Wednesday, April 6, 2016

METODOLOGI PENELITIAN HAND OUT

BAB I
PENDAHULUAN
Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan.
Definisi Pengetahuan adalah bahan ilmu dan baru bisa menjawab tentang apa, sedang ilmu pengetahuan adalah menjawab tentang mengapa suatu kenyataan atau kejadian bisa terjadi. Jadi Ilmu Pengetahuan adalah merupakan sekumpulan pengetahuan dalam bidang tertentu yang disusun secara sistematis menggunakan metode keilmuan, dapat dipelajari dan diajarkan dan memiliki nilai guna tertentu.
Dasar-dasar Pengetahuan
Dasar-dasar pengetahuan yang menjadi ujung tombak berpikir ilmiah adalah sebagai berikut:
1.    Penalaran
Yang dimaksud penalaran adalah kegiatan berpikir menurut pola tertentu, menurut logika tertentu dengan tujuan untuk menghasilkan pengetahuan. Berpikir logis mempunyai konotasi jamak, bersifat analisis. Aliran yang menggunakan penalaran sebagai sumber kebenaran ini disebut rasionalisme dan yang menganggap fakta dapat tertangkap melalui pengalaman sebagai kebenaran disebut aliran empirisme.
2.    Logika
Yang dimaksud logika sebagaimana didefinisikan oleh William S.S adalah pengkajian berpikir secara sahih (valid).

Syarat ilmu pengetahuan adalah memiliki obyek dan metode ilmiah, atau memiliki dimensi / aspek sebagai berikut:
1.    Aspek Ontologis
Berkenaan dengan apa yang dipelajari atau berkenaan dengan obyek studi. Aspek ontologis berkenaan dengan apa yang ingin diketahui, apa yang dipikirkan, atau yang menjadi masalah. Contoh aspek ontologis dalam bidang ekonomi adalah perilaku manusia yang dihadapkan pada persoalan sumber daya manusia yang terbatas dengan kebutuhan yang tidak terbatas.

2.    Aspek Estimologis
Berkenaan dengan bagaimana ilmu mempelajari obyek studinya dengan menggunakan metode tertentu yaitu metode keilmuan atau metode ilmiah yang didukung oleh sarana berpikir ilmiah. Metode Ilmiah pada dasarnya merupakan gabungan antara pola berpikir secara induktif (dari hal-hal yang khusus, dianalisis menjadi hal-hal yang umum), dan pola berpikir secara deduktif (dari hal-hal yang umum, dianalisis menjadi hal-hal yang khusus). Pola berpikir induktif dan deduktif disebut juga proses “Logico-hypotetico-veryfikatif” atau “Deducto-hypotetico-veryfikatif” yang terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut: (1) Merumuskan masalah (2) Menyusun Kerangka Berpikir (3) Merumuskan Hipotesis (4) Menguji Hipotesis (5) dan Menarik Kesimpulan.
3.    Aspek Aksiologis
Berkenaan dengan manfaat ilmu. Nilai guna ilmu bisa dilihat secara positif dan normatif. Secara positif nilai guna ilmu adalah untuk mendiskripsikan, menjelaskan dan dan memprediksi berbagai fenomena yang sesuai dengan obyek studi yang dipelajari. Sedangkan secara normatif, nilai guna ilmu adalah untuk mengendalikan berbagai fenomena kearah yang diinginkan. Secara normatif aspek aksiologis ilmu erat kaitannya dengan pertimbangan nilai, etika dan moral. Dalam penelitian aspek aksiologis digambarkan dalam saran-saran atau rekomendasi hasil penelitian.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan melalui suatu proses Scientific Research, yang diawali dengan observasi, identifikasi masalah, perumusan kerangka pemikiran, perumusan hipotesis, pengujian hipotesis, pengumpulan data, analisis dan interprestasi data, dan penarikan kesimpulan.

Fungsi Ilmu yaitu mendeskripsikan, menjelaskan, memprediksi, dan mengendalikan. Ilmu melaksanakan fungsinya melalui teori yang dikandungnya. Teori adalah himpunan definisi, konsep dan hipotesis tentang hubungan antar variabel. Ciri utama teori adalah mengandung makna “jika ......., maka .........” Tujuan teori adalah menjelaskan dan membuat prediksi, sehingga memungkinkan untuk melakukan pengendalian.

Karakteristik Ilmu yaitu rasional, logis, obyektif dan terbuka, maka seorang ilmuwan selain harus memiliki sifat-sifat empirisme, rasionalisme dan kritisme, juga harus memiliki sifat ilmiah sebagai berikut:
(1)  Sikap ingin tahu, yaitu memiliki sikap bertanya atau selalu penasaran terhadap sesuatu yang gelap, yang tidak wajar dan kesenjangan.
(2)  Skeptik, yaitu bersikap ragu terhadap pernyataan-pernyataan yang belum kuat dasar pembuktiannya.
(3)  Kritis, yaitu cakap dalam menunjukkan batas-batas soal, mampu menunjukkan perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan serta cakap menempatkan pengertian-pengertian yang tepat.
(4)  Obyektif, yaitu mementingkan sifat-sifat obyektif (tidak memihak).
(5)  Fre from etique, bahwa ilmu itu monologis, yaitu menilai apa yang benar dan apa yang salah, tetapi harus memperhatikan apa yang baik dan apa yang buruk bagi kemanusiaan.
Komponen-komponen ilmu
Ilmu pengetahuan pada hakekatnya memiliki beberapa komponen sebagai berikut:
(1)  Teori yaitu generalisasi yang telah diuji kebenarannya secara ilmiah.
(2)  Fakta, keadaan sebenarnya (empirik), yang diwujudkan dalam jalinan dua konsep atau lebih.
(3)  Fenomena, yaitu gejala dan kejadian yang ditangkap dengan panca indera, (penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan, perabaan), kemudian dijadikan konsep (istilah atau simbol) yang mengandung pengertian singkat dari fenomena.
(4)  Konsep, yaitu istilah atau simbul yang mengandung pengertian singkat dari fenomena.
Struktur ilmu Pengetahuan, terdiri dari
Konsep Dasar, --------------- Paradigma , Aksioma
Pengetahuan, ---------------- Data-data
Proses Ilmiah, ---------------- Ontologis Epistimologis Aksiologis
Ilmu Pengetahuan, ---------------- Dalil-dalil, hukum-hukum, teori-teori.
Pedoman/ Landasan, ------------------- Kebijakan / Pengambilan Keputusan Pemecahan Masalah.
Pendekatan untuk memperoleh kebenaran
Filsafat ilmu merupakan pengetahuan tentang hakikat kebenaran suatu ilmu. Filsafat mempelajari akal budi manusia, yang salah satu cirinya adalah selalu ingin tahu terhadap berbagai hal dan persoalan yang belum diketahui dan dipahaminya. Karena dorongan ingin tahu itulah, maka manusia selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti apa (what), mengapa (why), bagaimana (how).
Untuk memperoleh jawaban dan kebenaran dari berbagai pertanyaan tersebut diatas, ada 3 (tiga) pendekatan yang lazim digunakan, yaitu:
(1)  Penemuan kebenaran melalui pendekatan wahyu
Kebenaran yang didasarkan pada wahyu merupakan kebenaran (mutlak), karena didasari oleh keyakinan dan kepercayaan.
(2)  Penemuan kebenaran melalui pendekatan non-ilmiah
Penemuan kebenaran pengetahuan tidak selalu melalui prosedur dan proses ilmiah, tetapi juga bisa melalui pendekatan non ilmiah. Pendekatan kebenaran non ilmiah diperoleh melalui akal sehat, kebetulan, intuitif, trial and error, otoritas dan kewibawaan.
(3)  Penemuan kebenaran melalui pendekatan Ilmiah
Penemuan kebenaran melalui pendekatan ilmiah, yaitu kebenaran yang diperoleh dari proses berpikir dan prosedur ilmiah seperti yang dikemukakan diatas, yaitu diawali dengan merumuskan masalah, merumuskan kerangka pemikiran, merumuskan hipotesis, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan.




BAB II
KONSEP PENELITIAN

Pengertian antara Metode Penelitian dan Metodologi Penelitian.
Kata Metode Penelitian dan Metodologi Penelitian sering membingungkan peneliti karena keduanya sering digunakan secara bergantian atau dipertukarkan. Tidak jarang pengertian metode dikacaukan dengan pengertian metodologi. Digunakan istilah metodologi penelitian tetapi tetapi yang dimaksudkan adalah metode penelitian dan sebaliknya digunakan istilah metode penelitian tetapi yang dimaksud adalah metodologi penelitian.

Metode
       Metode (Yunani: Methodos) adalah cara atau jalan. Metode merupakan cara yang teratur untuk mencapai suatu maksud yang diinginkan. Sehubungan dengan upaya ilmiah, metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Oleh sebab itu metode dapat diartikan sebagai cara mendekati, mengamati dan menjelaskan suatu gejala dengan menggunakan landasan teori.
       Dalam arti luas, metode penelitian merupakan cara dan prosedur yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki suatu masalah tertentu dengan maksud mendapatkan informasi untuk digunakan sebagai solusi atas masalah tersebut. Cara dimaksud dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah yang terdiri dari berbagai tahapan atau langkah-langkah. Oleh karena itu metode merupakan keseluruhan langkah ilmiah yang digunakan untuk menemukan solusi atas suatu masalah. Dengan langkah-langkah tersebut, siapapun yang melaksanakan penelitian dengan mengulang atau menggunakan metode metode penelitian yang sama untuk obyek dan subyek yang sama akan memperoleh hasil yang sama pula.

Metodologi.
       Tiap cabang ilmu mengembangkan metodologi yaitu pengetahuan tentang berbagai cara kerja yang disesuaikan dengan obyek studi ilmu-ilmu yang bersangkutan. Secara etimologis, metodologi (berasal dari kata methodos = metode dan logos = ilmu) diartikan sebagai ilmu tentang metode (science of methode). Jika demikian metodologi penelitian adalah ilmu tentang metode penelitian.
       Signifikansi dari pengertian ini tergantung pada kata metode yang dapat diartikan secara terbatas yang hanya meliputi pengumpulan data dan analisis data atau dalam arti luas yang meliputi keseluruhan cara untuk melakukan penelitian. Jika metode menunjuk hanya pada berbagai sarana yang dengannya data dapat dikumpulkan dan atau dianalisis metodologi dihubungkan dengan isu-isu utama sebagai berikut: mengapa anda kumpulkan data tertentu, apa data yang anda kumpulkan, dimana anda kumpulkan data, bagaimana anda kumpulkan data, bagaimana anda menganalisisnya.
       Metodologi penelitianmerupakan ilmu yang mempelajari cara yang digunakan untuk menyelidiki masalah yang memerlukan pemecahan. Implisit dalam definisi metodologi adalah satu set prinsip-prinsipatau kriteria-kriteria yang dengannya para metodologist dapat menilai kebenaran  dari prosedur-prosedur penelitian. Hakikat metodologi penelitian  terletak bagaimana kita mengetahui. Jika ditanyakan apakah gaji dan iklim kerja mempengaruhi prestasi kerja pegawai, tentu anda menjawab ya. Namun ketika anda anda ditanya bagaimana mengetahui bahwa gaji dan iklim kerja mempengaruhi prestasi kerja, masalahnya menjadi lain. Sebelum seorang peneliti dapat memberikan penjelasan umum dan sahih terhadap perilaku, dia harus mengumpulkan informasi tentang perilaku yang menjadi perhatian.

Penelitian
       Definisi dari penelitian secara etimologis berasal dari kata “research” (bahasa Inggris) berasal dari kata “reserare” (bahasa latin) yang berarti mengungkapkan. Kata “research” (penelitia, riset) berasal dari kata “re” dan “to search”.Re berarti kembali dan “to search” berarti mencari. Jadi secara etimologis penelitian berarti mencari kembali. Namun makna yang terkandung dalam kata research jauh lebih luas dari pada sekedarmencari kembali atau mengungkapkan.
       Jadi walaupun penelitian merupakan sentral untuk penyelidikan dan pencarian solusi atas masalah-masalah dan kegiatan akademik, belum ada konsensus dalam literatur tentang bagaimana penelitian harus didefinisikan. Pengertian dapat berbeda untuk orang yang berbeda. Namun dari banyak definisi yang berbeda, ada beberapa hal yang disepakati yaitu penelitian adalah satu proses penyelidikan, sistematis dan metodis, penelitian sebagai solusi atas suatu masalah dan meningkatkan pengetahuan.

Mengapa mempelajari Metode Penelitian.
       Mahasiswa, dosen, profesional, pusat penelitian dan pemerintah banyak melakukan penelitian. Wartawan surat kabar dan televisi, rumah sakit, badan pelayanan sosial, partai politik, manajer bisnis, badan publik dan bisnis, lembaga penelitian pasar, departemen personalia dan lembaga swadaya masyarakat juga melakukan penelitian sebagai bagian dari pekerjaannya. Oleh karena itu setiap  organisasional disemua bidang memerlukan pelatihan dalam  metode penelitian. Para mahasiswa dapat menyusun skripsi, tesis dan desertasi atau tugas akhir dengan baik dan benar hanya jika mereka memiliki keterampilan dalam metode penelitian.



















