Ekspresi mashlahah dalam kegiatan
produksi adalah keuntungan dan berkah sehingga produsen akan menentukan
kombinasi antara berkah dan keuntungan yang memberikan mashlahah maksimal. Oleh karena itu, tujuan produsen bukan hanya
laba, maka pertimbangan produsen juga bukan semata pada hal yang bersifat
sumber daya yang memiliki hubungan teknis dengan output, namun juga
pertimbangan kandungan berkah (nonteknis) yang ada pada sumber daya maupun output.
2.2 Atribut
Fisik dan Nilai dalam Produk
Sebuah produk
yang dihasilkan oleh produsen menjadi berharga atau bernilai bukan karena
adanya berbagai atribut fisik dari produk semata, tetapi juga karena adanya
nilai (value) yang dipandang berharga
oleh konsumen. Atribut fisik yang melekat pada suatu barang misalnya bahan baku
pembuatannya, kualitas keawetan barang tersebut, bentuk atau desain barang, dan
lain-lain.
Dua barang
yang memiliki atribut fisik sama belum tentu akan berharga sama di hadapan konsumen
karena perbedaan nilai yang ada dalam barang tersebut. Misalnya, dua buah raket
tenis yang memiliki spesifikasi teknis sama, tetapi harganya berbeda karena
merknya berbeda. Raket tenis bermerk terkenal harganya lebih mahal dibandingkan
yang tidak terkenal, meskipun bahannya sama, desain modelnya sama, dan tentu
saja fungsinya sama. Terkadang harga barang bisa jauh melampau nilai
fungsionalnya karena tingginya nilai nonfisik yang ada padanya.
Atribut fisik
suatu barang pada dasarnya bersifat objektif, dapat diperbandingkan satu sama
lainnya, tetapi nilai yang melekat pada suatu barang bernilai subjektif. Dalam
pandangan ekonomi islam produk juga merupakan kombinasi dari atribut fisik dan
nilai (value). Konsep ekonomi islam
tentang atribut fisik suatu barang mungkin tidak berbeda dengan pandangan pada
umumnya, tetapi konsep nilai yang harus ada dalam setiap barang adalah
nilai-nilai keislaman (Islamic values)
Jadi jelaslah
bahwa satu produk harus memiliki atribut fisik sekaligus berkah agar membawa mashlahah. Dengan cara pandang seperti
ini maka kuantitas produk diekspresikan sebagai berikut:
QM = qF + qB
Di
mana
QM
adalah barang yang memiliki mashlahah
qF
adalah atribut fisik barang
qB
adalah berkah barang tersebut
2.3 Input
Produksi dan Berkah
Kegiatan
produksi membutuhkan berbagai jenis sumber daya yang menjadi masukan secara
langsung maupun tidak langsung dalam proses produksi. Sebuah mobil misalnya,
tidak bisa dibuat hanya dengan tersedianya besi atau karet saja, atau ada
tenaga kerja saja, atau ada pengusaha mobil saja, tetapi merupakan hasil
kombinasi antara berbagai faktor produksi sebagai input produksi. Sebuah mobil
dapat sampai ke tangan konsumen berkat adanya bahan-bahan yang mencukupi (besi,
karet, alumunium), yang diolah oleh para tenaga kerja yang memiliki keahlian
pada bidangnya baik diolah secara manual maupun dengan dibantu mesin, dan
kemudian setelah menjadi mobil dijual atau disalurkan oleh para distributor
kepada konsumen. Keseluruhan proses pembuatan mobil di atas selain membutuhkan
koordinasi manajerial dari seorang manajer, membutuhkan gagasan dari seorang
wirausahawan, juga membutuhkan biaya-biaya atau modal.
Pada
dasarnya,faktor poduksi atau input ini secara garis besar dapat
diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu input manusia (human input)dan input nonmanusia (non human input). Yang termasuk dalam input manusia adalah tenaga
kerja/buruh dan wirausahawan, sementara yang termasuk dalam input nonmanusia
adalah sumber daya alam (natural
resources), kapital (financial
capital), mesin, alat-alat, gedung, dan input-input fisik lainnya (physical capital). Pengkategorian input
menjadi input manusia dan nonmanusia ini setidaknya dilandasi oleh dua alasan,
yaitu:
Sebagaimana
diketahui, berkah merupakan komponen penting dalam mashlahah. Oleh karena itu, bagaimanapun dan seperti apa pun
pengklasifikasiannya, berkah harus dimasukkan dalam input produksi. Memasukkan
berkah sebagai input produksi adalah rasional, sebab berkah mempunyai andil (share) nyata dalam membentuk output.
Demikian pula barang yang diproduksi dengan input berkah yang rendah akan
menghasilkan output dengan kandungan berkah yang rendah pula, dibandingkan yang
menggunakan input berkah tinggi. Akibatnya mashlahah
dari barang tersebut juga rendah.
