BAB I
PENDAHULUAN
Pengetahuan
dan Ilmu Pengetahuan.
Definisi
Pengetahuan adalah bahan ilmu dan baru bisa menjawab tentang apa, sedang ilmu
pengetahuan adalah menjawab tentang mengapa suatu kenyataan atau kejadian bisa
terjadi. Jadi Ilmu Pengetahuan adalah merupakan sekumpulan pengetahuan dalam
bidang tertentu yang disusun secara sistematis menggunakan metode keilmuan,
dapat dipelajari dan diajarkan dan memiliki nilai guna tertentu.
Dasar-dasar
Pengetahuan
Dasar-dasar
pengetahuan yang menjadi ujung tombak berpikir ilmiah adalah sebagai berikut:
1. Penalaran
Yang
dimaksud penalaran adalah kegiatan berpikir menurut pola tertentu, menurut
logika tertentu dengan tujuan untuk menghasilkan pengetahuan. Berpikir logis
mempunyai konotasi jamak, bersifat analisis. Aliran yang menggunakan penalaran
sebagai sumber kebenaran ini disebut rasionalisme dan yang menganggap fakta
dapat tertangkap melalui pengalaman sebagai kebenaran disebut aliran empirisme.
2. Logika
Yang
dimaksud logika sebagaimana didefinisikan oleh William S.S adalah pengkajian
berpikir secara sahih (valid).
Syarat ilmu pengetahuan
adalah memiliki obyek dan metode ilmiah, atau memiliki dimensi / aspek sebagai
berikut:
1. Aspek
Ontologis
Berkenaan
dengan apa yang dipelajari atau berkenaan dengan obyek studi. Aspek ontologis
berkenaan dengan apa yang ingin diketahui, apa yang dipikirkan, atau yang
menjadi masalah. Contoh aspek ontologis dalam bidang ekonomi adalah perilaku
manusia yang dihadapkan pada persoalan sumber daya manusia yang terbatas dengan
kebutuhan yang tidak terbatas.
2. Aspek
Estimologis
Berkenaan
dengan bagaimana ilmu mempelajari obyek studinya dengan menggunakan metode
tertentu yaitu metode keilmuan atau metode ilmiah yang didukung oleh sarana
berpikir ilmiah. Metode Ilmiah pada dasarnya merupakan gabungan antara pola
berpikir secara induktif (dari hal-hal yang khusus, dianalisis menjadi hal-hal
yang umum), dan pola berpikir secara deduktif (dari hal-hal yang umum,
dianalisis menjadi hal-hal yang khusus). Pola berpikir induktif dan deduktif
disebut juga proses “Logico-hypotetico-veryfikatif”
atau “Deducto-hypotetico-veryfikatif” yang terdiri dari langkah-langkah
sebagai berikut: (1) Merumuskan masalah (2) Menyusun Kerangka Berpikir (3)
Merumuskan Hipotesis (4) Menguji Hipotesis (5) dan Menarik Kesimpulan.
3. Aspek
Aksiologis
Berkenaan
dengan manfaat ilmu. Nilai guna ilmu bisa dilihat secara positif dan normatif.
Secara positif nilai guna ilmu adalah untuk mendiskripsikan, menjelaskan dan
dan memprediksi berbagai fenomena yang sesuai dengan obyek studi yang
dipelajari. Sedangkan secara normatif, nilai guna ilmu adalah untuk
mengendalikan berbagai fenomena kearah yang diinginkan. Secara normatif aspek
aksiologis ilmu erat kaitannya dengan pertimbangan nilai, etika dan moral.
Dalam penelitian aspek aksiologis digambarkan dalam saran-saran atau
rekomendasi hasil penelitian.
Perkembangan Ilmu
Pengetahuan melalui suatu proses Scientific
Research, yang diawali dengan observasi, identifikasi masalah, perumusan
kerangka pemikiran, perumusan hipotesis, pengujian hipotesis, pengumpulan data,
analisis dan interprestasi data, dan penarikan kesimpulan.
Fungsi Ilmu yaitu
mendeskripsikan, menjelaskan, memprediksi, dan mengendalikan. Ilmu melaksanakan
fungsinya melalui teori yang dikandungnya. Teori adalah himpunan definisi,
konsep dan hipotesis tentang hubungan antar variabel. Ciri utama teori adalah
mengandung makna “jika ......., maka .........” Tujuan teori adalah menjelaskan
dan membuat prediksi, sehingga memungkinkan untuk melakukan pengendalian.