BAB III
METODE PENELITIAN ILMIAH

       Pada hakikatnya penelitian bertujuan untuk memberi solusi atas suatu masalah dan mendapat pengetahuan tentang sesuatu yang dianggap benar melalui proses observasi. Tanpa penelitian, ilmu pengetahuan tidak akan berkembang dan membuat solusi atas suatu masalah sulit dipertanggungjawabkan. Sebelum ilmuwan dapat memberikan penjelasanumum dan sahih utuk perilaku, dia harus mengumpulkan informasi tentang perilaku yang menjadi perhatian. Sepanjang sejarah, orang telah sampai pada pemecahan masalah dan memperoleh pengetahuan tentang perilaku melalui penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah adalah penyelidikan yang sistematis, terkontrol, empiris dan kritis tentang fenomena-fenomena alami dengan dipandu oleh teori dan hipotesis-hipotesis tentang hubungan yang diduga terdapat antara fenomena-fenomena itu. Penelitian ilmiah menggunakan metode ilmiah sehingga disebut juga metode penelitian ilmiah (scientific research method).
       Penelitian ilmiah merupakan cara yang tepat untuk menemukan solusi suatu masalah dan untuk mendapatkan pengetahuan. Penelitian ilmiah merupakan usaha untuk memperoleh informasi tentang suatu masalah melalui pengamatan empiris yang dapat digunakan untuk pengembangan secara sistematis dan menetapkan dalil-dalil yang berkaitan secara logis untuk menetapkan hubungan sebab akibat diantara variabel-variabel. Karena merupakan aplikasi dari metode ilmiah penelitian  ilmiah berlangsung dalam suatu tahap secara berurutan dan paralel dengan tahap- tahap dalam metode ilmiah. Tahap tersebut harus dianggap sebagai patokan utama yang dalam penelitian sesungguhnya mungkin saja berkembang berbagai variasi sesuai dengan bidang dan permasalahan yang diteliti.
       Penelitian ilmiah merupakan cara tepat untuk memecahkan masalah karena merupakan penyelidikan yang sistematis, terkontrol, empiris dan kritis tentang fenomena-fenomena alami dengan dipandu oleh teori dan hipotesis-hipotesis tentang hubungan yang diduga terdapat antara fenomena-fenomena itu.Tidak setiap penelitian ilmiah mesti dipandu oleh teori dan hipotesis-hipotesis mengenai hubungan-hubungan yang diduga terdapat antara gejala-gejala. Namun setiap penelitian ilmiah memiliki beberapa ciri sebagai berikut:
1.    Bertujuan (purposivenees). Tiap penelitian ilmiah harus ada tujuannya, baik untuk menemukan jawaban atas suatu masalah-masalah yang berguna untuk pengembangan ilmu maupun untuk pembuatan keputusan. Contoh: memusatkan pada peningkatan komitmen pegawai kepada organisasi, akan membantu organisasi dalam berbagai cara. Peningkatan dalam komitmen pegawai akanberarti berkurangnya turnover, berkurang kemangkiran, dan kemungkinan tingkat kinerja meningkat, yang semuanya akan menguntungkan organisasi. Jadi penelitian memiliki satu fokus tujuan.
2.    Sistematis (sistematic), artinya penyelidikan ilmiah tertata dengan cara tertentu sehingga penyelidik dapat memiliki keyakinan  kritis atas hasil penelitiannya. Penelitian ilmiah memiliki suatu struktur. Struktur ini pada dasarnya merupakan satu perangkat kerangka petuntuk mengenai  urutan tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh peneliti. Urutan tahapan kegiatan tersebut berlangsung dalam suatu proses secara berurutan (tahap yang satu tidak boleh melangkahi tahap-tahap sebelumnya untuk langsung ke tahap berikutnya) yang dirumuskan secara jelas, logis antara tahap yang satu dan tahap yang lainnya sehingga memudahkan untuk memeriksa relevansi hasil yang didapat dengan cara yang digunakan untuk mendapatkan hasil tersebut.
3.    Empiris (empirical). Ini berarti bahwa pendapat atau keyakinan subyektif harus diperiksa dengan menghadapkannya pada realitas objectif atau melakukan telaah dan uji empiris. Masalah-masalah yang diteliti adalah masalah yang bersifat empiris. Oleh karenaitu, data terdiri atas pengalaman-pengalaman peneliti dengan orang, benda, gejala, atau peristiwa-peristiwa. Ini berarti bahwa materi mentah diperoleh melalui observasi sistematis atas realita. Data empiris digunakan sebagai solusi masalah sehingga penelitian empiris telah menjadi padanan untuk penelitian ilmiah.
4.    Objectivitas (objectivity). Seluruh proses penelitian, khususnya kesimpulan yang ditarik melalui interprestasi hasil analisis data, harus obyektif yaitu harus berdasarkan pada fakta yang dihasilkan dari kata aktual dan tidak pada subyektif pribadi atau nilai-nilai emosional. Singkatnya, mutu pengamatan dan pengakuan atas fakta sebagaimana adanya dan bukan sebagaimana yang diharapkan seseorang akan terjadi.
5.    Kritis (critics). Hasil penelitian terbuka untuk dikritisi, diperiksa, atau diuji terhadap realitas yang obyektif melalui penelitian dan pengujian lebih lanjut. Oleh karana itu, kritis berarti juga ada tolok ukur atau kriteria yang digunakan untuk menentukan sesuatu yang dapat diterima secara eksplisit atau implisit. Sebagai contoh: tolok ukur dalam menetapkan hipotesis, menentukan subyek dan besarnya sampel, memilih metode pengumpulan data dan analisis data, dan sebagainya.
6.    Generalisabilitas (generalizability) adalah derajat sejauh mana temuan temuan spesifik dapat diterapkan kesatu kelompok yang lebih besar yang disebut populasi atau derajat sejauh mana temuan dapat digeneralisasi kepopulasi yang lebih luas.
7.    Replikabilitas (replicability), yaitu replikasi atau pengulangan penelitian oleh peneliti lainnya untuk mengukuhkan penemuan-penemuan atau memeriksa kebenarannya, baik untuk latar yang sama ataupun untuk latar yang berbeda. Hal ini dapat dilakukan karena penelitian ilmiah memiliki suatu struktur. Untuk dapat diulangi, data yang diperoleh dalam satu eksperimen harus reliabel, yaitu hasil yang sama harus ditemukan jika studi dulangi. Jika observasi tidak dapat diulangi, deskripsi dan penjelasan kita menjadi tidak reliabel dan karenanya tidak berguna.
Proses Penelitian Ilmiah.
       Proses Penelitian ilmiah adalah tahapan-tahapan yang dilakukan secara sistematis dan berurutan untuk mengerjakan suatu penelitian. Itu adalah satu rangkaian tahapan yang dirancang dan diikuti, dengan sasaran penemuan jawaban untuk isu-isu yang menjadi perhatian dalam lingkungan sosial dan kerja. Tahap-tahap dalam penelitian suatu proyek penelitian termasuk skripsi, tesis, desertasi adalah sebagai berikut:
Tahap pertama proses penelitian kuantitatif adalah pemilihan dan perumusan masalah.
Tahap kedua adalah pengembangan kerangka teoritis dan rumusan hipotesis.
Tahap ketiga adalah menentukan desain penelitian
Tahap keempat adalah pengukuran (measurement)
Tahap kelima tentukan subyek (populasi dan sampel)
Tahap keenam adalah pengumpulan data
Tahap ketujuh adalah analisis data
Tahap kedelapan melakukan interpretasi atau pembahasan
Tahap ke sembilan adalah melaporkan hasil penelitian.
Tipe Penelitian
       Menentukan tipe penelitian atau jenis penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menggambarkan dan menjelaskan suatu fenomena atau masalah tidaklah mudah. Adanya berbagai ragam klasifikasi tipe penelitian menunjukkan  belum ada kesamaan klasifikasi dari para ahli metodologi penelitian. Klasifikasi tipe penelitian tampak seperti tabel berikut:
Dimensi Klasifikasi
Tipe Penelitian
Paradigma
-       Kuantitatif
-       Kualitatif
Manfaat/ Maksud atau hasil akhir
-       Dasar
-       Terapan
*Evaluasi
*Pengembangan
*Tindakan
Tujuan
-       Eksplorasi
-       Deskripsi
-       Eksplanasi
-       Prediksi
Waktu
-       Lintas-seksional
-       Longitudinal
*Seri-waktu
*Pengembangan
*Studi Panel
*Studi Kasus
Subyek
-       Populasi
-       Sampel





BAB IV
MASALAH PENELITIAN

Definisi Masalah Penelitian.
       Awal dari suatu penelitian adalah masalah. Istilah masalah mengimplikasikan adanya suatu teka-teki yang harus dipecahkan. Masalah merupakan suatu kesulitan yang dirasakan, suatu perasaan yang tidak menyenangkan atas suatu situasi atau gejala tertentu. Jika ada keraguan, kesangsian, kebingungan atau kemenduaan tentang suatu fenomena, itu dianggap suatu masalah penelitian. Setiap situasi yang didalamnya terdapat ketaksesuaian antara aktual dan ideal diharapkan atau antara apa yang ada seharusnya  ada dapat disebut sebagai masalah.
       Sebagai contoh “Apakah kelas sosial mempengaruhi perilaku memilih?” adalah masalah yang dapat diinvestigasi melalui penelitian ilmiah.
Topik Penelitian
       Walaupun dalam permulaan penelitian adalah masalah, hal itu harus ditentukan secara jelas dan tepat berkaitan dengan topik atau bidang apa. Memilih satu topik penelitian, kadang-kadang disebut sebagai fokus untuk studi, ide-ide penelitian, isu penelitian, masalah penelitian, merupakan langkah awal yang kita lakukan ketika mempersiapkan satu rencana penelitian, tidak terkecuali ketika memulai satu proyek penelitian, skripsi, tesis dan desertasi. Topik penelitian merupakan konsep utama yang dibahas dalam suatu penelitian dan penulisan ilmiah.
       Topik atau fokus atau isu-isu penelitian merupakan wilayah umum dari penelitian.Biasanya para peneliti menggunakan isu-isu teoritis umum dan hal-hal praktek atau yang membingungkan secara empiris sebagai sumber dari topik. Fokus penelitian dapat muncul dari tinjauan literatur secara ekstensif, dianjurkan oleh rekan, peneliti atau pembimbing atau dikembangkan melalui pengalaman nyata. Topik merupakan konsep sentral yang dijelaskan dalam studi (sering dipertukarkan dengan judul penelitian) dan sangat penting kedudukannya dalam penelitian. Kebiasaan pertanyaan yang diajikan kepada peneliti umumnya atau kepada mahasiswa penyusun skripsi, tesis atau desertasi adalah “apa topik penelitian anda?”.
       Tidak ada formula untuk memilih satu topik penelitian. Namun apakah anda adalah seorang peneliti berpengalaman atau hanya pemula, panduan terbaik adalah melakukan penelitian tentang sesuatu yang anda minati dan layak diteliti. Untuk menentukan apakah satu topik layak diteliti dibutuhkan kriteria untuk membuat keputusan. Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat diajukan oleh peneliti ketika mereka merencanakan suatu penelitian.
-       Adakah topik dapat diteliti, waktu tertentu, sumber-sumber dan ketersediaan data?
-       Adakah kepentingan pribadi dalam topik untuk mendukung perhatian?
-       Akankah hasil dari penelitian berguna bagi yang lain?
-       Adakah topik mungkin diterbitkan dalam suatu jurnal ilmiah?
-       Apakah penelitian (a) mengisi suatu kekosongan (b) replikasi atau mengulang (c) memperluas atau (d) mengembangkan ide-ide baru dalam literatur ilmiah?
-       Akankah proyek penelitian tersebut menyumbang pada tujuan karier?
       Peneliti harus mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan ini dan meminta tanggapan orang lain mengenai topik tersebut. Mintalah tanggapan dari rekan, terutama dari pihak yang memiliki kompetensi di bidang tersebut, pembimbing akademik, dosen atau program studi.
Dari topik kemasalah penelitian.
       Para peneliti tidak mengadakan penelitian tentang satu topik, meskipun satu topik adalah titik permulaan esensial atau permulaan saat anda memulai penelitian. Tetapi peneliti melakukan penelitian tentang masalah sehingga dapat dibuat solusi atas masalah tersebut. Penelitian mulai dengan satu masalah dengan satu situasi problematis. Satu topik hanya sebagai satu awal permulaan penelitian sehingga peneliti harus mengubah topik ke satu pertanyaan penelitian spesifik.
Sumber Topik dan Masalah Penelitian.
       Dari mana anda menemukan topik atau masalah penelitian? Tidak ada jawaban yang definitif terhadap pertanyaan ini. Namun umumnya ada dua sumber informasi tentang satu topik dan masalah penelitian yakni sumber teoritis dan praktis.
1)    Sumber Teoritis
Seseorang mungkin menemukan satu ide atau masalah penelitian bersumber dari teori atau tinjauan literatur. Masalah penelitian yang bersumber dari teori atau tinjauan literatur ditemukan dalam berbagai sumber bahan tertulis yang dikelompokkan atas secondary sources material, seperti buku teks dan primary sources materials, seperti monograph, jurnal profesional, abstrak atau statistik.
Laporan-laporan penelitian yang dipublikasi atau tidak dipublikasi juga merupakan sumber masalah penelitian karena dari suatu penelitian biasanya dapat ditemukan hal yang perlu diteliti lebih lanjut (mungkin direkomendasikan peneliti untuk diteliti lebih lanjut oleh orang lain) atau dijumpai masalah-masalah baru yang perlu diteliti.
2)    Sumber Praktis.
Sering ide penelitian muncul dari kebutuhan untuk memecahkan masalah-masalah praktek. Peneliti menemukan masalah dari kejadian empiris terutama untuk penelitian terapan problem oriented. Ide atau masalah praktek dapat diperoleh melalui pengalaman pribadi peneliti atau dari hasil studi pendahuluan atau penjajakan, baik yang dilakukan melalui observasi sistematis atau tak sistematis. Observasi tak sistematik diperoleh secara kebetulan atas suatu kejadian. Observasi sistematis mungkin dilakukan secara khusus
Motivasi memilih masalah penelitian.
       Umumnya sumber-sumber utama dari ide-ide atau isu-isu atau masalah- masalah penelitian adalah pengalaman praktek atau pragmatis (seperti dari pengamatan setiap hari perilaku) dan konsiderasi teoritis (seperti membaca jurnal ilmiah atau melakukan telaah pustaka).
       Memilih masalah yang bersumber dari teori atau praktek ditentukan oleh motivasi peneliti melakukan penelitian. Semua peneliti memiliki motivasi untuk apa penelitian yang mereka lakukan. Ada motivasi kepentingan teoritis dan ada motivasi kepentingan praktis. Motivasi kepentingan teoritis ialah bahwa ada suatu alasan abstrak atau keilmuan untuk melakukan penelitian. Dengan kata lain biasanya ada suatu teori yang terdapat pada suatu bidang ilmu tertentu yang ingin diketahui lebih mendalam oleh peneliti. Peneliti mungkin ingin menguji, memperbaiki, mengubah, atau menjelaskan gagasan-gagasan yang disajikan dalam suatu rancangan atau teori atau mungkin mau mencoba menetapkan suatu teori.
       Motivasi kepentingan praktis berkenaan dengan suatu motivasi yang mempunyai penerapan segera kepada kegiatan yang berlangsung. Seorang psikolog keluarga mungkin ingin mengetahui apa yang menyebabkan perceraian, pekerja sosial mungkin mau mengetahui bagaimana mencegah rantai kemiskinan yang mengikat banyak orang terhadap cara-cara hidup yang tidak menguntungkan secara ekonomis, atau ahli kependudukan mungkin mau mengetahui mengapa orang menginginkan  jumlah anggota keluarga tertentu.
Pertimbangan memilih masalah penelitian.
       Memilih masalah untuk dijadikan sebagai suatu masalah penelitian tidaklah mudah. Ada banyak topik dan masalah tetapi belum tentu semuanya layak untuk diteliti dan bahkan belum tentu sesuai dengan bidang keahlian dan secara khusus menarik untuk diteliti. Ada sejumlah pertimbangan bagi peneliti untuk memilih satu masalah penelitian; diminati, merupakan masalah penelitian, memiliki karakteristik masalah yang baik dan memenuhi kelayakan masalah.
1)    Diminati
Pertimbangan pertama adalah memilih satu topik dan masalah yang diminati yang akan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman dalam bidang profesional tertentu yang membuat anda menjadi lebih baik. Jika masalah bersumber dari teori, konfirmasi ke situasi empiris dimana masalah tersebut diduga terjadi sehingga dapat dipastikan kelayakan masalahnya. Sebaliknya jika masalah bersumber dari praktek periksa di bidang teoritis, perlu diketahui apakah tersedia teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan masalah tersebut. Ketersediaan teori menentukan apakah masalah layak diteliti.
2)    Merupakan masalah penelitian
Pertimbangan kedua adalah bahwa masalah yang akan dipilih adalah masalah penelitian. Disebut masalah penelitian jika paling tidak memiliki tiga kondisi, yaitu antara harapan dan kenyataan, ada satu pertanyaan tentang mengapa ada dua atau lebih jawaban yang mungkin untuk yang dipertanyakan. Sebagai contoh: mengapa kinerja karyawan menurun? Jawaban atas masalah ini dapat bervariasi. Mungkin jumlah insentif yang diberikan tidak sesuai dengan keinginan karyawan, mungkin jenis insentif yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan karyawan, mungkin sistem penerapan insentif tidak adil, mungkin iklim organisasi tidak kondusif atau mungkin motivasi kerja menurun.
Tidak semua masalah adalah masalah penelitian atau tidak semua masalah secara empiris dapat diteliti. Ada juga masalah tetapi bukan masalah penelitian yakni suatu masalah yang sebelum dilakukan penelitian sudah dapat diketahui secara pasti jawaban dari masalah tersebut karena tidak ada alternatif lain. Oleh karena itu tanpa mengadakan penelitian solusi atas masalah tersebut dapat dibuat.
3)    Memiliki karakteristik dari masalah penelitian yang baik
Pertimbangan ketiga adalah masalah yang dipilih harus memiliki karakteristik masalah yang baik, ada tiga karakteristik yang baik
a)    Dapat diteliti, satu masalah yang dapat diteliti adalah dapat diselidiki melalui pengumpulan data dan analisis data
b)    Mempunyai signifikansi teoritis dan pragmatis. Masalah sangat signifikan jika diturunkan dari teori, bahkan jika masalah bukan teoritikal, bagaimanapun, solusinya harus berkontribusi dalam beberapa cara untuk memperbaiki masalah-masalah yang ada.
c)    Bahwa masalah tersebut adalah masalah yang baik untuk diteliti dan sesuai dengan tingkat ketrampilan penelitian dan tersedian sumber-sumber dan waktu yang dimiliki.
4)    Memenuhi kelayakan masalah penelitian
Tidak semua masalah penelitian dapat dijadikan permasalahn untuk diteliti. Meskipun masalah penelitian telah memiliki karakteristik masalah yang baik masih perlu diklasifikasi melalui kriteria pertimbangan kelayakan masalah. Kriteria ini perlu bukan saja agar peneliti lebih mengenal masalah penelitiannya, melainkan juga dapat menghilangkan atau mengurangi kesulitan yang mungkin timbul dalam tahap penelitian berikutnya. Ada empat kriteria pertimbangan kelayakan masalah, yakni masalah, peneliti, pemecahan dan hasil.
a)    Masalah
Dari masalah dapat dipertanyakan apakah ada kebutuhan yang dirasakan yang tidak menyenangkan hingga perlu dilakukan sesuatu untuk mengatasi atau mencari solusi atas masalah tersebut dan apakah masalah tersebut merupakan masalah baru atau telah kadaluarsa? Jika situasi yang tidak menyenangkan tersebut memerlukan solusi untuk tindakan perbaikan, dan merupakan sesuatu yang baru, masalah tersebut layak dipilih untuk diteliti. Bahwa masalah harus jelas dan spesifik, dikemukakan dengan bahasa yang lugas sehingga tidak menimbulkan keraguan tentang arti masalah yang dikemukakan.
b)    Peneliti
Dari peneliti dapat diajukan pertanyaan apakah masalah tersebut sesuai dengan minat dan perhatian peneliti dan menarik untuk diteliti? Ini berhubuingan dengan motivasi peneliti sebagai aspek esensial untuk keberhasilan melakukan penelitian. Kemudian apakah masalah tersebut dapat diteliti oleh peneliti dihubungkan dengan persoalan-persoalan keterbatasan biaya, waktu yang tersedia, kemampuan penguasaan teori dan metodologi penelitian?
c)    Pemecahan
Dari pemecahan masalah dapat dipertanyakan apakah tersedia teori atau kerangka teoritis yang dapat digunakan untuk menjelaskan masalah, apakah tersedia data dan tidak akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan data, apakah tersedia alat pengumpul data dan teknik analisis untuk memecahkan masalah? Jika jawaban atas pertanyaan di atas adlah ya, masalah tersebut layak dijadikan masalah penelitian.
d)    Hasil
Dari hasil dapat dipertanyakan apakah hasil penelitian berguna untuk pemecahan masalah praktis atau memperbaiki  kondisi empiris yang dihadapi atau sebagai rekomendasi kebijakan yang berguna bagi masyarakat yang berkepentingan dan apakah juga memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu terutama pada bidang ilmu yang relevan dengan landasan teori yang digunakan? Jika jawabannya ya masalah tersebut layak dipilih sebagai masalah penelitian.
Perumusan Masalah
Setelah isu atau masalah perilaku untuk diteliti dipilih apakah teori atau praktis atau keduanya, tahap selanjutnya adalah merumuskan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang dihubungkan dengan topik atau isu-isu yang selanjutnya akan diuji secara empiris. Ini disebut sebagai perumusan masalah atau kadang-kadang disebut definisi masalah. Perumusan masalah adalah konteks penelitian yang mengarahkan pelaksanaan dan pencapaian tujuan penelitian. Peneliti memusatkan perhatian pada masalah atau pertanyaan penelitian. Namun seorang peneliti tidak selalu mampu merumuskan masalah penelitiannya secara sederhana, tepat, jelas dan lengkap. Masalah penelitian merupakan situasi problematis yang perlu dipecahkan, baik untuk tujuan teoritis, pengembangan ilmu maupun untuk tujuan pragmatis.
       Memiliki satu masalah dalam suatu penelitian adalah tidak cukup. Anda harus menterjemahkan masalah tersebut ke dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian yang baik. Pertanyaan penelitian adalah krusial. Tidak adanya pertanyaan penelitian atau pertanyaan penelitian yang dirumuskan secara buruk akan berdampak pada buruknya penelitian. Jika pertanyaan penelitian tidak spesifik dan jelas, ada resiko yaitu penelitian akan menjadi tidak fokus dan bahwa akan menjadi tak pasti tentang apa penelitian serta tentang dan untuk apa data yang dikumpulkan. Juga tidak jelas tentang bagaimana merancang kuesioner dan keterampilan wawancara.
       Konsiderasi yang perlu diperhatikan ketika mengembangkan pertanyaan penelitian untuk skripsi, tesis, desertasi atau proyek adalah
1)    Jelas, dapat dimengerti oleh anda dan orang lain
2)    Dapat diteliti, harus kapabel berkembang dalam satu rancangan penelitian sehingga data dapat dikumpulkan dalam hubungan dengan pertanyaan penelitian.
3)    Berhubungan dengan penetapan teori dan penelitian, harus ada literatur yang dapat ditarik untuk membantu menjelaskan bagaimana pertanyaan penelitian harus didekati, juga untuk memberikan atau memperlihatkan bagaimana penelitian dapat memberi kontribusi untuk pengetahuan dan pemahaman.
4)    Berhubungan dengan yang lain, pertanyaan-pertanyaan penelitian yang tidak bertalian tidak mungkin dapat diterima.
5)    Memiliki potensi untuk pembuatan satu kontribusi untuk pengetahuan, perlu paling sedikit prospek untuk mampu membuat kontribusi bagiamanapun kecilnya untuk topik yang menjadi bahasan.
6)    Spesifik, memiliki presisi dan tidak mendua, rumusan masalah harus mencakup analisis unsur-unsur yang paling sederhana, ruang lingkup dan batasan-batasannya dan spesifikasi terperinci dari arti semua kata yang berarti dalam penelitian.
Karakteristik perumusan masalah
Merumuskan masalah yang benar dan baik tidak cukup hanya menggunakan intuisi maupun pengalaman sendiri. Penguasaan teori dan juga pengetahuan tentang hasil penelitian orang lain, baik yang telah dipublikasi maupun yang belum, yang ada kaitan dengan masalah yang akan diteliti, adalah sangat diperlukan untuk dapat merumuskan masalah penelitian dengan tajam dan baik. Tajam berarti masalah yang menjadi obyek penelitian jelas, sedang baik berarti masalah tersebut dapat diangkat menjadi obyek penelitian dan berguna bagi kepentingan masyarakat dan pengembangan teori. Untuk itu, peneliti harus bersikap kritis dalam membaca, mendengar dan berpikir serta harus mampu mengungkap kembali gagasan-gagasan dari penelitian-penelitian dan bacaan-bacaan mutakhir. Dengan mengingat kesulitan merumuskan masalah, Kerlinger mengemukakan “Jika kita hendak memecahkan suatu masalah, kita harus secara umum mengetahui apa masalahnya. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar pemecahannya terletak pada pengetahuan kita tentang hal yang sedang kita coba mengerjakannya, Sebagian lagi terletak pada pengetahuan tentang sifat hakikat suatu masalah, khususnya sifat hakikat suatu masalah ilmiah”.