2.4
Kemuliaan Harkat Kemanusiaan sebagai Karakter Produksi
Tujuan
dari produksi dalam Islam adalah untuk menciptakan mashlahah yang optimum bagi konsumen atau bagi manusia secara
keseluruhan. Dengan mashlahah yang
optimum ini, maka akan dicapai falah yang merupakan tujuan akhir dari kegiatan
ekonomi sekaligus tujuan hidup manusia. Dengan memahami alur tujuan kegiatan
produksi ini, maka dapat diambil suatu substansi bahwa karakter penting
produksi dalam perspektif ekonomi Islam adalah perhatiannya terhadap kemuliaan
harkat kemanusiaan, yaitu mengangkat kulitas dan derajat hidup serta kualitas
kemanusiaan dari manusia. Kemuliaan harkat kemanusiaan harus mendapat perhatian
besar dan utama dalam keseluruhan aktivitas produksi. Segala aktivitas yang
bertentangan dengan pemuliaan harkat kemanusiaan dapat dikatakan bertentangan
dengan ajaran islam.
Karakter
produksi yang seperti di atas akan membawa implikasi penting dalam teori
produksi, sebagaimana akan dibahas pada penjelasan dalm bab ini. Salah satu
contohnya adalah dalam memandang kedudukan manusia, khususnya tenaga kerja dan
kapital (Financial capital).
Substitusi
antara manusia/tenaga kerja dengan kapital pada dasarnya dapat dibagi menjadi
dua jenis, yaitu:
a. Substitusi
yang bersifat alamiah (natural substitution);dan
b. Substitusi
yang dipaksakan (forced substitution)
Asumsikan
lebih lanjut bahwa manusia dengan kualifikasi tersebut jumlahnya amat banyak
dan oleh karenanya tingkat upah yang terjadi sangatlah rendah. Dalam situasi
seperti ini kegiatan produksi akan menggunakan banyak tenaga kerja.
Dengan
kualifikasi manusia yang sudah tinggi seperti ini, maka menjadi tidak bijaksana
jika manusia-manusia dengan kualifikasi tinggi ini digunakan untuk memproduksi
barang-barang yang remeh, bernilai rendah. Mereka tentu diarahkan untuk
memproduksi barang-barang yang mempunyai nilai tinggi sehingga bisa
meningkatkan harkat hidup dan kemanusiaan manusia.
2.
Implikasi Konsep Produksi Islam pada
Kegiatan Produksi
Ajaran-ajaran Islam yang dipaparkan
di depan akan memberi dampak pada produksi yang dilakukan oleh agen Muslim.
Beberapa dampak yang langsung dari hal ini adalah adanya penurunan tambahan
penggunaan input (marginal input) dan
efisiensi produksi.
a.
Penurunan Input Marginal
Sebagaimana disebut di depan ketika output produksi
meningkat, maka penggunaan input juga meningkat. Namun, jumlah tambahan input
untuk memproduksi satu unit output ini, yaitu marginal input, semakin lama akan
semakin menurun sebagai akibat dari adanya efek learning curve.
b.
Efisiensi dan Tingkat Efisiensi
Penggunaan Input
Penurunan marginal input juga
mengimplikasikan telah terjadi efisiensi penggunaan input, sebab dengan output
yang sm jumlah input yang dibutuhkan semakin sedikit. Dengan kata lain,
efisiensi ini adalah merupakan tingkat penurunan dari marginal input. Karena
penurunan marginal input ini terjadi karena efek learning curve, maka juga dapat dikatakan bahwa efek learning curve meningkatkan efisiensi.
3.
Kombinasi Output Maksimum
Setelah mendiskusikan semua hal yang
perlu, maka sampailah kita saat ini pada masalah utama, yaitu menggambarkan
bagaimana proses produsen Muslim dalam mencapai mashlahah yang maksimum melalui kegiatan produksi yang mereka
lakukan.
Tujuan
dari produsen yang ingin memaksimumkan maslahah
bisa diekspresikan menjadi:
M
= f(X,Y)
Dalam
fungsi di atas ditunjukkan bahwa mashlahah
yang diperoleh oleh produsen bersumber dari produksi barang X dan barang Y
yang dihasilkannya. Perlu dilihat di sini bahwa fungsi mashlahah yang ada pada
teori konsumen. Hanya saja, dalam kasus sekarang ini terma-terma X dan Y
menunjukkan jumlah barang yang diproduksi, bukannya jumlah barang yang
dikonsumsi.
2.7
Produksi dengan Modal
Tetap
Di depan sudah dijelaskan argument
mengenai mengapa Islam tidak memperkenankan substitusi yang dipaksakan antara
modal dan manusia (tenaga kerja). Sebagai implikasi dari hal ini, maka di sini
akan dieksplorasi lebih jauh mengenai teknologi berproduksi yang memosisikan
modal sebagai input tetap dan manusia (tenaga kerja) sebagai input variabel.