Karakteristik Ilmu yaitu
rasional, logis, obyektif dan terbuka, maka seorang ilmuwan selain harus
memiliki sifat-sifat empirisme, rasionalisme dan kritisme, juga harus memiliki
sifat ilmiah sebagai berikut:
(1) Sikap
ingin tahu, yaitu memiliki sikap bertanya atau selalu penasaran terhadap
sesuatu yang gelap, yang tidak wajar dan kesenjangan.
(2) Skeptik,
yaitu bersikap ragu terhadap pernyataan-pernyataan yang belum kuat dasar
pembuktiannya.
(3) Kritis,
yaitu cakap dalam menunjukkan batas-batas soal, mampu menunjukkan
perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan serta cakap menempatkan
pengertian-pengertian yang tepat.
(4) Obyektif,
yaitu mementingkan sifat-sifat obyektif (tidak memihak).
(5) Fre
from etique, bahwa ilmu itu monologis, yaitu menilai apa yang benar dan apa
yang salah, tetapi harus memperhatikan apa yang baik dan apa yang buruk bagi
kemanusiaan.
Komponen-komponen
ilmu
Ilmu
pengetahuan pada hakekatnya memiliki beberapa komponen sebagai berikut:
(1) Teori
yaitu generalisasi yang telah diuji kebenarannya secara ilmiah.
(2) Fakta,
keadaan sebenarnya (empirik), yang diwujudkan dalam jalinan dua konsep atau
lebih.
(3) Fenomena,
yaitu gejala dan kejadian yang ditangkap dengan panca indera, (penglihatan,
pendengaran, penciuman, perasaan, perabaan), kemudian dijadikan konsep (istilah
atau simbol) yang mengandung pengertian singkat dari fenomena.
(4) Konsep,
yaitu istilah atau simbul yang mengandung pengertian singkat dari fenomena.
Struktur
ilmu Pengetahuan, terdiri dari
Konsep
Dasar, --------------- Paradigma , Aksioma
Pengetahuan,
---------------- Data-data
Proses
Ilmiah, ---------------- Ontologis Epistimologis Aksiologis
Ilmu
Pengetahuan, ---------------- Dalil-dalil, hukum-hukum, teori-teori.
Pedoman/
Landasan, ------------------- Kebijakan / Pengambilan Keputusan Pemecahan
Masalah.
Pendekatan
untuk memperoleh kebenaran
Filsafat
ilmu merupakan pengetahuan tentang hakikat kebenaran suatu ilmu. Filsafat
mempelajari akal budi manusia, yang salah satu cirinya adalah selalu ingin tahu
terhadap berbagai hal dan persoalan yang belum diketahui dan dipahaminya.
Karena dorongan ingin tahu itulah, maka manusia selalu mengajukan
pertanyaan-pertanyaan seperti apa (what), mengapa (why), bagaimana (how).
Untuk
memperoleh jawaban dan kebenaran dari berbagai pertanyaan tersebut diatas, ada 3
(tiga) pendekatan yang lazim digunakan, yaitu:
(1) Penemuan
kebenaran melalui pendekatan wahyu
Kebenaran
yang didasarkan pada wahyu merupakan kebenaran (mutlak), karena didasari oleh
keyakinan dan kepercayaan.
(2) Penemuan
kebenaran melalui pendekatan non-ilmiah
Penemuan
kebenaran pengetahuan tidak selalu melalui prosedur dan proses ilmiah, tetapi
juga bisa melalui pendekatan non ilmiah. Pendekatan kebenaran non ilmiah
diperoleh melalui akal sehat, kebetulan, intuitif, trial and error, otoritas
dan kewibawaan.
(3) Penemuan
kebenaran melalui pendekatan Ilmiah
Penemuan
kebenaran melalui pendekatan ilmiah, yaitu kebenaran yang diperoleh dari proses
berpikir dan prosedur ilmiah seperti yang dikemukakan diatas, yaitu diawali
dengan merumuskan masalah, merumuskan kerangka pemikiran, merumuskan hipotesis,
menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan.