BAB V
TINJAUAN PUSTAKA

       Tahap berikutnya dari rangkaian penelitian yang dilakukan adalah peneliti melakukan apa yang disebut dengan tinjauan pustaka, yaitu mempelajari buku-buku referensi dan hasil penelitian sejenis sebelumnya yang pernah dilakukan oleh orang lain. Tujuannya adalah untuk mendapatkan landasan teori mengenai masalah yang akan diteliti. Teori merupakan pijakan bagi peneliti untuk memahami persoalan yang akan diteliti dengan benar sesuai dengan kerangka berpikir ilmiah.
Tinjauan Pustaka dalam penelitian
       Setelah satu masalah dipilih, digambarkan, dinyatakan secara jelas, menurut Gay dan Diehl, peneliti siap untuk melakukan telaah literatur yang berhubungan dan siap merumuskan hipotesis. Telaah pustaka atau literatur (juga disebut survai literatur) adalah proses melokasi, memperoleh, membaca dan mengevaluasi literatur penelitian dalam bidang yang diminati. Alasan utama untuk perlu melakukan telaah literatur adalah untuk menghindari duplikasi, membantu merancang tahap penelitian dan membantu untuk memperbaharui empiris yang baru atau kontroversi teoritis dalam satu bidang penelitian tertentu. Perancanangan satu studi meliputi keputusan seperti apa variabel yang dicakup dan bagaimana mengukur, apa alat yang digunakan, apa prosedur yang digunakan dan sebagainya.
       Melakukan telaah pustaka merupakan satu tahap dalam prses penelitian dan menjadi satu elemen penting dalam format rencana penelitian yang dibuat dalam satu seksi terpisah untuk satu model penelitian.
       Rencana penelitian manapun yang diikuti dalam suatu penelitian, sangat pasti bahwa telaah literatur meliputi identifikasi sistematis, lokasi dan analisis dokumen-dokumen meliputi indeks periodik atau jurnal, abstrak, telaah, buku, materi statistik dan laporan penelitian lain yang memuat informasi yang berhubungan dengan masalah penelitian. Tujuan utama telaah literatur adalah menentukan apakah peneliti siap berhubungan dengan lapangan yang dipilih. Pengetahuan ini tidak hanya menghindarkan duplikasi tak sengaja tetapi juga menyediakan pemahaman dan wawasan yang berguna untuk pengembangan suatu kerangka logis yang didalamnya masalah telah dirumuskan.
       Telaah literatur digunakan untuk membangun kerangka teoritis yang berhubungan dengan lapangan yang diteliti. Hubungan antara survei literatur dan kerangka teoritis dapat dijelaskan sebagai berikut. Telaah literatur atau survei literatur, memberikan satu pondasi yang solid untuk pengembangan kerangka teoritis. Survei literatur mengidentifikasi variabel yang mungkin penting, seperti ditentukan oleh temuan-temuan penelitian. Kerangka teoritis merupakan pondasi yang didalamnya seluruh proyek penelitian didasarkan. Manfaatnya adalah pertama, menentukan siapa dan apa yang akan atau tidak akan dikaji, kedua, menegaskan adanya beberapa hubungan.
Setelah membangun kerangka teoritis atau telaah literatur, formulasi dan rumusan hipotesis kemudian dibuat. Hipotesis diformulasi dari kerangka teoritis atau mengikuti telaah literatur yangb berhubungan. Tujuan pokok dari telaah literatur bukan hanya membantu memformulasi hipoteis melainkan juga membantu untuk merumuskan satu tujuan atau pertanyaan penelitian yang jelas.
       Fungsi lain dari telaah pustaka adalah menunjukkan strategi penelitian dan prosedur khusus dan pengukuran instrumen dalam penyelidikan masalah. Akhirnya telaah pustaka juga berfungsi memudahkan interpretasi hasil penelitian. Hasil dapat didiskusikan dalam istilah tentang apakah setuju dengan dan mendukung temuan-temuan sebelumnya atau tidak. Jika hasilnya bertentangan dengan temuan-temuan sebelumnya, perbedaan antara hasil penelitian kita dan yang lain dapat digambarkan, memberi rasionalisasi untuk ketidaksesuaian. Jika hasil temuan kita konsisten dengan temuan yang lain atau sebelumnya, laporan hasil penelitian kita harus memasukkan sugesti atau saran untuk tahap berikutnya. Sedangkan jika tidak konsisten, laporan hasil penelitian kita harus memasukkan saran untuk penelitian atau studi yang akan memecahkan konflik itu.
       Jadi fungsi dan tujuan utama telaah pustaka bukan saja untuk membantu menentukan masalah, merumuskan masalah dan menyusun kerangka teoritis melainkan juga untuk menentukan strategi dan prosedur spesifik penelitian dan instrumen pengukuran yang mungkin digunakan dalam proses penyelidikan, pilihan atas metode pengumpulan data dan analisis data dan juga untuk interpretasi. Singkatnya telaah pustaka dan teori penting  dan dibutuhkan untuk seluruh proses penelitian.
Kerangka Teoritis
       Kerangka teoritis merupakan satu komponen penting dalam penelitian. Setiap tahap perumusan masalah, tahap berikutnya adalah peneliti memberi penjelasan atas masalah penelitian yang dirumuskan. Penjelasan teoritis atas masalah empiris disebut kerangka teoritis. Penjelasan dilakukan dengan menggunakan teori-teori. Teori berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa dan bagaimana suatu masalah empiris. Teori yang digunakan untuk menjelaskan masalah harus relevan dengan konteks dan isi.
       Kerangka teoritis didefinisikan sebagai satu model konseptuan tentang bagaimana teori dari satu hubungan antara masing-masing faktor yeng telah diidentifikasi sebagai penting untuk masalah. Kerangka teoritis adalah suatu kumpulan teori dan model dari literatur yang menjelaskan hubungan dalam masalah tertentu. Dari kerangka teoritis, hipotesis dapat dirumuskan untuk melihat kebenaran atau ketidakbenaran penjelasan teoritis sebagaimana dikemukakan dalam kerangka teoritis. Dalam kerangka teoritis , secara logis dikembangkan, digambarkan dan dielaborasi jaringan-jaringan dari asosiasi antara variabel-variabel yang diidentifikasi melalui survei atau telaah literatur.
       Membangun kerangka teoritis dalam suatu penelitian dimaksudkan untuk menggambarkan dan menjelaskan satu fenomena atau hubungan antara dua atau lebih fenomena atau kejadian atau perilaku. Membangun kerangka teoritis akan membantu meningkatkan pengetahuan dan pengertian peneliti terhadap gejala dan hubungan antar gejala yang diamati. Teori bukan hanya membantu menjawab pertanyaan apa karakteristik suatu fenomena tertentu melainkan juga menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana hubungan antara satu fenomena dengan fenomena lain. Seorang peneliti misal ingin menjelaskan tingkat pendapatan seseorang. Melalui survei literatur dia memiliki suatu teori sebagai berikut: “Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin tinggi pula tingkat pendapatannya”. Jadi berdasarkan teori tersebut, diketahui tingkat pendidikan seseorang dan berdasarkan tingkat pendidikan dapat diprediksi tingkat pendapatannya.
Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala dari obyek permasalahan, alur pemikiran yang logis dalam membangunkerangka berpikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis.
       Kesimpulan tentang hubungan antar variabel yang disusun berdasarkan teori yang telah diuji kebenarannya, selanjutnya digunakan alat analisis dengan sistematis sehingga menghasilkan kesimpulan tentang hubungan antara variabel yang diteliti dan akhirnya digunakan merumuskan hipotesis. Kerangka Pemikiran memuat alur dalam bentuk diagram alir (flow chart) berikut penjelasannya.
Kerangka konseptual
       Apabila kerangka pemikiran adalah alur pemikiran yang bersifat menyeluruh, kerangka konseptual adalah merupakan kerangka berpikir yang lebih rinci, mengenai variabel-variabel yang terlibat, hubungan antar variabel serta akan muncul hipotesis-hipotesis yang diperlukan dalam penelitian. Kerangka konseptual awalnya berangkat dari pengembangan konsep-konsep yang telah diuraikan dalam landasan teori dan penjabaran dari kerangka pemikiran yang telah dibuat sebelumnya.