1.
Fungsi
Produksi
Fungsi produksi menunjukkan berapa besar
output, dengan kandungan berkah tertentu, bisa diproduksi dengan input-input
yang disuplai ke dalam proses produksi dan dengan jumlah modal/kapital yang
tertentu. Fungsi produksi seperti ini bisa dilihat di bawah ini:
Q = T f(K, HK, L, E, M, B)
2.
Produktivitas
Rata-rata
Produktivitas rata-rata biasanya selalu
terkait dengan produktivitas dari suatu input. Definisi dari produktivitas
rata-rata adalah sebagai berikut:
Karena dalaam produksi
semua input digunakan secara bersama-sama (simultan), maka konsep produktivitas
rata-rata ini akan menghasilkan suatu ukuran yang kurang teliti, sebab
kontribusi dari faktor dengan faktor lain diasumsikan sama.
3.
Marginal
Physical Product of Input dalam islam
Marginal physical product (MPP) adalah
kenaikan jumlah output fisik sebagai akibat dari adanya kenaikan salah satu
input fisik, sementara jumlah input fisik lainnya adalah konstan.
a.
Penyebab
Berubahnya Marginal Physical Product of
Input
Untuk melihat hal ini marilah kita ambil derivative total
dari persamaan (7.17) di atas sebagai berikut:
b.
Penurunan
Marginal Physical Product
Nilai produk marginal
fisik dari suatu input akan mengalami penurunan sebagai akibat dari penambahan jumlah input tersebut ke dalam
produksi.
Sebagai
ilustrasi dengan menambah satu unit (orang) tenaga kerja, maka pekerja I tidak
bisa lagi sebebas sebagaimana pada waktu sebelumnya dalam hal menggunakan
peralatan yang ada. Adakalanya bahwa dia harus menunggu sebentar untuk
menggunakan peralatan tersebut. Jika jumlah pekerja ditambah lebih banyak lagi,
maka akan menyebabkan semakin panjangnya waktu tunggu tersebut. Hal ini akan
menyebabkan output per kepala menurun dan secara praktis bisa dikatakan bahwa
tambahan tenaga kerja yang terakhir dalam proses produksi menyumbangkan
tambahan jumlah produksi yang semakin sedikit.
c.
Hubungan antara
produktivitas rata-rata dan produktivitas Marginal.
Jika
dalam kasus tersebut kita hadapkan kepentingan tenaga kerja di satu sisi,
dengan kepentingan pemilik modal di sisi lain, akan terlihat bahwa marginal
produk fisik dari tenaga kerja mengalami penurunan dengan semakin bertambahnya
jumlah tenaga kerja dalam proses produksi. Gambaran ini menunjukkan bahwa
penurunan jumlah produk marginal fisik dari tenaga kerja sebagai akibat dari
penambahan tenaga kerja justru meningkatkan produktivitas rata-rata dari modal.
3.1 Atribut Fisik dan
Nilai dalam Produk
Sebuah produk yang dihasilkan oleh produsen menjadi berharga atau
bernilai bukan karena adanya berbagai atribut fisik dari produk semata, tetapi
juga karena adanya nilai (value) yang dipandang berharga oleh konsumen. Atribut
fisik yang melekat pada suatu barang misalnya bahan baku pembuatannya, kualitas
keawetan barang tersebut, bentuk atau desain barang, dan lain-Iain. Atribut
fisik suatu barang esensinya menentukan peran fungsional dari barang tersebut
dalm memenuhi kebutuhan konsumen. Di sisi lain, nilai yang terkandung dalam
suatu barang akan memberikan kepuasan psikis kepada konsumen dalam memanfaatkan
barang tersebut. Nilai ini dapat bersumber dari citra atau merk barang
tersebut, sejarah, reputasi produsen, dan Iain-lain.
Dalam pandangan ekonomi Islam produk juga merupakan kombinasi dari
atribut fisik dan nilai (value). Konsep ekonomi Islam tentang atribut fisik
suatu barang mungkin tidak berbeda dengan pandangan umumnya, tetapi konsep
nilai yang harus ada dalam setiap barang adalah nilai-nilai keislaman (Islamic
values). Adanya nilai-nilai ini pada akhirnya akan memberikan berkah pada suatu
barang. Setiap barang/jasa yang tidak mengandung berkah tidak bisa dianggap
sebagai barang/jasa yang memberikan mashlahah, sebab berkah merupakan elemen
penting dalam konsep mashlahah. Misalnya, ada 2 produk raket tenis, di mana
raket tenis diproduksi oleh sebuah perusahaan A yang melakukan eksploitasi
terhadap tenaga kerjanya sementara yang satunya dari perusahaan B sangat menghargai
tenaga kerjanya. Sebagaimana telah diketahui bahwa eksploitasi terhadap tenaga
kerja merupakan salah satu bentuk penyimpangan terhadap nilai-nilai Islam.