BAB II
KONSEP PENELITIAN
Pengertian antara Metode
Penelitian dan Metodologi Penelitian.
Kata Metode Penelitian dan
Metodologi Penelitian sering membingungkan peneliti karena keduanya sering
digunakan secara bergantian atau dipertukarkan. Tidak jarang pengertian metode
dikacaukan dengan pengertian metodologi. Digunakan istilah metodologi
penelitian tetapi tetapi yang dimaksudkan adalah metode penelitian dan
sebaliknya digunakan istilah metode penelitian tetapi yang dimaksud adalah
metodologi penelitian.
Metode
Metode (Yunani: Methodos) adalah cara atau jalan. Metode merupakan cara yang
teratur untuk mencapai suatu maksud yang diinginkan. Sehubungan dengan upaya
ilmiah, metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami obyek yang
menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Oleh sebab itu metode dapat diartikan
sebagai cara mendekati, mengamati dan menjelaskan suatu gejala dengan
menggunakan landasan teori.
Dalam arti luas, metode penelitian
merupakan cara dan prosedur yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki
suatu masalah tertentu dengan maksud mendapatkan informasi untuk digunakan
sebagai solusi atas masalah tersebut. Cara dimaksud dilakukan dengan
menggunakan metode ilmiah yang terdiri dari berbagai tahapan atau
langkah-langkah. Oleh karena itu metode merupakan keseluruhan langkah ilmiah
yang digunakan untuk menemukan solusi atas suatu masalah. Dengan
langkah-langkah tersebut, siapapun yang melaksanakan penelitian dengan mengulang
atau menggunakan metode metode penelitian yang sama untuk obyek dan subyek yang
sama akan memperoleh hasil yang sama pula.
Metodologi.
Tiap cabang ilmu mengembangkan
metodologi yaitu pengetahuan tentang berbagai cara kerja yang disesuaikan dengan
obyek studi ilmu-ilmu yang bersangkutan. Secara etimologis, metodologi (berasal
dari kata methodos = metode dan logos = ilmu) diartikan sebagai ilmu
tentang metode (science of methode).
Jika demikian metodologi penelitian adalah ilmu tentang metode penelitian.
Signifikansi dari pengertian ini
tergantung pada kata metode yang dapat diartikan secara terbatas yang hanya
meliputi pengumpulan data dan analisis data atau dalam arti luas yang meliputi
keseluruhan cara untuk melakukan penelitian. Jika metode menunjuk hanya pada
berbagai sarana yang dengannya data dapat dikumpulkan dan atau dianalisis
metodologi dihubungkan dengan isu-isu utama sebagai berikut: mengapa anda
kumpulkan data tertentu, apa data yang anda kumpulkan, dimana anda kumpulkan
data, bagaimana anda kumpulkan data, bagaimana anda menganalisisnya.
Metodologi penelitianmerupakan ilmu yang
mempelajari cara yang digunakan untuk menyelidiki masalah yang memerlukan
pemecahan. Implisit dalam definisi metodologi adalah satu set prinsip-prinsipatau
kriteria-kriteria yang dengannya para metodologist dapat menilai kebenaran dari prosedur-prosedur penelitian. Hakikat
metodologi penelitian terletak bagaimana
kita mengetahui. Jika ditanyakan apakah gaji dan iklim kerja mempengaruhi
prestasi kerja pegawai, tentu anda menjawab ya. Namun ketika anda anda ditanya
bagaimana mengetahui bahwa gaji dan iklim kerja mempengaruhi prestasi kerja,
masalahnya menjadi lain. Sebelum seorang peneliti dapat memberikan penjelasan
umum dan sahih terhadap perilaku, dia harus mengumpulkan informasi tentang
perilaku yang menjadi perhatian.
Penelitian
Definisi dari penelitian secara
etimologis berasal dari kata “research” (bahasa
Inggris) berasal dari kata “reserare” (bahasa
latin) yang berarti mengungkapkan. Kata “research”
(penelitia, riset) berasal dari kata “re”
dan “to search”.Re berarti
kembali dan “to search” berarti
mencari. Jadi secara etimologis penelitian berarti mencari kembali. Namun makna
yang terkandung dalam kata research jauh
lebih luas dari pada sekedarmencari kembali atau mengungkapkan.