BAB VI
HIPOTESIS
       Hipotesis merupakan satu tipe proposisi yang langsung dapat diuji. Karena itu, hipotesis selalu mengambil bentuk atau dinyatakan dalam kalimat pernyataan dan dalam pernyataan  ini secara umum dihubungkan satu atau lebih variabel dengan satu atau lebih variabel lain. Satu hipotesis adalah satu pernyataan atau jawaban tentativ tentang hubungan antara dua atau lebih variabel. Ia merupakan jawaban atau dugaan atau penjelasan sementara tentang perilaku, atau gejala  atau keadaan sebagaimana dikemukakan dalam rumusan masalah. Ia merupakan satu pernyataan tentatif tentang hubungan antara dua variabel (independen dan dependen) dan hubungan tersebut dapat diuji secara empiris. Perhatikan beberapa definisi hipotesis berikut.
1.  Hipotesis adalah pernyataan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih.
2.  A hyphotesis is a proposition that is stated in testable form and predicts a particular relationship two or more variable.
3.  An hyphotesis can defined as a logically conjectured relationship between two or more variable expressed to in the form of tastable statements
4.  Hypotheses are tentative answers research problem
       Jadi hipotesis adalah pernyataan atau jawaban tentatif atas masalah dan kemudian hipotesis dapat diverifikasi hanya setelah hipotesis diuji secara empiris. Tujuan pengujian hipotesis  ialah untuk mengetahuai kebenaran atau ketidak benaran atau menerima atau menolak jawaban tentatif
Pentingnya hipotesis.
       Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian ilmiah. Ada tiga alasan utama yang mendukung pandangan ini. Pertama, hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis dapat dirunut dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti. Kedua, hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar. Ketiga, hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan karena membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri, artinya hipotesis disusun dan diuji untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat peneliti yang menyusun dan mengujinya. Disamping itu hipotesis juga memiliki fungsi penting dalam penelitian yaitu untuk menguji teori, mendorong munculnya teori, menerangkan fenomena sosial, sebagai pedoman untuk mengarahkan penelitian dan memberi kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan.
       Walaupun hipotesis penting sebagai arah dan pedoman kerja dalam penelitian, tidak semua penelitian mutlak harus memiliki hipotesis. Penggunaan hipotesis dalam suatu penelitian didasarkan pada masalah atau tujuan penelitian. Dalam masalah atau tujuan penelitian tampak apakah penelitian menggunakan hipotesis atau tidak. Penelitian eksplorasi yang tujuannya untuk menggali dan mengumpulkan sebanyak mungkin data atau informasi tidak menggunakan hipotesis. Akan halnya penelitian deskriptif, ada yang berpendapat tidak menggunakan hipotesis sebab hanya membuat deskripsi atau mengukur secara cermat tentang fenomena yang diteliti, tetapi ada juga yang menganggap penelitian deskriptif dapat menggunakan hipotesis. Sedangkan dalam penelitian penjelasan yang bertujuan menjelaskan hubungan antar variabel adalah keharusan untuk menggunakan hipotesis.
Hubungan antara Teori dan Hipotesis.
       Hipotesis adalah satu jenis proposisi, yang dirumuskan sebagai jawaban tentatif atas suatu masalah dan kemudian diuji secara empiris. Sebagai satu jenis proposisi, umumnya hipotesis menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih varaibel yang didalamnya pernyataan-pernyataan hubungan tersebut telah diformulasikan dala kerangka teoritis. Hipotesis diformulasi, diturunkan atau bersumber dari teori dan tinjauan literatur yang berhubungan dengan masalah.
       Pernyataan hubungan antara variabel, sebagaimana dirumuskan dalam hipotesis, merupakan dugaan sementara atas suatu masalah yang didasarkan pada jaringan asosiasi yang telah dijelaskan dalam kerangka teoritis yang diformulasi untuk menjelaskan masalah penelitian. Sebab teori yang tepat akan menghasilkan hipotesis yang tepat untuk digunakan sebagai jawaban sementara atas masalah yang diteliti atau dipelajari. Dalam penelitian kuantitatif, peneliti menguji satu teopri. Untuk menguji teori tersebut, peneliti menguji hipotesis yang diturunkan dari teori. Agar teori yang digunakan sebagai dasar penyusunan hipotesis dapat diamati atau diukur dalam kenyataan empiris, teori tersebut harus dijabarkan ke dalam bentuk yang konkret yang dapat diamati dan diukur. Cara yang umum digunakan ialah melalui proses operasionalisasi, yaitu menurunkan tingkat keabstrakan suatu teori menjadi tingkat yang lebih konkret yang menunjuk fenomena empiris atau ke dalam bentuk proposisi yang dapat diamati atau dapat diukur. Proposisi yang dapat diukur atau diamati adalah proposisi yang menyatakan hubungan antar variabel. Proposisi inilah yang dinamakan hipotesis.
Karakteristik Hipotesis.
       Satu hipotesis dapat diuji apabila hipotesis tersebut dirumuskan dengan bena.  Kegagalan merumuskan hipotesis akan mengaburkan hasil penelitian. Meskipun hipotesis telah memenuhi syarat secara proposional, jika hipotesis tersebut masih abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian, melainkan juga sukar diuji secara empiris. Sering kali peneliti merumuskan hipotesis yang sangat umum sehingga tidak dapat diuji secara langsung.
       Sebaliknya, merumuskan hipotesis dengan kekhususan ataupenyempitan yang terlalu tinggi kadarnya juga dapat menyebabkan hipotesis kehilangan eksistensinya. Umumnya, makin spesifik suatu hipotesis, implikasi-implikasi pengujiannya menjadi semakin jelas, tetapi resikonya adalah sepele dan remeh. Misal, “ketepatan hadir di kantor mempengaruhi kecepatan penyelesaian pekerjaan”, sungguhpun penting dan menarik untuk diteliti, tetapi hipotesis tersebut terlalu sempit dan kecil untuk dijadikan penelitian. Dalam hal kedua sisi ekstrem ini (terlalu umum atau terlalu spesifik), kekhususan yang terlalu tinggi kadarnya mungkin lebih berbahaya dari pada keumuman yang terlalu luas. Oleh sebab itu, harus ditempuh semacam kompromi antara generalis dan spesifitas.
       Untuk memformulasi hipotesis yang benar atau baik, sedikitnya harus memiliki beberapa ciri-ciri pokok, yakni:
1.    Hipotesis diderivasi dari suatu teori yang disusun untuk menjelaskan masalah dan dinyatakan dalam proposisi-proposisi. Oleh sebab itu, hipotesis merupakan jawaban atau dugaan sementara atas masalah yang dirumuskan atau searah dengan tujuan penelitian.
2.    Hipotesis harus dinyatakan secara jelas, dalam terminologi yang benar dan secara operasional. Aturan untuk menguji satu hipotesis secara empiris adalah harus mendefinisikan secara operasional semua variabel dalam hipotesis dan diketahui secara pasti variabel independen dan variabel dependen.
3.    Hipotesis menyatakan variasi nilai sehingga dapat diukur secara empiris dan memberikan gambaran tentang fenomena yang diteliti. Untuk hipotesis deskriptif berart hipotesis secara jelas menyatakan kondisi, ukuran atau distribusi suatu variabel atau fenomena yang dinyatakan dengan nilai-nilai yang mempunyai makna. Untuk hipotesis kausal atau penjelasan berarti hipotesis menyatakan sifat hubungan kausal, bentuk hubungan linier atau tak linier dan arah hubungan positif atau negatif.
4.    Hipotesis harus value free. Artinya nilai-nilai yang dimiliki peneliti dan preferensi subyektivitas tidak memiliki tempat didalam pendekatan ilmiah seperti halnya dalam hipotesis.
5.    Hipotesis harus dapat diuji. Untuk itu instrumen harus ada atau dapat dikembangkan yang dapat menggambarkan ukuran yang valid dan reliabel dari variabel yang diliputi. Kemudian hipotesis dapat diuji dengan metode yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengujinya. Oleh sebab itu, evaluasi hipotesis bergantung pada ekdidtensi metode-metode untuk mengujinya, baik metode observasi, pengumpulan data, analisis data, maupun generalisasi.
6.    Hipotesis harus spesifik. Hipotesis harus bersifat spesifik yang menunjukan kenyataan empiris. Peneliti harus memiliki hubungan eksplisit yang diharapkan diantara variabel dalam istilah arah seperti, positif atau negatif. Satu hipotesis menyatakan bahwa X berhubungan dengan Y adalah sangat umum. Hubungan antara X dan Y dapat positif atau negatif. Selanjutnya, hubungan tidak bebas dari waktu, ruang atau unik analisis yang jelas. Jadi hipotesis akan menekankan hubungan yang diharapkan diantara variabel, sebagaimana kondisi dibawah hubungan yang diharapkan untuk dimanifestasi. Sehubungan dengan hal tersebut, teori menjadi penting secara khusus dalam pembentukan hipotesis yang dapat diteliti karena dalam teori dijelaskan arah hubungan antara variabel yang akan dihipotesiskan.
7.    Hipotesis harus menyatakan perbedaan atau hubungan antar variabel. Satu hipotesis yang memuaskan adalah salah satu hubungan yang diharapkan diantara variabel dibuat secara eksplisit.
BAB VII
METODE PENELITIAN

       Setelah merumuskan pertanyaan penelitian atau hipotesis, sekarang berada dalam posisi untuk memutuskan disain atau rancangan penelitian yang cocok. Peneliti siap untuk memutuskan satu disain penelitian yang cocok digunakan untuk mengevaluasi hubungan-hubungan yang diduga ada atau menguji hipotesis. Pemilihan suatu disain penelitian yang tepat secara krusial penting untuk keberhasilan sebuah proyek penelitian. Dalam disain penelitian, diidentifikasi hubunganhubungan antar variabel yang akan dijelaskan dalam penelitian, apakah melakukan rancangan hubungan korelasional (mengukur dua atau lebih variabel dan melihat hubungan antara mereka) atau hubungan kausal atau eksperimental (memanipulasi satu variabel dan melihat perubahan yang bersamaan dalam kelompok ke dua), juga dijelaskan apakah mengadakan penelitian dilaboratorium atau di lapangan.
       Bab ini menjelaskan hakikat disain penelitian, memperkenalkan tipe utama dari disain penelitian, dan menggambarkan bagaimana masing-masing tipe berusaha mencoba memecahkan masalah-masalah penelitian.
Definisi Disain Penelitian.
       Pemilihan disain penelitian yang sesuai secara krusial penting untuk keberhasilan proyek penelitian. Keputusan yang dibuat pada tahap proses penelitian ini sangat menentukan kualitas kesimpulan yang digambarkan dari hasil penelitian. Satu disain penelitian adalah strategi yang memandu dan digunakan penyeliik dalam pengumpulan data, penganalisaan temuan-temuan dan pengintepretasian data dari mana  kemudian digambarkan kesimpulan-kesimpulan.
       Jadi disain penelitian adalah rencana dan struktur penyelidikan yang disusun sedemikian rupa sehingga peneliti akan dapat memperoleh jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan penelitiannya. Rencana itu merupakan suatu skema menyeluruh yang mencakup program penelitian. Dalam disain penelitian, terangkum paparan  mengenai hal-hal yang akan dilakukan oleh peneliti, mulai ari penulisan hipotesis dan implikasi operasional hipotesis tersebut sampai pada analisis akhir terhadap data. Adapaun suatu struktur adalah kerangka, pengaturan, atau konfigurasi unsur-unsur struktur itu yang terhubung dengan cara-cara yang jelas serta tertentu. Cara terbaik untuk menyatakan struktur ialah menuliskan persamaan matematik yang merelasikan bagian-bagian struktur tersebut satu dan lainnya.
      Selain itu disain penelitian yang perlu diperhatikan adalah variabel yang digunakan, variabel ditentukan besaran atau ukurannya,
l  Besaran (quantity) adalah sesuatu yang mempunyai besar (magnitude) atau ukuran.
l  Ada dua jenis besaran;
    1. tetapan atau konstanta yaitu besaran yang besarnya tetap, tertentu
    2. perubah atau variabel yaitu besaran yang besarnya berubah-ubah, bervariasi, membentuk sekumpulan data atau informasi.
       Sedang untuk data yang berbentuk variabel,
l  Dua variabel atau lebih hanya dapat;
      - dibandingkan atau dibedakan, apabila teoritik memang layak dibandingkan
      - dihubungkan, apabila teoritik memang layak dihubungkan.

Variabel dan hubungan antar variabel
       Jika penelitian dilakukan untuk menjelaskan hubungan antara variabel, peneliti perlu memahami posisi variabel dalam hubungan antara variabel dan hubungan antara variabel itu sendiri. Seorang peneliti perlu memahami berbagai macamtipe variabel dan posisinya dalam hubungan antara variabel sebab tiap variabel mempunyai posisi dalam tiap hubungan antara variabel. Ia bisa sebagai variabel independen, variabel dependen, variabel kontingensi, variabel antara atau variabel kontrol. Kemudian hakikat dan macam hubungan antara variabelpun penting dipahami oleh peneliti sebab satu ciri penting dari preposisi atau hipotesis adalah pola dari hubungan yang ada dalam preposisi atau hipotesis tersebut. Hubungan antara variabel dapat dijelaskan dari sifat, pola atau bentuk, arah dan kekuatan hubungan.

Variabel bebas (Independent Variable)
       Variabel bebas merupakan variabel stimulus atau variabel yang mempengaruhi variabel lain. Variabel bebas  merupakan variabel yang variabelnya diukur, dimanipulasi atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungannya dengan suatu gejala yang diobservasi.Didalam penelitian hubungan kausal biasanya dimulai dengan suatu akibat, baru kemudian ia mencari sebab-sebabnya. Dalam sebuah diagram hubungan antar variabel, variabel sebab berposisi pada sebelah kiri dan variabel akibat berposisi di sebelah kanan. Variabel yang berposisi di sebelah kiri disebut sebagai variabel independen atau variabel bebas, sedangkan variabel yang berposisi di sebelah kanan sesudah variabel independen disebut variabel dependen.

Variabel terikat (Dependent Variable)
       Variabel terikat adalah variabel yang memberikan reaksi/respon jika dihubungkan dengan variabel bebas. Variabel terikat adalah variabel yang variabelnya diamati dan diukur untuk menentukan pengaruh yang disebabkan oleh variabel bebas. Jika variabel independen ada, variabel dependen juga ada, dan jika ada peningkatan dalam variabel independen mungkin akan terjadi suatu peningkatan atau penurunan dalam variabel dependen. Jika terjadi perubahan nilai dalam variabel independen, perubahan nilai tersebut direspon secara positif atau negatif oleh variabel dependen. Variabel dependen adalah akibat yang dipradugakan, yang bervariasi mengikuti perubahan atau variasi variabel bebas.
Hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat.
       Pada umumnya orang melakukan penelitian dengan menggunakan lebih dari satu variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Kedua variabel tersebut kemudian dicari hubungannya. Kita mengatakan bahwa ada hubungan antara dua atau lebih variabel bila perubahan dalam nilai dari satu variabel (variabel independen) secara sistematis membawa perubahan dalam nilai variabel lain (variabel dependen).
Contoh:
1)    Hipotesis penelitian: Ada hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kinerja karyawan.
Variabel bebas           : Gaya kepemimpinan
Variabel terikat           : Kinerja karyawan
Gaya kepemimpinan mempunyai hubungan dengan kinerja karyawan, misal gaya kepemimpinan yang sentralistik akan berdampak terhadap kinerja karyawan, berbeda dengan gaya kepemimpinan yang bersifat delegatif.
2)    Hipotesis penelitian: Ada hubungan antara promosi dengan volume penjualan.
Variabel bebas           : Promosi
Variabel terikat           : Volume penjualan
Promosi mempunyai hubungan dengan peningkatan volume penjualan di perusahaan tertentu.
Menyusun definisi operasional variabel
       Variabel harus didefinisikan secara operasional agar lebih mudah dicari hubungannya antara satu variabel dengan variabel lainnya dan pengukurannya. Tanpa operasionalisasi variabel, peneliti akan mengalami kesulitan dalam menentukan pengukuran hubungan antar variabel yang masih bersifat konseptual.
       Sebagai bagian dari proses pengukuran, operasionalisasi variabel merupakan satu proses yang menghubungkan satu definisi konseptual ke definisi operasional. Ini diperlukan karena terdapat jurang antara variabel teoritis yang dinyatakan dalam istilah abstrak, sebagaimana tampak dalam definisi konseptual dan variabel empiris yang dinyatakan dalam istilah empiris, sebagaimana tampak dalam definisi operasional. Usaha menjebatani jurang tersebut dilakukan melalui operasionalisasi  yaitu proses pengkonstruksian variabel untuk mewakili konsep untuk dipelajari. Jadi operasionalisasi variabel menghasilkan variabel operasional atau disebut indikator yang menjadi ukuran empiris dari variabel atau konsep yang dioperasionalisasi.
       Operasionalisasi merupakan proses mengubah abstract term atau konsep menjadi empirical term atau indikator. Operasionalisasi variabel merupakan kegiatan mengurai variabel menjadi sejumlah variabel operasional atau variabel empiris, yang menunjuk langsung pada hal-hal yang dapat diamati atau diukur. Operasi-operasi itu memungkinkan untuk menurunkan konsep dari tingkat ide yang abstrak ke tingkat realitas yang konkret sehingga gejala yang diacu dapat dikenal dan jelas.
       Untuk mengubah konsep atau variabel menjadi indikator atau indikator-indikator, peneliti-peneliti kuantitatif secara utama mengikuti deduktif. Mereka mulai dengan ide abstrak, selanjutnya dengan suatu prosedur pengukuran dan berakhir dengan data empirik yang merepresentasi ide-ide.
       Sebagai contoh: kompensasi, promosi, disiplin kerja, lingkungan kerja, produktivitas, kepuasan kerja, kualitas pelayanan, bauran pemasaran, bauran promosi, kepuasan, loyalitas dan sebagainya merupakan istilah-istilah abstrak yang tidak dapat secara langsung diobservasi. Konsep (istilah abstrak) dapat diobservasi secara langsung jika konsep tersebut diubah menjadi variabel atau indikator (istilah empiris) yang berhubungan secara langsung dengan aktivitas sosial yang dapat diobservasi.
       Definisi operasional dibutuhkan dalam rangka mengukur suatu sifat atau suatu konstruk. Satu definisi operasional diformulasi untuk menyatakan secara tegas bagaimana konsep akan diukur. Satu definisi operasional memerinci bagaimana menggambarkan kejadian dari suatu variabel dan bagaimana memberi suatu nilai untuk masing-masing kejadian. Jadi definisi operasional menyatakan secara tegas dan terperinci observasi-observasi mengenai petunjuk-petunjuk (indikator) keperilakuan yang mengisyaratkan sifat itu. Definisi operasional tidak lain dari mengubah konsep yang berupa konstruk dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat diamati, dapat diuji dan dapat ditentukan kebenarannya oleh orang lain, atau definisi yang dinyatakan dalam kriteria atau operasi yang dapat diuji secara khusus.