Meskipun atribut fisik kedua raket tersebut sama, tetapi kedua raket tersebut
akan dihargai berbeda. Raket yang diproduksi oleh perusahaan A tidak mengandung
berkah sehingga bukan barang yang berharga (mengandung mashlahah), karenanya
tidak akan dipilih oleh konsumen.
Jadi jelaslah bahwa suatu produk harus memiliki atribut fisik
sekaligus berkah agar membawa mashlahah. Dengan cara pandang seperti ini maka
kuantitas produk diekspresikan sebagai berikut:
QM = qF + qB
Di mana
QM adalah barang yang memiliki mashlahah
QF adalah atribut fisik barang
QB adalah berkah barang tersebut
3.2 Input Produksi dan Berkah
Kegiatan produksi membutuhkan berbagai jenis sumber daya ekonomi
yang lazim disebut input atau faktor produksi, yaitu segala hal yang menjadi
masukan secara langsung maupun tidak langsung dalam proses produksi. Pada
dasarnya, faktor produksi atau input ini secara garis besar dapat
diklasifikaskan menjadi jenis, yaitu input manusia (human input). dan input
nonmanusia (non input). Yang termasuk dalam input manusia adalah tenaga
kerja/buruh dan wirausahawan, sementara yang termasuk dalam input
nonmanusia adalah sumber daya alam (natural resources), kapital (financial
capital), mesin, alat-alat, gedung, dan input-input fisik Iainnya (physical
capital).
3.3 Kemuliaan Harkat Kemanusiaan sebagai Karakter Produksi
Kemuliaan harkat kemanusiaan harus mendapat perhatian besar dan
utama dalam keseluruhan aktivitas produksi. Segala aktivitas yang bertentangan
dengan pemuliaan harkat kemanusiaan dan dikatakan bertentangan dengan ajaran
Islam. Karakter produksi seperti ini akan membawa implikasi penting dalam teori
produksi. Salah satu contoh dalam memandang kedudukan manusia adalah tenaga
kerja dan kapital. Keduanya dapat mengalami substitusi tergantung keadaan.
Substitusi antara manusia/tenaga kerja dengan kapital pada dasarnya dapat
dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1.
Substitusi yang bersifat
alamiah (natural substitution)
2.
Substitusi yang
dipaksakan (forced substitution)
Sebagai contoh substitusi ini kita asumsikan pada kehidupan jaman
dahulu ketika manusia masih rendah ketenagakerjaannya. Semakin lama kualitas
tenaga kerja akan meningkat. Hal ini membuat manusia harus ditempatkan dalam
produksi yang bernilai tinggi juga. Sementara itu, untuk produksi pekerjaan
barang-barang remeh akan digantikan oleh peralatan atau mesin. Seperti inilah
substitusi yang bersifat alamiah tersebut dimana substitusi tersebut terjadi
ketika perubahan zaman jangka waktu yang panjang.
Islam sangat menganjurkan substitusi natural karena sifatnya akan
lebih meningkatkan mashlahah yang lebih tinggi dimana manusia semakin
berkembang kualitas kerjanya. Sebaliknya Islam tidak menganjurkan adanya
substitusi yang dipaksakan (forced). Hal ini disebabkan karena substitusi yang
dipaksakan akan menimbulkan kesengsaraan hidup manusia yang juatru menurunkan
harkat manusia.
Namun perlu diketahui substitusi natural proses terjadi dalam
jangka waktu panjang. Sementara paradigma jangka berproduksi sebenarnya adalah
paradigma jangka pendek. Sehingga menjadi tidak tepat jika konsep jangka
panjang digambarkan kepada jangka pendek.
3.4 Eksplorasi dan Pembentukan Konsep Produksi
Dengan mencermati penjelasan-penjelasan sebelumnya, maka perlu
dicari konsep yang sama sekali lain dari apa yang selama ini sudah ada. Konsep
ini dilandaskan pada nilai-nilai Islam.
1.
Amanah untuk mewujudkan
maslahah maksimum
Amanah adalah salah satu nilai penting dalam Islam, yang
diturunkan dari nilai dasar khilafah, yang harus terus dijunjung tinggi.
pengertian amanah dalam konteks ini adalah penggunaan sumber daya ekonomi untuk
mencapai tujuan hidup manusia (falah). Sumber daya yang ada di alam semesta ini
oleh Allah diamanahkan kepada manusia. Manusia tidak diperbolehkan untuk
mengeksplorasi dan memperolehnya dengan cara yang tidak benar. Singkatnya,
amanah di sini dimaknai sebagai usaha untuk memanfaatkan surnber daya yang ada
dengan cara yang sebaik-baiknya untuk mencapai kemakrnuran manusia di
muka bumi.
2.