BAB VIII
PENGUKURAN PENELITIAN

a)     Definisi Pengukuran Penelitian
       Setelah memilih satu disain penelitian yang sesuai, tugas selanjutnya adalah memutuskan secara tepat apa yang diobservasi dan mengukurnya. Mengukur apa yang diobservasi menggunakan teknik pengukuran yang berkaitan dengan aturan dan prosedur yang digunakan untuk menjembatani konsep dan fakta. Pengukuran merupakan bagian integral penting dalam penelitian kuantitatif. Pengukuran berkualitas akan menghasilkan data empiris yang juga berkualitas. Satu pengukuran disebut berkualitas apabila pengukur tersebut reliabel atau andal valid atau sahih. Menggunakan pengukur yang sahih dan valid akan menghasilkan kesesuaian antara data yang dikumpulkan dari lapangan empiris dan data yang diharapkan. Artinya data empiris yang dikumpulkan merupakan gambaran dari kejadian-kejadian empiris jika peneliti menggunakan alat ukur yang tepat dan melakukan pengukuran dengan benar. Menggunakan data empiris berkualitas untuk menguji hipotesis adalah penting karena memberi solusi yang tepat terhadap isu-isu penelitian.
b)     Jenis-jenis Pengukuran Penelitian
Pengukuran dalam kegiatan penelitian dapat dibedakan dalam 4 (empat) skala, yakni:

1.  Skala nominal.
Tingkat pengukuran yang paling sederhana adalah pengukuran dengan menggunakan skala nominal. Pemberian nomor kepada obyek, tidak memberikan makna baik secara kualitas maupun kuantitas, tetapi hanya merupakan sekedar pemberian simbol atau label saja. Pemberian nomor itupun tidak dapat disusun sesuai dengan nomor urut atau dijumlahkan.






Contoh:
No.
RESPONDEN
SIMBOL /
NOMOR
PRIA
WANITA
1.
+

01
2.

+
02
Ket:
Jenis kelamin responden Pria diberi simbol no. 01
Jenis kelamin responden Wanita diberi simbol no. 02

Masing-masing nomor tidak mempunyai makna terhadap kualitas maupun kuantitas. Bukan menunjukkan apakah responden Pria lebih penting daripada responden wanita atau sebaliknya, dan bukan pula menunjukkan apakah responden Pria lebih dulu ketimbang responden wanita atau sebaliknya.
2.  Skala Ordinal
Pengukuran Ordinal ini, pemberian nomor pada indikan sifat disusun menurut besarnya. Pada skala ordinal ini dapat digunakan untuk menyusun urutan berdasarkan rangking (rank). Namun dalam pemberian nomor-nomor/ simbol-simbol tidak dapat dipakai untuk menunjukkan suatu jarak tertentu antara dua nomor.
Skala pengukuran ordinal memberikan informasi tentang jumlah relatif karakteristik berbeda yang dimiliki oleh obyek atau individu tertentu. Tingkat pengukuran ini mempunyai informasi skala nominal ditambah dengan sarana peringkat relatif tertentu yang memberikan informasi apakah suatu obyek memiliki karakteristik yang lebih atau kurang tetapi bukan berapa banyak kekurangan dan kelebihannya.
Contoh:
Jawaban pertanyaan berupa peringkat misalnya: sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju dan sangat setuju dapat diberi simbol angka 1, 2, 3, 4, 5. Angka-angka ini hanya merupakan simbol peringkat, tidak mengekspresikan jumlah.
Misal dalam pertanyaan:
Apakah saudara setuju dengan penggusuran pedagang kaki lima yang bertempat di sembarang tempat? Jawaban : a. sangat tidak setuju, b. tidak setuju, c. netral, d. setuju dan e. sangat setuju. Jika digunakan skala ordinal, maka “sangat tidak setuju” diberi nilai 1, “tidak setuju” diberi nilai 2, “netral” diberi nilai 3, “setuju” diberi nilai 4 dan “sangat setuju” diberi nilai 5
3.  Skala Interval
Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa adanya interval yang tetap. Dengan demikian peneliti dapat melihat besarnya perbedaan karakteristik antara satu individu atau obyek dengan lainnya. Skala pengukuran interval benar-benar merupakan angka. Angka-angka yang digunakan dapat dipergunakan dapat dilakukan operasi aritmatika, misal dijumlahkan atau dikalikan. Untuk melakukan analisis, skala pengukuran ini menggunakan statistik parametrik.
Contoh:
Jawaban pertanyaan menyangkut frekuensi dalam pertanyaan, misal: berapa kali anda melakukan kunjungan ke Jakarta dalam satu bulan? Jawaban: 1 kali, 3 kali, 5 kali. Maka angka-angka 1,3,dan 5 merupakan angka sebenarnya dengan menggunakan interval 2.
Misalnya dalam pertanyaan:
Berapa kali saudara berbelanja di supermarket ini dalam satu bulan? Jawaban berupa angka sebenarnya: a. 1 kali, b. 2 kali, c. 3 kali, d. 4 kali, e. 5 kali.
4.  Skala Ratio
Skala pengukuran ratio merupakan pengukuran yang tertinggi dibandingkan dengan skala sebelumnya. Pengukuran dengan skala ratio ini, seharusnya merupakan pengukuran yang harus dilakukan dan didambakan oleh setiap peneliti, mengingat bahwa dalam skala ratio ini selain memiliki sifat-sifat nominal, ordinal dan interval juga mempunyai titik 0 absolut dengan kemaknaan empiris. Nomor pada skala ratio menunjukkan besaran sifat yang diukur sebenarnya.
Contoh:
Pendapatan Wagiyo Rp 1.000.000 / bulan sedang pendapatan Tukiman Rp 5.000.000 / bulan, maka pendapatan Wagiyo dengan pendapatan Tukiman sama dengan 1 dibanding 5.


c)  Skala Pengukuran
Dalam penelitian kuantitatif, dikatakan bahwa alat ukur adalah indikator yang diberi skala. Skala berhubungan dengan kategori yang mengindikasikan nilai dari satu variabel. Jika indikator telah diberi skala, peneliti menyusun pedoman atau instruksi pengukuran yang disebut daftar pertanyaan. Ini penting dalam tahap proses atau pelaksanaan pengukuran yang di dalamnya alat ukur tersebut dihadapkan pada subyek penelitian. Menyusun instruksi pengukuran atau pertanyaan pengukuran sangat erat kaitannya dengan teknik penyusunan skala.
Diantara beberapa teknik penskalaan atau pengkonstruksian skala yang secara umum digunakan dalam penelitian sosial ialah skala Likert, skala Thrustone, skala Guttman dan perbedaan semantis.

1)  Skala Likert
Skala Likert sebagai teknik penskalaan banyak digunakan terutama untuk mengukur sikap, pendapat atau persepsi seseorang tentang dirinya atau kelompoknya atau sekelompok orang yang berhubungan dengan suatu hal. Skala ini sering disebut sebagai summated scale yang berisi sejumlah pernyataan dengan kategori respons atau satu seri item respons yang mengekspresikan luas jangkauan sikap dari ekstrem positif ke ekstrem negatif untuk direspons oleh responden. Item respons tersebut dapat disusun dalam tiga, lima, atau lebih alternatif pasti yang mengekspresikan seperti halnya “sangat setuju”, “setuju”, “netral atau ragu-ragu atau bimbang”, “tidak setuju”, dan “sangat tidak setuju”. Tiap respons dihubungkan dengan nilai skor atau nilai skala untuk masing-masing pernyataan










Contoh nilai respons dalam pernyataan positif dan negatif

Indikator Promosi
Nilai/Kategori Respon
Sangat setuju

Setuju

Netral
Tidak setuju
Sangat tidak setuju
Positif/menguntungkan:
Promosi berdasarkan prestasi merupakan promosi ideal dalam organisasi


5


4


3


2


1
Negatif/tidak menguntungkan:
Promosi berdasarkan senioritas merupakan promosi ideal dalam organisasi


1


2


3


4


5



2)  Skala Thrustone
Skala ini disusun dalam skala interval yang tampak atau mendekati sama besar berdasarkan kriteria tertentu sehingga penskalaan Thrustone disebut method of equal-appearing interval scale. Berarti skala ini bertujuan untuk mengurutkan responden berdasarkan suatu kriteria tertentu.
Contoh:
Perintah: Lingkarilah angka yang menunjukkan tingkat kepositifan untuk setiap pernyataan di bawah ini:
Sangat                            Sangat
Tidak positif   Netral        Positif

Pernyataan
 1    2    3    4    5    6    7    8    9


 1    2    3    4    5    6    7    8    9

 1    2    3    4    5    6    7    8    9

 1    2    3    4    5    6    7    8    9
-Pemberian kompensasi yang layak akan meningkatkan prestasi kerja karyawan
-Kualitas pelayanan yang baik akan meningkatkan kepuasan pelanggan
-Loyalitas pelanggan ditentukan tingkat kepuasan pelanggan
-Lingkungan kerja yang nyaman akan meningkatkan produktivitas karyawan

3)  Skala Guttman
Berbeda dengan skala Likert dan skala Thrustone, teknik penskalaan Guttman, yang pertama kali dikembangkan oleh Louis Guttman pada tahun 1940an, digunakan jika ingin mendapatkan jawaban yang tegas atas suatu masalah. Ketegasan jawaban tersebut disusun dalam nilai atau kategori respon dikotomis (dichotomous response categories) yang disusun dalam dua kategori seperti: setuju dan tidak setuju.
Contoh:
Pertanyaan
Kategori respon
Nilai skala
-Bagaimana sikap saudara terhadap promosi pekerjaan atas dasar prestasi?
-Bagaimana sikap saudara terhadap poligami?
Setuju
Tidak setuju
Setuju
Tidak setuju
2
1
             2
1

4)  Perbedaan semantis
Skala perbedaan semantis dikembangkan oleh Osgood pada tahun 1950an. Skala perbedaan semantis digunakan untuk mengukur atribut yang diberikan oleh responden terhadap beberapa arti untuk mendeskripsikan obyek tertentu. Dalam pengukuran ini, biasanya digunakan kata sifat yang mempunya arti berlawanan.
Contoh:
Contoh ini digunakan untuk mengukur tiga dimensi arti, yaitu: 1) mengukur dimensi evaluasi menggunakan sebanyak empat pasanyan kata sifat, 2) mengukur dimensi potensi dengan menggunakan sebanyak tiga pasangan kata sifat, 3) mengukur dimensi aktivitas dengan menggunakan sebanyak tiga pasangan kata sifat.
Bagaimana pendapat saudara mengenai Supermarket X?
Layanan Cepat              1    2    3    4    5    6    7                    Layanan lambat
Tempat belanja bersih  1    2    3    4    5    6    7         Tempat belanja kotor
Produk baru                    1    2    3    4    5    6    7                     Produk lama
Harga murah                  1    2    3    4    5    6    7                     Harga mahal
Parkir luas                       1    2    3    4    5    6    7                     Parkir sempit
Karyawan ramah           1    2    3    4    5    6    7       Karyawan tidak ramah
Banyak pilihan               1    2    3    4    5    6    7                    Sedikit pilihan
Ruangan luas                1    2    3    4    5    6    7                Ruangan sempit
Suasana nyaman                      1    2    3    4    5    6    7      Suasana tidak nyaman
Aman                               1    2    3    4    5    6    7                        Tidak aman


BAB IX
POPULASI DAN SAMPEL

Populasi dan Sampel
       Unit analisis yang dipelajari adalah populasi (population), juga disebut universum, universe, dan universe of discourse. Populasi adalah jumlah total dari seluruh unit atau elemen di mana peneliti tertarik. Populasi adalah seluruh unit-unit yang darinya sampel dipilih. Populasi dapat berupa organisme, orang atau sekelompok orang, masyarakat, organisasi, benda, obyek, peristiwa atau laporan yang semuanya memiliki ciri dan harus didefinisikan secara spesifik dan tidak secara mendua. Hakikat  spesifik dari populasi bergantung pada masalah penelitian.

Populasi
       Apabila populasi yang diteliti relatif kecil, katakanlah kurang dari 100, peneliti mungkin memutuskan untuk tidak menggunakan sampel, tetapi meneliti keseluruhan populasi. Misalnya penelitian terhadap bank atau perusahaan, unsur-unsur populasinya mungkin terdiri dari 100 pegawai, sehingga ia memutuskan meneliti seluruh unsur. Tugas ini mudah dikerjakan, oleh karena itu penggunaan sampel tidak perlu dipertimbangkan.
       Tetapi apabila populasi yang diteliti cukup besar, sampling menjadi alternatif yang memungkinkan untuk mempelajari keseluruhan populasi. Misalnya, apabila peneliti ingin mempelajari tingkat kepuasan dengan kualitas pelayan yang ada pada penumpang kerata api 5 tahun terakhir, populasinya menjadi sangat besar. Dalam hal ini besarnya populasi penumpang kereta api mengakibatkan sulitnya meneliti keseluruhan populasi. Secara umum, dapat dikatakan, bahwa semakin besar unsur populasi yang diteliti, maka sampling menjadi sangat penting. Tetapi masalah besar kecilnya populasi relatif sifatnya. Bisa saja suatu populasi dikatakan besar oleh seorang peneliti, tetapi hal ini tidak demikian menurut peneliti yang lainnya, dan memang tidak ada petunjuk yang jelas yang membedakan antara populasi kecil dengan populasi besar.

Sampel
       Idealnya penelitian dilakukan terhadap populasi. Tetapi apabila terjadi kendala untuk mempelajari seluruh populasi yang ada, peneliti boleh untuk mempelajari atau meneliti sebagian dari populasi sang disebut sampel. Jika peneliti meneliti sebagian dari populasi atau sampel, sampel tersebut harus memenuhi dua kriteria penting, yaitu ukuran dan keterwakilan. Jika kedua kriteria ini dipenuhi, barulah peneliti dapat menggenerelalisasikan hasil penemuan dari sampel terhadap populasi yang darinya sampel diambil.

Rancangan Sampel
       Setelah populasi didefinisikan, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menurunkan satu sampel dari populasi tersebut. Jawaban atas pertanyaan ini ada hubungan dengan rancangan sampel, atau rancangan pemilihan sampel. Rancangan sampel adalah seperangkat prosedur untuk pemilihan unit-unit dari populasi yang dijadikan sampel. Jika kita memilih sampel dengan benar, sampel itu akan memberikan estimasi secara tepat tentang keseluruhan populasi yang diteliti.

Proses Pengambilan Sampel
       Proses pengambilan sampel merupakan cara kita dalam memilih sampel untuk studi tertentu. Proses terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut:
a)    Tahap 1: Memilih Populasi.
Tahap awal adalah menentukan populasi yang menarik untuk dipelajari. Suatu populasi yang baik adalah mencakup rancangan eksplisit semua elemen yang terlibat biasanya meliputi empat komponen yaitu elemen, unit sampling, keluasan skop dan waktu.
b)    Tahap 2: Memilih unit-unit sampling.
Unit-unit sampling adalah unit analisis dari mana sampel diambil atau berasal. Karena kompleksitas penelitian dan banyaknya desain sampel, maka pemilihan unit-unit sampling harus dilakukan dengan teliti.
c)    Tahap 3: Memilih kerangka sampling.
Pemilihan kerangka sampling merupakan tahap yang penting karena jika kerangka sampling yang dipilih tidak mewakili populasi, maka generalisasi hasil penelitian meragukan. Kerangka sampling dapat berupa daftar nama populasi seperti kartu pegawai, buku telepon atau data base lainnya.
d)    Tahap 4: Memilih desain sampel
Desain sampel merupakan tipe metode atau pendekatan yang digunakan untuk memilih unit-unit analisis studi. Desain sampel sebaiknya dipilih sesuai dengan tujuan penelitian.
e)    Tahap 5: Memilih ukuran sampel
Ukuran sampel tergantung beberapa faktor yang mempengaruhi daiantaranya adalah:
l  Homogenitas unit-unit sampel, secara umum semakin mirip unit-unit sampel, dalam suatu populasi semakin kecil sampel yang dibutuhkan untuk memperkirakan parameter-parameter populasi.
l  Kepercayaan, kepercayaan mengacu pada suatu tingkatan tertentu dimana peneliti ingin merasa yakin bahwa yang bersangkutan memperkirakan secara nyata parameter populasi yang benar. Semakin tinggi tingkat kepercayaan yang diinginkan, maka semakin besar ukuran sampel yang diperlukan.
l  Presisi: presisi mengacu pada ukuran kesalahan standar estimasi. Untuk mendapatkan presisi yang besar dibutuhkan ukuran sampel yang besar pula.
l  Kekuatan statistik: Istilah ini mengacu pada adanya kemampuan mendeteksi perbedaan dalam situasi pengujian hipotesis. Untuk mendapatkan kekuatan yang tinggi, peneliti memerlukan sampel yang besar.
l  Prosedur Analisis: Tipe prosedur analisis yang dipilih untuk menganalisis data dapat juga mempengaruhi seleksi ukuran sampel,
l  Biaya, waktu dan personil: Pemilihan ukuran sampel juga harus mempertimbangkan biaya, waktu dan personil. Sampel besar akan menuntut biaya besar, waktu banyak dan personil besar juga.
f)     Tahap 6: Memilih rancangan sampling
Rancangan sampling menentukan prosedur operasional dan metode untuk mendapatkan sampel yang diinginkan. Jika dirancang dengan baik, rancangan sampling akan menuntun peneliti dalam memilih sampel yang digunakan dalam studi, sehingga kesalahan yang akan muncul dapat ditekan sekecil mungkin.
g)    Tahap 7: Memilih sampel
Tahap akhir dalam proses ini adalah penentuan sampel untuk digunakan pada proses penelitian berikutnya, yaitu koleksi data.

Desain sampel
       Secara garis besar ada dua desain sampel utama, yaitu desain Probabilitas dan desain Non Probabilitas. Masing-masing kategori mempunyai sub-sub kategori yang lebih kecil. Dalam pembahasan ini dimulai dengan desain probabilitas.
a.            Pengambilan sampel secara random sederhana (simple random sampling)
Cara pengambilan sampel dengan teknik ini adalah dengan memberikan suatu nomor yang berbeda kepada setiap anggota populasi, kemudian memilih sampel dengan menggunakan angka-angka random.
Keuntungan menggunakan teknik ini adalah peneliti tidak membutuhkan pengetahuan tentang populasi sebelumnya bebas dari kesalahan-kesalahan klasifikasi yang kemungkinan dapat terjadi dan dengan mudah data dianalisis serta kesalahan-kesalahan dapat dihitung.
Kelemahan dalam teknik ini adalah peneliti tidak dapat memanfaatkan pengetahuan yang dipunyainya tentang populasi dan tingkat kesalahan dalam penentuan ukuran sampel lebih besar.
b.            Pengambilan sampel secara random sistematis (systematic random sampling).
Teknik ini merupakan pengembangan teknik sebelumnya hanya bedanya teknik ini menggunakan urut-urutan alami. Caranya adalah pilih secara random dimulai dari anatara angka 1 dan integer yang terdekat terhadap ratio sampling (N/n), kemudian pilih item-item dengan interval dari integer yang terdekat terhadap ratio sampling. Keuntungan menggunakan sampel ini adalah peneliti menyederhanakan proses penarikan sampel dan mudah di cek, dan menekan keaneka ragaman sampel.
c.            Pengambilan sampel secara random bertahap (random multistage)
Desain ini merupakan variasi dari desain diatas tetapi lebih kompleks. Caranya adalah dengan menggunakan bentuk sampel acak dengan sedikit-dikitnya dua tahap.
Keuntungannya adalah daftar sampel, identifikasi dan penomoran yang dibutuhkan hanya untuk para anggota dari unit sampling yang dipilih dalam sampel. Jika unit sampling didefinisikan secara geografis akan lebih menghemat biaya.
Kelemahannya adalah tingkat kesalahan akan menjadi tinggi apabila jumlah ampling unit yang dipilih menurun.

d.            Teknik pengambilan sampel secara random bertingkat (stratified random sampling).
1.  Proporsional
Cara pengambilan sampel dilakukan dengan menyeleksi setiap unit sampling yang sesuai dengan ukuran unit sampling. Keuntungannya adalah aspek representatifnya lebih meyakinkan sesuai dengan sifat-sifat yang membentuk dasar unit-unit yang mengklasifikasinya, sehingga mengurangi keanekaragamannya. Karakteristik-karakteristik masing-masing strata dapat diestimasikan sehingga dapat dibuat perbandingan. Kerugiannya adalah membutuhkan informasi yang akurat pada proporsi populasi untuk masing-masing strata. Jika hal tersebut diabaikan maka kesalahan akan muncul.
2.  Disporposional
Strategi pengambilan sampel sama dengan proporsional. Perbedaannya adalah terletak pada ukuran sampel yang tidak proporsional terhadap ukuran unit sampling karena untuk kepentingan pertimbangan analisis dan kesesuaian.

e.            Teknik  pengambilan sampel cluster
       Strategi pengambilan sampel dilakukan dengan cara  memilih unit-unit sampling dengan menggunakan formulir tertentu sampling acak, unit-unit akhir adalah kelompok-kelompok tersebut secara random dan hitung masing-masing kelompok. Keuntungan menggunakan metode ini adalah jika kluster-kluster didasarkan pada perbedaan geografis maka biaya penelitiannya menjadi lebih murah. Karakteristik kluster dan populasi  dapat diestimasi. Kelemahannya adalah membutuhkan kemampuan untuk membedakan masing-masing anggota populasi secara unik terhadap kluster, yang akan menyebabkan kemungkinan adanya duplikasi atau penghilangan individu-individu tertentu.

f.             Teknik Pengambilan sampel kluster berstrata (srtatified cluster)
       Cara menyeleksi sampel dengan cara memilih kluster-kluster secara random untuk setiap unit sampling. Keuntungannya adalah mengurangi keanekaragaman sampling cluster sederhana. Kelemahannya adalah karakteristik-karakteristik kluster bisa berubah sehingga keuntungannya dapat hilang karena itu tidak dapat dipakai untuk penelitian berikutnya.
g.            Repetisi: Multiple atau Sequensial (berurutan
       Dua sampel atau lebih dari kluster di atas (F) diambil dengan menggunakan hasil-hasil dari sampel yang lebih dahulu untuk merancang sampel-sampel berikutnya. Keuntungan menggunakan teknik ini adalah memberikan estimasi karakteristik populasi yang memfasilitasi perncangan yang efisien untuk sampel berikutnya. Kelemahan teknik ini adalah penghitungan dan analisis akan dilakukan berulang-ulang. Sampling berurutan hanya dapat digunakan jika suatu sampel yang kecil dapat mencerminkan populasinya.

h.            Desain non probabilitas.
1.    Penilaian (judgement)
Memilih sampel dari sesuatu populasi didasarkan pada informasi yang tersedia, sehingga perwakilannya terhadap populasi dapat dipertanggungjawabkan. Keuntungannya adalah unit-unit yang terakhir dipilih dapat dipilih sehingga mereka mempunyai banyak kemiripan. Kerugiannya adalah memunculkan keanekaragaman dan bias estimasi terhadap populasi dan sampel yang ndipilihnya.
2.    Kesesuaian (Convenience)
Memilih unit-unit analisis dengan cara yang dianggap sesuai oleh peneliti. Keuntungannya adalah dapat dilakukan dengan cepat dan murah. Kelemahannya adalah mengandung sejumlah kesalahan sistematik dan variabel-variabel yang tidak diketahui.
3.    Teknik bola salju.
Memilih unit-unit yang mempunyai karakteristik langka dan unit-unit tambahan yang ditujukan oleh responden sebelumnya. Keuntungannya adalah hanya digunakan dalam situasi-situasi tertentu. Kelemahannya adalah perwakilan dari karakteristik langka dapat tidak terlihat di sampel yang sudah dipilih.
Cara menentukan ukuran sampel
       Salah satu cara untuk menentukan ukuran sampel dengan cara melihat tabel yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael dengan tingkat kesalahan 1%, 5% dan 10% sebagai berikut:
Tabel Ketentuan Jumlah Sampel dengan Jumlah Populasi Tertentu dengan Tingkat Kesalahan 1%, 5% dan 10%.
N
Sampel
N
Sampel
N
Sampel

1%
5%
10%

1%
5%
10%

1%
5%
10%
10
15
20
25
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
85
90
95
100
110
120
130
140
150
160
170
180
190
200
210
220
230
240
250
260
270
10
15
19
24
29
33
38
42
47
51
55
59
63
67
71
75
79
83
87
94
102
109
116
122
129
135
142
148
154
160
165
171
176
182
187
192


10
14
19
23
28
32
36
40
44
48
51
55
58
62
65
68
72
75
78
84
89
95
100
105
110
114
119
123
127
131
135
139
142
146
149
152
10
14
19
23
27
31
35
39
42
46
49
53
56
59
62
65
68
71
73
78
83
88
92
97
101
105
108
112
115
118
122
125
127
130
133
135
280
290
300
320
340
360
380
400
420
440
460
480
500
550
600
650
700
750
800
850
900
950
1000
1100
1200
1300
1400
1500
1600
1700
1800
1900
2000
2200
2400
2600
197
202
207
216
225
234
242
250
257
265
272
279
285
301
315
329
341
352
363
373
382
391
399
414
427
440
450
460
469
477
485
492
498
510
520
529
155
158
161
167
172
177
182
186
191
195
198
202
205
213
221
227
233
238
243
247
251
255
258
265
270
275
279
283
286
289
292
294
297
301
304
307
138
140
143
147
151
155
158
162
165
168
171
173
176
182
187
191
195
199
202
205
208
211
213
217
221
224
227
229
232
234
235
237
238
241
243
245
2800
3000
3500
4000
4500
5000
6000
7000
8000
9000
10000
15000
20000
30000
40000
50000
75000
100000
150000
200000
250000
300000
350000
400000
450000
500000
550000
600000
650000
700000
750000
800000
850000
900000
950000
1000000
537
543
558
569
578
586
598
606
613
618
622
635
642
649
663
655
658
659
661
661
662
662
662
662
663
663
663
663
663
663
663
663
663
663
663
663
664
310
312
317
320
323
326
329
332
334
335
336
340
342
344
345
346
346
347
347
347
348
348
348
348
348
348
348
348
348
348
348
348
348
348
348
348
349
247
248
251
254
255
257
259
261
263
263
263
266
267
268
269
269
270
270
270
270
270
270
270
270
270
270
270
270
270
270
270
271
271
271
271
271
272



Jika menggunakan rumus, gunakan rumus dibawah ini:
            n =
Dimana :
            n          = Sampel
            N         = Populasi
            d          = Derajat Kebebasan
                            Misal : 0,1; 0,05; 0,01
            Contoh :
            N         = 720
            n          =
            n          = 87,53