Profesionalisme
Setiap musim dituntut untuk menjadi pelaku produksi yang
profesional, yaitu memiliki profesionalitas dan kompetensi di bidangnya. Segala
sesuatu urusan harus dikerjakan dengan baik, karenanya setiap urusan harus
diserahkan kepada ahlinya. Hal ini memberikan implikasi bahwa setiap pelaku
produksi Islam harus mempunyai keahlian standar untuk bisa melaksanakan
kegiatan produksi.
3.
Pembelajaran Sepanjang
Waktu
Tenaga kerja harus selalu belajar untuk meningkatkan kemampuannya
dalam hal-hal yang terkait dengan produksi. Pembelajaran ini merupakan amanat
sepanjang hidup (long life) dari ajaran Islam, artinya bahwa setiap agen Muslim
perlu terus-menerus belajar. Adapun media untuk belajar bisa berupa apa saja,
misalnya tempat bekerja (working place). Dari tempat bekerja, secara berangsur-angsur
tenaga kerja akan memperoleh keahlian dalam berproduksi sehingga kemampuan
kerjanya meningkat.
3.5 Produksi dengan Teknologi Konstan
1.
Kuva Isoinput
Dengan
mendasarkan pada konsep seperti di atas maka kita dapat mendeskripsikan konsep
tersebut menjadi suatu gambaran yang lebih konkret,misalnya dalam bentuk
grafis sebagaimana gambar 7.2. Kita asumsikan produsen memiliki dua
alternative barang yang bisa dihasilkan dengan menggunakan input tertentu,
yaitu barang X dan barang Y. sumbu vertikal menunjukkan jumlah barang Y,
sementara sumbu horosontal menunjukkan jumlah barang X. selanjutnya kita dapat
menggambarkan kurva isoinput, yaitu kurva yang menggambarkan alternative produk
yang bisa dihasilkan (X dan Y) dengan input yang tertentu. Untuk mengetahui
seluk beluyk mengenai kurva isoinput ini, maka dibawah ini disajikan pembahasan
mengenai sifat dan karakteristik kurva isoinput.
a. Input yang sama
Sesuai
dengan namanya (iso berarti sama), maka semua titik disepanjang kurva isoinput
menunjukkan jumlah input yang digunakan untuk prodiksi adalah sama. Dengan
jumlah input yang sama ini produsen bisa menghasilkan berbagai kombinasi output
sepanjang kurva tersebut, yaitu Y saja, X saja, atau sejumlah kombinasi X dan
Y. Dengan kata lain, kurva isoinput bisa didefinisikan sebagai tempat kedudukan
(locus) dari berbagai output yang berbeda yang bisa dihasilkan oleh jumlah
input yang sama.
b. Output yang Lebih Besar
Memerlukan Input yang Lebih Besar
Secara
intuisi dikatakan bahwa jumlah input yang lebih banyak yang dimasukkakn kedalam
produksi akan menghasilkan jumlah output yang lebih banyak. Sebaliknya juga
bjisa dikatakan dengan sama benarnya jika dikehendaki jumlah output yang
lebih besar, maka pasti memerlukan jumlah input yang lebih besar pula. Hal ini
bisa dilihat dalam gambar 7.4. Pada titik A jumlah yang bisa diproduksi dari
input yang ada adalah sebanyak X₁ untuk barang X dan sebanyak Y₁ untuk Y. Pada tiik A’ jumlah
yang bisa diproduksi adalah sebanyak X₂ untuk barang X dan sebanyak Y₁ untuk produk Y. Jika kita
bandingkan antara kombinasi output yang ada pada titik A dan titik A’ maka
sevara pasti dikatakan bahwa kombinasi A’ mempunyai kandungan output yang lebih
besar. Hal ini disebabkan karena keduanya mempunyai kandungan Y yang
sama., namun kombinasi A’ mempuynyai kandungan X yang lebih besar dari
kombinasi A.
c. Kurva Isoinput yang
Lebih Tinggi Menyediakan Input yang Lebih Tinggi
Berdasarkan
pada sifat kedua di atas bisa disimpulkan bahwa kombinasi A’ mempunyai kandungan
output yang lebih besar dari kombinasi A. Konsekuensinya kurva isoinput
dimana kombinasi A’ berada menyediakan input yang lebih besar disbanding dengan
kurva isoinput dimana kombinasi A berada. Dalam gambar terlihat bahwa kurva
isoinput dimana kombinasi A berada menyediakan jumlah input sebanyak 10(IT₁₀), sementara kurva isoinput
dimana kombinasi A’ berada menyediakan input sebesar 20 (IT₂₀). Dengan melihat posisi kurva
isoinput IT₃₀
yang lebih tinggi, maka bisa dikatakanbahwa semakin tinggi posisi kurva
isoinput(IT), maka semakin besar input yang tersedia bagi produsen untuk
melakukan kegiatan produksi.