Metode Pengumpulan data
       Mengumpulkan data merupakan bagian integral dari satu rancangan penelitian. Ini berhubungan dengan pemilihan strategi untuk dan melakukan kontak dengan subyek. Penelitian sebagai upaya mencari dan memahami data atau informasi yang dibutuhkan tidak selalu menggunakan satu teknik saja dalam mengumpulkan data melalui penelitian lapangan. Untuk dapat merancang metode pengumpulan data yang tepat, atau memilih secara tepat satu atau beberapa metode pengumpulan data untuk suatu penelitian yang dilakukan, hal penting yang harus dipahami oleh setiap peneliti ialah memahami data, latar data, sifat atau jenis data, sumber data dan memilih secara tepat teknik pengumpulan data. Kadang-kadang, metode pengumpulan data harus dipilih berdasarkan pertimbangan peneliti, baik atas dasar cakupan penelitian, keragaman dan kekhususan data, waktu, ketepatan maupun kecepatan.
1)    Definisi pengumpulan data
       Data merupakan bahan penting yang digunakan oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan atau menguji hipotesis dan mencapai tujuan penelitian. Oleh karena itu, data dan kualitas data merupakan hal yang penting dalam penelitian karena menentukan kualitas hasil penelitian. Data diperoleh melalui suatu proses yang disebut pengumpulan data. Pengumpulan data dapat didefinisikan sebagai satu proses mendapatkan data empiris melalui responden dengan menggunakan metode tertentu. Ini berarti sebelum mengumpulan data terlebih dahulu, kita menentukan teknik pengumpulan data yang tepat digunakan dan menyusun instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data. Instrumen penelitian ini merupakan alat bantu bagi peneliti untuk mengumpulkan data. Kualitas instrumen akan menentukan kualitas dan kuantitas data yang dikumpulkan untuk kemudian dianalisis dan diinterpretasi.
       Istilah data menunjuk pada ukuran atau observasi aktual tentang hasil dari suatu investigasi survey, atau hasil observasi yang dicatat  dan dikumpulkan, baik dalam bentuk angka ataupun jumlah dan bentuk kata-kata ataupun gambar disebut data. Ini berarti bahwa data merupakan hasil pengamatan dan pengukuran empiris yang mengungkapkan fakta tentang karakteristik dari suatu gejala tertentu. Data merupakan fakta tentang karakteristik tertentu dari suatu fenomena yang diperoleh melalui pengamatan. Istilah data merupakan bentuk jamak (plural) yang menunjuk pada satu kelompok observasi. Bentuk tunggal (singular) ialah datum yang menunjuk tiap bagian-bagian dari observasi. Istlah data digunakan untuk menggambarkan pola-pola respons yang dicatat dari responden untuk suatu instrumen yang digunakan dalam penelitian.
       Untuk mengumpulkan data dapat menggunakan berbagai metode pengumpulan data. Tiap metode pengumpulan data memiliki instrumen pengumpulan data. Metode angket misalnya memiliki jenis instrumen yang disebut daftar angket. Untuk menentukan metode dan instrumen pengumpulan data yang tepat, kita harus memahami data empiris , baik jenis maupun sumber data yang kita butuhkan untuk dikumpulkan.
       Data dalam penelitian kualitatif bersifat deskriptif bukan angka. Data dapat berupa gejala-gejala, kejadian dan peristiwa yang kemudian dianalisis dalam bentuk kategori-kategori.
2)    Jenis Data
Data untuk suatu penelitian dapat dikumpulkan dari berbagai sumber. Data data dikumpulkan dari latar data yang berbeda. Latar data yang dimaksud ialah latar natural dimana fenomena atau peristiwa secara normal  terjadi yang disebut noncontrived settings, dan latar artifisial (artificial setting), baik di laboratorium, dalam rumah responden, di jalan atau di mall yang disebut contrived settings. Data juga dapat bersumber dari dalam organisasi yang dinamakan sumber atau data intern dan dari luar organisasi yang dinamakan sumber atau data ekstern. Sumber data ekstern dibedakan atas sumber data primer dan sumber data sekunder.
a.    Data Primer:
Untuk beberapa proyek penelitian, sumber data adalah penting untuk menggunakan sumber-sumber primer disamping sumber-sumber sekunder.  Apa bedanya? Sumber primer / data primer adalah suatu obyek atau dokumen original, material mentah dari pelaku yang disebut “first hand information”. Data yang dikumpulkan dari situasi aktual ketika peristiwa terjadi dinamakan data primer. Individu, kelompok fokus dan satu kelompok responden secara khusus sering dijadikan peneliti sebagai sumber data primer. Oleh karena itu, ketika merancang pertanyaan, dibedakan  tipe pertanyaan, yakni pertanyaan faktual personal yang didalamnya responden memberikan informasi personal tentang berbagai hal yang menyangkut diri, sikap, dan perilaku, pertanyaan faktual tentangorang lain yang didalamnya responden memberikan informasi personal tentang orang lain, dan pertanyaan faktual informan yang didalamnya kita menempatkan orang yang diwawancara atau melengkapi kuesioner dalam posisi informan dari pada sebagai responden yang menjawab pertanyaan tentang diri mereka sendiri.
Data ini berupa teks hasil wawancara dan diperoleh melalui wawancara dengan informan yang sedang dijadikan sampel dalam penelitiannya. Dapat direkam atau dicatat oleh peneliti.
b.    Data Sekunder.
Data sekunder merupakan data yang dikumpulkan dari tangan kedua atau dari sumber-sumber lain yang telah tersedia sebelum penelitian dilakukan. Data yang dikumpulkan melalui sumber-sumber lain yang tersedia dinamakan data sekunder. Sumber sekunder meliputi komentar, interpretasi atau pembahasan tentang materi original. Sumber sekunder dapat dikatakan sebagai “second-hand information”.
Jika saya mengatakan kepada anda tentang sesuatu, saya adalah sumber primer. Jika anda mengatakan kepada orang lain apa yang saya katakan kepada anda, anda adalah sumber sekunder. Bahan-bahan sumber sekunder dapat berupa artikel-artikel dalam surat kabar atau majalah populer, buku atau telaah gambar hidup, atau artikel-artikel yang ditemukan dalam jurnal-jurnal ilmiah yang mengevaluasi atau mengkritisi suatu penelitian original yang lain. Buletin statistik, laporan-laporan, atau arsip organisasi, publikasi pemerintah, informasi yang dipublikasikan atau tidak dipublikasikan dan tersedia dari dalam atau dari luar organisasi, analisis-analisis yang dibuat oleh para ahli, hasil survey terdahulu yang dipublikasikan atau tidak dipublikasikan, data bases yang ada dari penelitian terdahulu, catatan publik mengenai peristiwa-peristiwa resmi dan catatan-catatan perpustakaan juga merupakan sumber data sekunder. Umumnya data intern atau data dari sumber  primer dianggap lebih baik daripada data ekstern atau data sekunder. Namun sering kali hanya mengandalkan dala primer belum tentu secara valid dapat digunakan untuk membuat solusi tentang suatu masalah sehingga data primer dan data sekunder, keduanya dijadikan sebagai sasaran pengumpulan data.
Dapat dikatakan juga data sekunder adalah berupa data-data yang sudah tersedia dapat diperoleh oleh peneliti dengan cara membaca, melihat atau mendengarkan. Data ini biasanya berasal dari data primer yang sudah diolah oleh peneliti sebelumnya. Termasuk dalam kategori data tersebut adalah:
- Data bentuk teks, dokumen, pengumuman, surat-surat, spanduk
- Data dalam bentuk gambar, foto, animasi, billboard
- Data dalam bentuk suara, hasil rekaman kaset
- Kombinasi teks, gambar dan suara, film, video, iklan ditelevisi dan lain-lain.
Pada prinsipnya data kualitatif dapat berupa apa saja termasuk kejadian atau gejala yang tidak dapat menggambarkan hitungan, angka atau kuantitas.
1)    Teknik Pengumpulan Data
Data diperoleh melalui suatu proses yang disebut pengumpulan data. Pengumpulan data dapat didefinisikan sebagai suatu proses mendapatkan data empiris melalui responden dengan menggunakan metode tertentu.
a)    Observasi
Dalam arti luas berarti peneliti secara terus-menerus melakukan pengamatan atas sesuatu yang diteliti.
b)    Wawancara
Wawancara  adalah teknik pengumpulan data yang paling sosiologis dari semua teknik-teknik penelitian sosial. Ini karena bentuknya yang berasal dari interaksi verbal antara peneliti dan responden
c)    Kuesioner
Adalah alat pengumpul data yang paling sering digunakan dalam penelitian sosial. Kuesioner adalah serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada responden, yang pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner itu merupakan hasil pengolahan definisi operasional tiap variabel. Jawaban responden itulah yang nantinya akan dianalisis oleh peneliti.










BAB X
ANALISIS DATA

Tahap Persiapan
Analisis data dilakukan setelah peneliti mengumpulkan semua data yang diperlukan dalam penelitian. Peneliti biasanya melakukan beberapa tahap persiapan data untuk memudahkan proses analisis data dan intepretasi hasilnya, yaitu: pengeditan, pemberian kode dan pemresesan data.

Pengeditan.
Pengeditan merupakan proses pengecekan dan penyesuaian yang diperlukan terhadap data penelitian untuk memudahkan proses pemberian kode dan pemrosesan data dengan teknik statistik. Data penelitian yang dikumpulkan oleh peneliti melalui metode survey atau metode observasi perlu diedit  dari kemungkinan kekeliruan dalam proses pencatatan  yang dilakukan oleh pengumpul data, pengisian kuisioner yang tidak lengkap atau tidak konsisten. Tujuan pengeditan data adalah menjamin kelengkapan, konsistensi dan kesiapan data penelitian dalam proses analisis. Proses pengeditan dapat dilakukan di lapangan (field editing) oleh peneliti, pengumpul data atau staf yang bertindak sebagai supervisor sesaat setelah melakukan pengecekan terhadap isian kuisioner. Penelitian dapat dilakukan di tempat peneliti, setelah beberapa atau semua data terkumpul, karena field editing sulit dilakukan jika peneliti menggunakan teknik pengiriman kuisioner melalui pos. Prosedure pengeditan akan memudahkan proses pemberian kode dan data entry.

Pemberian Kode (Coding)
Pemberian kode merupakan proses identifikasi dan klasifikasi data penelitian ke dalam skor numerik atau karakter simbol. Proses ini diperlukan terutama untuk data penelitian yang dapat diklasifikasi, misal: jawaban dari tipe pertanyaan tertutup yang tidak memberikan alternatif jawaban kepada responden selain jawaban yang tersedia. Pemberian kode pada jawaban pertanyaan terbuka relatif lebih sulit karena memerlukan judgement dari pemberi kode dalam mengintepretasikan jawaban responden. Tujuan pemberian kode pada tipe pertanyaan terbuka adalah untuk mengurangi variasi jawaban responden menjadi beberapa kategori umum sehinggadapat diberi skor numerik atau simbol. Teknik pemberian kode akan memudahkan  dan meningkatkan efisiensi proses data entry ke dalam komputer.
Contoh:
A.   Mohon bapak/Ibu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memberi tanda silang (X) pada alternatif jawaban yang tersedia:
1.    Jenis industri utama perusahaan Bapak/Ibu
101 (  ) Pertanian dan pertambangan
102 (  ) Aneka Industri
103 (  ) Konstruksi, Properti dan real estate
104 (  ) Keuangan
105 (  ) Industri dasar dan Kimia
106 (  ) Industri barang konsumsi
107 (  ) Perdagangan dan jasa
2.    Jumlah karyawan yang bekerja diperusahaan Bapak/Ibu
201 (  ) 1 s/d 10 orang
202 (  ) 11 s/d 25 orang
203 (  ) 26 s/d 40 orang
204 (  ) 41 s/d 60 orang
205 (  ) 61 s/d 100 orang
206 (  ) lebih dari 100 orang
3.    Total penjualan dalam setahun
301 (  ) Kurang dari 500 juta
302 (  ) Antara 500 juta s/d 1 Milyar
303 (  ) Antara 1 Milyar s/d 5 Milyar
Dst
B.   Mohon Bapak/Ibu menjawab pertanyaan berikut dengan memberi tanda silang (X) pada pilihan jawaban yang tersedia.
STS = Sangat Tidak Setuju, TS = Tidak Setuju, TP = Tidak Pasti, S = Setuju, SS = Sangat setuju.
4.    Para pimpinan di perusahaansetiap saat selalu memberikan motivasi terhadap setiap karyawan.
STS                        TS                  TP                   S                     SS
401 (  )                   402 (  )          403 (  )            404 (  )            405 (  )
Dst.
Pemrosesan data
Banyak peneliti saat ini yang melakukan analisis dengan bantuan tknologi komputer. Beberapa paket aplikasi statistik yang dapat digunakan untuk analisis data komputer, antara lain: SPSS, SAS, Stat-Easy dan Minitab. Diantara program aplikasi tersebut yang sering digunakan dalam penelitian bisnis adalah Statistical Package for the Social Sciences (SPSS)

Tabulasi
       Dalam penelitian ilmiah, tabulasi data pada umumnya tidak termasuk dalam analisis data karena dalam tabulasi belum mengungkap hubungan dalam data. Tabulasi hanya menyajikan hitungan frekuensi atau perkiraan numerik tentang distribusi frekuensi dari satu hal. Oleh karena itu, tabulasi merupakan alat analisis atau sebagai alat untuk menyusun kategori ketika mengubah variabel rasio atau interval menjadi nominal atau ordinal atau berdasarkan indeks. Tabulasi kemudian digunakan untuk menciptakan statistik deskriptif

Frekuensi (Frequency)
Frekuensi merupakan salah satu ukuran dalam statistikdeskriptif yang menunjukkan nilai distribusi data penelitian yang memiliki kesamaan kategori. Frekuensi suatu distribusi data penelitian dinyatakan dengan ukuran absolut (f) atau proporsi (%). Penyajian statistik deskriptif yang menggunakan ukuran frekuensi dapat menggunakan tabel numerik atau grafik.
Contoh:
1.2    Deskripsi Responden
Responden pada studi ini adalah pelanggan pengguna jasa Perusahaan Daerah Air Minum Banyuwangi yang berada di wilayah pelayanan kota Banyuwangi yang meliputi Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Kalipuro, sebagian Kecamatan Glagah, sebagian Kecamatan Kalipuro dan sebagian Kecamatan Kabat. Deskripsi responden dapat dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, pekerjaaan dan tempat tinggal. Deskripsi responden tersebut adalah sebagai berikut:
a.    Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 5.6
Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin
Jumlah
Persentase

Laki-laki
Perempuan

58
46

55,77%
44,23%
Jumlah
104
100%
Sumber: Lampiran 1, diolah


      Berdasarkan kuisioner yang diberikan kepada pelanggan PDAM Banyuwangi, menunjukkan bahwa responden mempunyai jenis kelamin laki-laki sebanyak 58 orang atau 55,77% dan perempuan 46 orang atau 44,23%. Secara umum pri dan wanita mempunyai karakteristik yang berbeda pada ekspektasi terhadap pelayanan jasa. Wanita lebih peka terhadap perlakuan penyaji jasa dalam memberikan pelayanan kepada mereka. Sedangkan laki-laki lebih menekankan pada hasil penyampaian jasa tersebut.
b.   Deskripsi Responden Berdasarkan Pekerjaan
Deskripsi responden berdasarkan pekerjaan dapat dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 5.7
Jumlah Responden Berdasarkan Pekerjaan

Pekerjaan
Jumlah
Persentase
Notaris
Dosen
Perbankan
PNS
Guru
Ibu Rumah Tangga
Swasta
BUMN
Mahasiswa
Pensiunan
Wartawan
1
21
3
8
16
3
44
5
1
1
1
0,96%
20,19%
2,88%
7,69%
15,38%
2,88%
42,31%
4,81%
0,96%
0,96%
0,96%
Jumlah
104
100%
Sumber: Lampiran 1, diolah

      Secara umum pelanggan mempunyai pekerjaan yang berbeda-beda. Deskripsi responden berdasarkan pekerjaan menunjukkan bahwa sebagian besar pelanggan PDAM Banyuwangi mempunyai pekerjaan sebagai pegawai swasta yaitu 44 responen atau 42,31%.
c.    Deskripsi Responden Berdasarkan Tempat Tinggal
Deskripsi responden berdasarkan tempat tinggal dapat dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 5.8
Jumlah Responden Berdasarkan Tempat Tinggal

Tempat Tinggal
Jumlah
Persentase
Kecamatan Kalipuro
Kecamatan Giri
Kecamatan Kota
Kecamatan Glagah
Kecamatan Kabat
10
7
67
16
4
9,62%
6,73%
64,42%
15,38%
3,88%
Jumlah
104
100%
Sumber: Lampiran 1, diolah

1.3.  Distribusi Jawaban Responden.
      Berikut dijelaskan tanggapan responden dari kuisioner yang disebarkan, dari jawaban responden tersebut dapat membantu mengetahui frekuensinya.

a.    Variabel Tangibles /bukti fisik (X1)
Frekuensi jawaban responden untuk bukti fisik terdiri dari 4 pertanyaan yang berupa, kenyamanan fasilitas dan sarana, pemeliharaan, keamanan fasilitas dan tersedianya kotak saran. Adapun gambaran penilaian atas butir-butir pertanyaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:





Tabel 5.9
Distribusi Frekuensi untuk Variabel Tangibles /bukti fisik (X1)