d. Transformasi Input
Pada
gambar-gambar kuva isoinput tersebut di atas terlihat bahwa kurva isoinput ini
mempunyai slope yang negative. Slope negatif ini memberikan
makna adanya subsitusi antara barang X dan barang Y. Pada gambar terlihat
bahwasanya pergerakan titik A ketitik B telah terjadi substitusi dari barang X
untuk barang Y. Pada titik A jumlah barang X dan Y yang bisa diproduksi adalah
sebesar (X₁,Y₁). Pada titik B jumlah barang X dan
Y bisa diproduksi adalah sebesar (X₂,Y₂). Padahal , pada kedua titik A dan
B tersebut jumlah input yang dipakai adalah sama. Oleh karena itu, gambar
tersebut mengatakan bahwa pergerakan dari titik A ke titik B mengakibatkan
turunnya jumlah barang Y yang bisa diproduksi yaitu dari Y₁ ke Y₂.
e. Tingkat Marginal
Transformasi Input
Kurva
isoinput pada pembahasan di atas berlereng negatif yang menunjukkan adanya
substitusi antara kedua barang X dan Y. Hal ini juga berarti bahwa telah
terjadi informasi input, yaitu dari penggunaan input untuk memproduksi barang
X. Dengan kata lain, terjadi transformasi penggunaan input dari barang X
ke barang Y. Tingkat transformasi input marginal/ marginal rate of input
transformation (MRIT)menunkukkan besarnya jumlah input yang digunakan untuk
memproduksi barang Y yang ditarik dan kemudian digunakan untuk memproduksi
barang X. Kemampuan ini ditunjukkan oleh besarnya slope dari kurva
isoinput di atas. Secara aljabar, slope dari kurva isoinput bisa dilihat
pada penurunan ekspresi dibawah ini:
Selanjutnya
bisa dilihat bagaimana perubahan slope tersebut diatas jika jumlah
produksi barang X meningkat. Hal ini bisa dilihat pada gambar dibawah ini:
Gambar
anak tangga di atas menunjukkan besarnya slope dari kuva isoinput. Jika
kita berada pada posisi Y yang tinggi, pada kiri atas dan kemudian berjalan
menuruni anak tangga tersebut terlihatbahwa anak tangga tersebut semakin landai
dan rendah. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah input yang di ambil dari produksi
barang Y dan dialihkan untuk memproduksi barang X sebesar satu unit semakin
menurun. Hal ini sebenarnya menunjukkan adanya efek dari learning curve
dari inout sebagaimana ditunjukkan pada gambar 7.1. Learning curve ini
sekaligus juga menunjukkan adanya efisiensi penggunaan input. Namun, karena
kemampuan manusia terbatas maka efek learning curve pada jumlah produksi
semakin lama juga semakin menurun, dan pada titik tertentu yang
ditunjukkan oleh titik besar efek tersebut sudah menjadi nol. Pertambahan
produksi barang X pada tahap selanjutnya dilakukan dengan efisiensi tersebut
mulai terjadi setelah melalui titik belok(pada titik besar). Setelah titik
belok tersebut maka jumlah input yang harus d ambil dari produksi barang Y
menjadi semakin besar untuk memproduksi barang X sebesar satu unit.
3.6 Kombinasi Output Maksimum
Setelah
mendiskusikan semua hal yang perlu, maka sampailah kita saat ini pada masalah
utama, yaitu menggambarkan bagaimana proses produsen muslim dalam mencapai mashlahah
yang maksimum melalui kegiatan produksi yang mereka lakulan.
Tujuan
dari produsenyang ingin memaksimumkan mashlahah bisa diekspresikan
menjadi: M =
f(X,Y)
Dalam
produksi di atas ditunjukkan bahwa mashlahah yang diperoleh oleh
produsen bersumber dari produksi barang X dan barang Y yang
dihasilkannya. Perlu dilihat dari sini bahwa pungsi mashlahah diatas
sama seperti pungsi mashlahah yang ada pada teori konsumen. Hanya saja
dalam kasus sekarang ini terma-terma X dan Ymenunjukkan jumlah barang yang
diproduksi, bukannya jumlah barang yang dikonsumsi. Dengan demikian,
representasi geometris dari pungsi mashlahah ini sama dengan yang ada
dalam teori knsumsi, yaitu ditunjukkan oleh kurva iso-mashlahah, yaitu
kurva yang menunjukkan kombinasi barang X dan Y yang memberikan tingkat mashlahah
yang sama.
Sementara
itu, keadaan input yang dihadapi oleh produsen diasumsikan konstan sehingga
fungsi kendalanya adalah bayaknya input yang besarnya tertentu, yaitu kurva
isoinput. Fungsi kendala ini bisa diekspresikan sebagai berikut
ini: I = i(X,Y)
Secara
grafis proses maksimilasi mashlahah ini disajikan dalam gambar.
Anggaplah dalam upaya mencapai maksimum mashlahah dalam kegiatan
produksinya, seorang produsen menghadapi pilihan arrangemen mashlahah
yang besarnya bertingkat-tingkat, sebagaimana ditunjukkan oleh kurva
iso-mashlahah IM1, IM2 dan IM3. Tentu saja
produsen akan memilih tingkat mashlahah yang paling tinggi yaitu kombinasi
produksi yang berbeda pada kurva iso-mashlahah IM3, anggap
misalnya kombinasi D. Namun, tentu saja usaha produsen tersebut terkendala
dengan jumlah input yang tersedia. Jumlah input yang tersedia sudah tertentu
besarnya yang ditunjukkan oleh kurva isoinput. Dengan demikian, pilihan untuk
berproduksi pada kombinasi output D merupakan pilihan yang tidak relistis
karena tersebut tidak bisa tercapai.
3.7 Produksi
Dengan Modal Tetap
1.
Fungsi Produksi
Fungsi
produksi menunjukan berapa besar output, dengan kandungan berkah tertentu ,bisa
diproduksikan dengan input-input yang disuplai kedalam proses produksi dan
dengan jumlah modal/capital yang tertentu . Fungsi
produksi seperti ini bisa dilihat dibawah ini:
Q=T F(K,HK,L,E,M,B)
Fungsi produksi sebagaimana yang disampaikan diatas bisa direduksi , untuk
keperluan analisis , menjadi sebagi berikut:
Q=T F
(K,HK,L,B)
Mengingat bahwa human capital melekat pada tenaga kerja, maka ekpresi di
atas bisa ditulis dalam bentuk sebagai berikut:
Q=T F (K,L,B)
Sedangkan mengingat bahwa berkah melekat pada setiap input yang lain, maka fungsi
praduksi bisa ditulis menjadi:
Q=T F (K,L)
Foresubscript B dalam ekpresi diatas
menunjukkan adanya kandungan berkah di masing-masing input:
Selain keberadaan berkah yang harus ada dalam setiap produksi, islm memandang
bahwa manusia merupakan faktor produksi yang sangat penting. Manusia mempunyai
sifat yang sangat berbeda dengan input-input yang lain. Subsitusi yang terjadi
antara kapital dengan teknologi tidak menimbulkan masalah, namun subsitusi yang
terjadi antara kapital dengan tenaga kerja yang nota bene manusia akan
menimbulkan permasalahan kemanusiaan. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya
subsitusi yang dipaksakan (forced substitution) antara tenaga kerja
dengan input/faktor produksi yang lain tidak semestinya terjadi pada kondisi seperti
ini. Dalam situasi seperti ini maka konstruksi dari foresubscript K
dalam fungsi produksi di atas menjadi sebagai berikut:
K= L
Ekspresi diatas menunjukkan bahwa antara hubungan kapital (K) dan tenaga kerja
(L) adalah hubungan yang complement er yang tidak saling menggantikan satu
dengan yang lain.
2.
Produktifitas Rata-Rata
Produktivitas rata-rata biasanya
selalu terkait dengan produktivitas dari suatu input.produktivitas rata-rata
input ini menunjukkan kemampuan satu unit input tertentu dalam menghasilkan
output secara rata-rata.Defenisi dari prooduktivitas rata-rata adalah sebagai
berikut: APi=
Karena dalam produksi input digunakan secara bersama-sama(simultan),maka
kkonsep produktivitas rata-rata ini akan menghasilkan suatu yang kurang
teliti,sebab kontribusi dari faktor lain di asumsi kan sama.Mengenai hal
tersebut bisa dilihat dalam pembahasan berikut.
Perlu
dilihat disini bahwa peningkatan jumlah tenaga kerja secara langsung akan
mningkatkan ataupun menurunkan nilai produktiviitas rata-rata dari tenaga kerja
tergantun\g pada tahap mana produksi berada.Sementara dipihak kapital hal ini
justru meningkatkan nilai produktivitas rat-rata.Untuk mengetahui hal ini kita
ambil persamaan dengaan mempertimbangkan aspek fisik nya saja.
Q=
f (K,L)
Denagn ekpresi seperti pada persamaan di atas,maka bisa diperoleh nilai
produksi rata-rat kapital sebagai berikut:
AP=
AP=
Akibat yang ditimbulkan dari peningkatan tenaga kerja pada nilai produtivitas
tenaga kerja.Hal ini bisa dilihat pada pemaparan beerikut ini.
Dari
ekpresi di atas bahwa setiap kenaikan dri tenaga kerja satu unit akan menambah
nilai produksi sebesar nilai produk marginal fisik di satu fihak sebagai man
diperlihatkan oleh Terma pertama dalam ruas kanan.Namun,kanaikan tersebut
berjalan dengan tingkat yang menurun.Di lain pihak peningkatan jumlah kerja ini
menurunkan nilai produktivitas tenaga kerja sebagai man terlihat pada terma ke
dua dalam ruas yang sama.Tanda negative yang ada pada terma tersebut
menunjukkan penurunan nilai.Ekpresi di atas menunjukkan nahwa sebagai
akibat dari tambahan jumlah tenaga kerja maka perilaku dari nilai produktivitas
rata-rata nilai tenaga kerja akan mengalami kenaikan pada awalnya dan kemudian
akan mengalami penurunan.