Skor Jawaban

Item
5
4
3
2
1
Mean

F
%
F
%
F
%
F
%
F
%

X1.1
28
26,9
59
56.7
9
8.7
8
7.7
0
0
4,029
X1.2
18
17,3
37
35,6
25
24
23
22,1
1
1
3,654
X1.3
22
21,2
32
30,8
24
23,1
26
25
0
0
3,481
X1.4
21
20,2
41
39,4
21
20,2
19
18.3
2
1,9
3,580
Rata-rata Nilai Variabel Tangibles/bukti fisik (X1)
3,686
Sumber: Lampiran 2 diolah
Keterangan:
X1.1        : Item Kenyamanan fasilitas dan sarana
X1.2        : Item Pemeliharaan
X1.3      : Item Keamanan fasilitas
X1.4        : Item Tersedianya kotak saran
     Berdasarkan tabel diatas kondisi fasilitas dan sarana pembayaran rekening (X1.1). 28 responden atau 26,9% menyatakan baik sekali, 59 responden atau 56,7 menyatakan baik, 9 responden atau 8,7% menyatakan netral (cukup baik), 8 responden atau 7,7% menyatakan jelek dan tidak ada responden yang menyatakan jelek sekali. Hal ini berarti sebagian besar responden memberikan tanggapan baik terhadap kenyaman dan fasilitas sarana terbukti nilai rata-rata sebesar 4,029. Dilihat dari nilai rata-rata, item pertanyaan ini memiliki nilai tertinggi untuk variabel tangibles (bukti fisik) (X1.1). hal ini dapat dibuktikan bahwa ruangan untuk pembayaran rekening nyaman dan ber AC dan ini dinyatakan baik oleh pelanggan.
      Untuk item pertanyaan mengenai pemeliharaan terhadap tandon, jaringan dan meteran (X1.2), 18 responden atau 17,3% menyatakan baik sekali, 37 responden atau 35,6% menyatakan baik, 25 responden atau 24% menyatakan netral (cukup baik), 23 responden atau 22,1% menyatakan kurang baik dan 1 responden atau 1% menyatakan jelek sekali. Berarti dalam hal pemeliharaan fasilitas responden memberikan tanggapan yang beragam terbukti dengan tersebarnya jawaban, namun secara keseluruhan untuk item pertanyaan mengenai pemeliharaan responden menyatakan cukup baik terbukti dari nilai rata-rata 3,654.  
      Untuk item pertanyaan mengenai keamanan tandon, jaringan dan meteran (X1.3), 22 responden atau 21,2% menyatakan baik sekali, 32 responden atau 30,8% menyatakan baik, 24 responden atau 23,1% menyatakan netral (cukup baik), 26 responden atau 25% menyatakan kurang baik dan tidak ada responden menyatakan jelek sekali. Berarti dalam hal keamanan fasilitas responden memberikan tanggapan yang beragam terbukti dengan tersebarnya jawaban, namun secara keseluruhan untuk item pertanyaan mengenai keamanan responden menyatakan cukup baik terbukti dari nilai rata-rata 3,481.
      Item pertanyaan mengenai tersedianya kotak saran di tempat pembayaran rekening (X1.4), 21 responden atau 20,2% menyatakan tersedia dan baik sekali, 41 reponden atau 39,4% menyatakan tersedia dan baik, 21 responden atau 20,2% menyatakan netral, 19 responden atau 18,3% menyatakan tidak tersedia kotak saran dan 2 responden atau 1,9% menyatakan dengan yakin tidak tersedia kotak saran. Dari tanggapan responden yang ada dapat dikatakan bahwa sebagian besar responden menyatakan ditempat pembayaran rekening tersedia kotak saran terbukti niiai rata-ratanya sebesar 3,580.
      Secara keseluruhan menunjukkan bahwa tangibles (bukti fisik) (X1) oleh responden sebagian besar menyatakan cukup baik hal tersebut dapat dilihat dari nilai rata-rata 3,686.

Uji kualitas data
Kesimpulan penelitian yang berupa jawaban atau pemecahan masalah penelitian, dibuat berdasarkan hasil proses pengujian data yang meliputi : Pemilihan, pengumpulan dan analisis data. Kesimpulan tergantung pada kualitas data yang di analisis mengumpulkan data penelitian dan instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Ada dua konsep untuk mengukur kualitas data, yaitu validitas dan reliabilitas. Artinya suatu penelitian akan menghasilkan kesimpulan yang bias apabila datanya kurang valid dan kurang reliabel. Sedang kualitas data penelitian ditentukan oleh kualitas instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data.

Uji Instrumen Penelitian
Validitas dan Reliabilitas
Hasil pengukuran dan data yang diperoleh dengan menggunakan ukuran tersebut dapat digunakan dalam penelitian tersebut jika memiliki kesahihan ukuran (validity of a measure) dan keandalan ukuran (reliability of measure). Ini berarti bahwa jika data diperoleh dari suatu instrumen atau teknik pengumpulan data kita perlu mengetahui apakah data secara benar mengindikasikan perilaku yang diukur. Apakah instrumen atau alat ukur yang digunakan berulang-ulang untuk mengukur gejala yang sama pada responden yang sama memberikan hasil yang sama, dan apakah instrumen atau alat ukur yang digunakan untuk mengukur suatu gejala telah mengukur gejala yang diukur, tidak mengukur gejala lain? Menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut berarti kita menilai apakah instrumen yang kita gunakan valid (sahih) atau reliabel (andal). Menggunakan data yang valid dan reliabel penting agar data empiris yang dikumpulkan merupakan gambaran dari kejadian-kejadian empiris data tersebut diperoleh.

Validitas
Apakah instrumen pengukur, mengukur apa yang saya ingin ukur? Pertanyaan ini berkaitan dengan validitas atau kesahihan pengukuran yang menunjuk pada sejauh mana pengukuran secara akurat merefleksikan pokok isi ukuran. Validitas adalah sejauh mana perbedaan dalam skor pada suatu ninstrumen (item-item dan kategori respon yang diberikan kepada satu variabel khusus) mencerminkan kebenaran perbedaan antara individu-individu, kelompok-kelompok atau situasi-situasi dalam karakteristik (variabel) yang ditemukan untuk ukuran.

Reliabilitas
Reliabilitas atau keandalan adalah keterpercayaan, stabilitas atau kemantaban, konsistensi, prediktabilitas dan ketepatan atau akurasi dari suatu ukuran.
Jika set obyek yang sama diukur berkali-kali  dengan alat ukur yang sama, apakah kita akan memperoleh hasil yang sama dan apakah hasil ukuran yang diperoleh dengan menggunakan alat ukur tertentu merupakan ukuran sebenarnya dari obyek tersebut? Pertanyaan ini berhubungan dengan reliabilitas atau keandalan pengukuran yaitu derajat sejauh mana ukuran menciptakan respon yang sama sepanjang waktu dan lintas situasi.
BAB XI
UJI HIPOTESIS

       Data yang dikumpulkan dan direkam mungkin dalam bentuk angka atau jumlah dan dalam bentuk kata-kata atau gambar. Data tersebut kemudian diolah dan dianalisis. Data diolah untuk mendapatkan data yang siap analisis. Pengolahan data mengubah data menjadi informasi. Hasil pengolahan data berupa data sheet akan memudahkan dalam melakukan analisis data. Kualitas pengolahan data menentukan kualitas data yang akan dianalisis dan karenanya menentukan kualitas hasil analisis data. Demikian eratnya kaitan antara pengolahan dan analisis data sehingga pengolahan data sering dimasukkan menjadi bagian dari analisis data. Analisis data memiliki arti yang luas, yang meliputi penyederhanaan data  penyajian data dan pada umumnya disebut sebagai analisis. Dalam proses analisis data, peneliti mengolah dan mengorganisasi data mentah ke dalam bentuk yang sesuai, terutama untuk diolah dengan menggunakan komputer, menyajikannya dalam berbagai bagan atau gambar untuk meringkas segi-segi atau ciri-cirinya dan menginterpretasi atau memberi makna teoritis atas hasil. Jadi analisis databerkenaan dengan pemilihan alat statistik yang digunakan dan penyajian temuan-temuan.
      Salah satu tujuan penelitian adalah menguji hipotesis. Berdasarkan paradigma penelitian kuantitatif, hipoesis merupakan jawaban atas masalah penelitian yang secara rasional di ambil dari teori. Tujuan pengujian hipotesis untuk menentukan apakah jawaban teoritis yang terkandung dalam pernyataan hipotesis didukung oleh fakta yang dikumpulkan dan dianalisis dalam proses pengujian data.
Pemrosesan data
       Pemrosesan data adalah menghubungkan antara pengumpulan data dan analisis data. Pemrosesan data meliputi transformasi dari observasi yang dihimpun dalam lapangan  ke dalam satu sistem kategori dan menerjemahkan kategori tersebut ke dalam kode yang dapat dipertanggungjawabkan ke analisis kuantitatif. Pengujian hipotesis merupakan proses yang kompleks, terutama jika data yang diteliti merupakan data sampel atau bagian dari populasi. Pernyataan hipotesis, sebagaimana diketahui, merupakan ekspektasi peneliti mengenai karakteristik populasi yang didukung oleh logika teoritis. Berdasarkan hasil pengujian terhadap sebagian populasi (sampel), penelitian membuat keputusan menolak atau mendukung hipotesis.
Penyuntingan
       Data harus diperiksa kembali kualitasnya, proses memeriksa kembali kualitas data dalam instrumen dinamakan penyuntingan (editing). Yang diperiksa kembali adalah kelengkapan, konsistensi, ketepatan, keseragaman dan relevansi. Jika data yang didapat menunjukkan ada cacat yang disebabkan oleh tidak dipenuhinya satu atau beberapa dari syarat data, maka harus dilakukan pengumpulan data ulang ke lapangan untuk mendapatkan data yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan. Jika hal ini tidak mungkin lagi dilakukan, data dari responden tertentu yang tidak lengkap harus didrop sehingga terjadi pengurangan sampel. Asal pengurangannya tidak ekstrem tidak menjadi masalah, tetapi alasan pengurangan sampel harus dijelaskan dalam laporan penelitian dalam sub judul penarikan sampel.
Tabulasi
       Dalam penelitian ilmiah, tabulasi data pada umumnya tidak termasuk dalam analisis data karena dalam tabulasi belum mengungkap hubungan dalam data. Tabulasi hanya menyajikan hitungan frekuensi atau perkiraan numerik tentang distribusi frekuensi dari satu hal. Oleh karena itu, tabulasi merupakan alat analisis atau sebagai alat untuk menyusun kategori ketika mengubah variabel rasio atau interval menjadi nominal atau ordinal atau berdasarkan indeks. Tabulasi kemudian digunakan untuk menciptakan statistik deskriptif
Analisis Data
       Analisis data dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian atau untuk menguji hipotesis-hipotesis penelitian yang telah dinyatakan sebelumnya. Adapun teknik analisis yang biasa digunakan untuk data yang bersifat ordinal adalah:
1.    Regresi Linier berganda
2.    Intepretasi
3.    Uji Fisher (Uji F)
4.    Intepretasi
5.    Uji t
6.    Intepretasi






























BAB XII
UJI ASUMSI KLASIK

1.  Uji Multikoleniaritas
2.  Uji Heterokesdasitas
3.  Uji Autokorelasi




























BAB XIII
PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN

       Satu proyek penelitian dimulai dengan menyusun proposal penelitian. Berdasarkan proposal penelitian tersebut kemudian peneliti mengadakan penelitian. Jika penelitian selesai maka seorang peneliti wajib mengkomunikasikan temuan-temuan penelitian tersebut kepada orang lain dalam berbagai cara. Biasanya dalam bentuk tulisan yang disebut laporan penelitian. Umumnya laporan penelitian menguraikan secara cukup rinci prosedur penelitian yang dipakai  agar memungkinkan peneliti lain mengulangi melakukan penelitian tersebut, kecuali jika kerahasiaan data hasil penelitian harus dijaga. Jika penelitian dilakukan dengan mengambil sampel dari populasi, misalnya, laporan ini harus mencakup bukti-bukti mengenai sejauh mana sampel tersebut mewakili populasi yang bersangkutan. Telah pustaka harus lengkap dan mendalam serta disebutkan sumbernya. Alat pengumpul data yang digunakan harus tepat, mislnya, jangan menggunakan kuisioner bilamana tersedia bukti-bukti yang lebih dapat diandalkan dari sumber-0sumber dokumen atau pengamatan langsung. Jadi hasil penelitian termasuk tahap-tahap, rancangan dan prosedur penelitian harus dilaporkan secara lengkap tanpa ada yang ditutup-tutupi apapun hasilnya.

Perbandingan integral dan sistematika proposal dan laporan hasil penelitian
Proposal Penelitian
Laporan Hasil Penelitian (Skripsi)
BAGIAN AWAL
Halaman Judul





BAGIAN UTAMA
BAB I Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Perumusan Masalah
Batasan Masalah
Tujuan dan manfaat penelitian
Kerangka Pemikiran
BAB II Tinjauan Pustaka
Penelitian Terdahulu
Landasan Teori
Kerangka Konseptual dan hipotesis (jika diperlukan)
BAB III Metode Penelitian
Lokasi Penelitian
Metode pengumpulan data
Penentuan populasi dan sampel (jika diperlukan)
Model analisis data
BAGIAN AKHIR
Jadwal Penelitian (tabel)
Daftar Pustaka





BAGIAN AWAL
Halaman judul
Halaman Pengesahan
Kata Pengantar
Abstrak
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Daftar Lampiran

BAGIAN UTAMA
BAB I Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Perumusan Masalah
Batasan Masalah
Tujuan dan manfaat penelitian
Kerangka Pemikiran
BAB II Tinjauan Pustaka
Penelitian Terdahulu
Landasan Teori
Kerangka Konseptual dan hipotesis (jika diperlukan)
BAB III Metode Penelitian
Lokasi Penelitian
Metode pengumpulan data
Penentuan populasi dan sampel (jika diperlukan)
Model analisis data
BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
Gambaran umum perusahaan
Hasil penelitian
Analisis data
BAB V Kesimpulan dan Saran
BAGIAN AKHIR
Daftar Pustaka dan lampiran

       Pada hakekatnya, baik proposal penelitian maupun laporan hasil penelitian terdiri dari tiga bagian: bagian awal, bagian utama dan bagian akhir.
       Penyusunan proposal penelitian dilakukan pada awal sebelum penelitian dilakukan, yang didalamnya tertuang rencana topik yang akan dibahas, judul, sampai dengan rencana analisis data dan jadwal pelaksanaan penelitian.
Bagian awal
Halaman judul
       Dalam suatu penelitian, judul merupakan suatu yang sangat penting kedudukannya. Judul merupakan “wajah” dari kegiatan penelitian karena memang yang nampak paling dulu dari suatu penelitian adalah judul. Judul berkaitan erat dengan perumusan maslah. Dengan memiliki masalah maka peneliti mengetahui unsur penting untuk dirumuskan menjadi judul penelitian. Buat judul penelitian tidak terlalu panjang tetapi ringkas dan informatif (paling banyak 10 hingga 12 kata). Judul harus singkat tetapi harus mengkomunikasikan topik dan variabel-variabel utama kepada pembaca. Ringkaslah dan hindari kata-kata yang tidak perlu. Tetapi juga tidak terlalu singkat agar judul tidak kehilangan arti.

Bagian Utama
BAB I Pendahuluan.
Pendahuluan merupakan bagian pertama dalam penulisan proposal penelitian, pendahuluan mengatur bagian penelitian secara keseluruhan. Pendahuluan merupakan bagian dari isi proposal penelitian yang sedikitnya memuat tiga aspek (1) Latar belakang yang menjadi motivasi peneliti untuk melakukan penelitian (2) Rumusan Masalah Penelitian (3) Tujuan dan Manfaat Penelitian. Pembahasan dalam bagian ini dimulai dengan uraian yang cukup mengenai arti pentingnya penelitian yang sedang dilakukan dan alasan pemilihan bidang masalah dan topik yang diteliti.
       Selanjutnya pada bagian pendahuluan ini, peneliti harus menyatakan rumusan masalah yang diteliti secara jelas dan dapat diuji melalui pengumpulan data.
       Uraian berikutnya adalah penjelasan mengenai tujuan yang harapkan oleh peneliti dengan adanya penelitian tersebut dan manfaat atau kontribusi apa yang diberikan oleh hasil penelitian tersebut.

BAB II Tinjauan Pustaka
       Bagian ini memuat konsep-konsep teoritis yang digunakan sebagai kerangka atau landasan untuk menjawab masalah penelitian. Pembahasan pada bagian ini difokuskan pada literatur-literatur yang membahas konsep teoritis yang relevan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Peneliti sebaiknya menghindari pembahasan konsep-konsep yang kurang relevan dengan upaya pemecahan masalah penelitian











BAB XIV

PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN

No comments:

Post a Comment