3.
Marginal Physical Product of input
daam islam
Marginal Physical Pproduct (MPP) adalah jumlah Output fisik sebagai akibat dari
adanya kenaikan sala satu input fisik, sementara jumlah input fisik lainnya
alah konstan
a.
Penyebab Berubahnya Marginal
Physical Product of Input
Sebagai ilustrasi adalah suatu proses roduksi yang menggunakan dua tahap :
tahap I dan Tahap II. Dalam Tahap I peralatan yang dignakan adalah peralatan
II. Asumsikan bahwa waktu yang digunakan untuk menyeleaikan pada masing-masing
tahap adalah sama dan jumlah tenaga kerja yang dipakai dalam proses produksi
ini hanya satu. Dalam situasi seperti ini maka bisa dibayangkan
bahwasanya terdapat kapasitas peralatan yang menganggur. Ketika tenaga kerja
sedang menangani proses pada tahap I, maka peralatan II menganggur demikian
juga ketika tenaga kerja sedang menangani pada proses tahap II peralatan
I menjadi tdak terpakai. Dengan
cara produks seperti ini, maka jumlah produksi adalah 0 unit per hari.
Sekarang dengan tambahan tenaga kerja satu orang lagi, sementara hal-hal lain
tetap konstan, maka jumlah produksi bisa meningkat sebesar 18 unit dalam 1
hari. Kita lihat disini terjadi adanya peningkatan output dari 10 unit menjadi
18 unit. Peningkatan ini mudah ditelusuri asal muasalnya
b.
Penurunan Marginal Physical Product
Nilai
Produk marginal fisik dari suatu input akan mengalami penurunan sebagai akibat
dari penambahan jumlah input tersebut kedalam produksi.
c.
Hubungan antara
Produktivitas Rata-rata dan Produktivitas Marginal
Huubungannya sangat erat bisa di lihat di contoh diatas bahwa setiap kenaikan
dari tenaga kerja satu unit akan menambah nilai produk marginal fisik tenaga
kerja. Dilain pihak peningkatan jumlah tenaga kerja ini akan menurunkan nilai
prdouktivitas rata-rata tenaga kerja. Ekspresi diatas menunjukkan bahwa
perilaku dari nilai produktivitas rata-ratab input akan mengalami kenaikan pada
awalnya dan kemudian akan mengalamai penurunan ketika tambahan yang di hasilkan
oleh nilai produk marginal fisik sudah tidak mampu lgi mengkompensasi penurunan
yang disebabkan oleh penurunan nilai produktifitas rata-rata dari input yang
bersangkutan.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Sebuah produk menjadi
berharga atau bernilai bukan semata karena adanya berbagai atribut fisik dari
produk tersebut, tetapi juga karena adanya nilai (Value) yang dipandang berharga oleh konsumen. Kegiatan produksi
membutuhkan berbagai jenis sumber daya ekonomi yang lazim disebut input atau
faktor produksi. Secara garis besar besar input dapat dikatagorikan ke dalam
input manusia dan input nonmanusia. Berkah merupakan komponen penting dalam Mashlahah, karenanya harus melekat pada
setiap input yang digunakan dalam berproduksi dan proses produksi sehingga
output produksinya akan mengandung berkah. Karakter penting produksi dalam
perspektifnya ekonomi islam adalah perhatiannya terhadap kemuliaan harkat
kemanusiaan, yaitu mengangkat kualitas dan derajat h idup
serta kualitas kemanusiaan dari manusia. Sementara itu, konsep produksi yang
sesuai dengan nilai Islam adalah konsep teknologi berproduksi konstan, dalam
arti bahwa teknologi yang digunakan adalah teknologi yang memanfaatkan sumber
daya manusia sedemikian rupa sehingga manusia tersebut mampu meningkatkan
harkat kemanusiaannya.
Optimum
mashlahah condition akan tercapai pada saat slope (gradient) antara kurva
iso-mashlahah dan kurva isoinput adalah sama. Secara sistematis produsen harus
mampu menyamakan nilai rasio mashlahah barang X dan mashlahah marginal barang Y sama dengan rasio marginal dalam
memproduksi barang X dan input marginal dalam memproduksi barang Y.
Saran
Semoga
dengan adanya pembahasan tentang “Analisis Produksi” dapat membawa kita untuk
dapat mengetahui akan ilmu Ekonomi Islam terutama yang termasuk di dalam Teori
dan Analisis produksi ini sehingga bermanfaat bagi pembaca atau pendengar dan
dapat menambah pengetahuan yang dibahas dalam makalah ini.
No comments:
Post a Comment