Jadi walaupun penelitian merupakan
sentral untuk penyelidikan dan pencarian solusi atas masalah-masalah dan
kegiatan akademik, belum ada konsensus dalam literatur tentang bagaimana
penelitian harus didefinisikan. Pengertian dapat berbeda untuk orang yang
berbeda. Namun dari banyak definisi yang berbeda, ada beberapa hal yang
disepakati yaitu penelitian adalah satu proses penyelidikan, sistematis dan
metodis, penelitian sebagai solusi atas suatu masalah dan meningkatkan
pengetahuan.
Mengapa mempelajari Metode
Penelitian.
Mahasiswa, dosen, profesional, pusat
penelitian dan pemerintah banyak melakukan penelitian. Wartawan surat kabar dan
televisi, rumah sakit, badan pelayanan sosial, partai politik, manajer bisnis,
badan publik dan bisnis, lembaga penelitian pasar, departemen personalia dan
lembaga swadaya masyarakat juga melakukan penelitian sebagai bagian dari
pekerjaannya. Oleh karena itu setiap
organisasional disemua bidang memerlukan pelatihan dalam metode penelitian. Para mahasiswa dapat
menyusun skripsi, tesis dan desertasi atau tugas akhir dengan baik dan benar
hanya jika mereka memiliki keterampilan dalam metode penelitian.
BAB
III
METODE
PENELITIAN ILMIAH
Pada hakikatnya penelitian bertujuan
untuk memberi solusi atas suatu masalah dan mendapat pengetahuan tentang
sesuatu yang dianggap benar melalui proses observasi. Tanpa penelitian, ilmu
pengetahuan tidak akan berkembang dan membuat solusi atas suatu masalah sulit
dipertanggungjawabkan. Sebelum ilmuwan dapat memberikan penjelasanumum dan
sahih utuk perilaku, dia harus mengumpulkan informasi tentang perilaku yang
menjadi perhatian. Sepanjang sejarah, orang telah sampai pada pemecahan masalah
dan memperoleh pengetahuan tentang perilaku melalui penelitian ilmiah.
Penelitian ilmiah adalah penyelidikan yang sistematis, terkontrol, empiris dan
kritis tentang fenomena-fenomena alami dengan dipandu oleh teori dan
hipotesis-hipotesis tentang hubungan yang diduga terdapat antara
fenomena-fenomena itu. Penelitian ilmiah menggunakan metode ilmiah sehingga
disebut juga metode penelitian ilmiah (scientific
research method).
Penelitian ilmiah merupakan cara yang
tepat untuk menemukan solusi suatu masalah dan untuk mendapatkan pengetahuan.
Penelitian ilmiah merupakan usaha untuk memperoleh informasi tentang suatu
masalah melalui pengamatan empiris yang dapat digunakan untuk pengembangan
secara sistematis dan menetapkan dalil-dalil yang berkaitan secara logis untuk
menetapkan hubungan sebab akibat diantara variabel-variabel. Karena merupakan
aplikasi dari metode ilmiah penelitian
ilmiah berlangsung dalam suatu tahap secara berurutan dan paralel dengan
tahap- tahap dalam metode ilmiah. Tahap tersebut harus dianggap sebagai patokan
utama yang dalam penelitian sesungguhnya mungkin saja berkembang berbagai
variasi sesuai dengan bidang dan permasalahan yang diteliti.
Penelitian ilmiah merupakan cara tepat
untuk memecahkan masalah karena merupakan penyelidikan yang sistematis,
terkontrol, empiris dan kritis tentang fenomena-fenomena alami dengan dipandu
oleh teori dan hipotesis-hipotesis tentang hubungan yang diduga terdapat antara
fenomena-fenomena itu.Tidak setiap penelitian ilmiah mesti dipandu oleh teori
dan hipotesis-hipotesis mengenai hubungan-hubungan yang diduga terdapat antara
gejala-gejala. Namun setiap penelitian ilmiah memiliki beberapa ciri sebagai
berikut:
1. Bertujuan
(purposivenees). Tiap penelitian
ilmiah harus ada tujuannya, baik untuk menemukan jawaban atas suatu
masalah-masalah yang berguna untuk pengembangan ilmu maupun untuk pembuatan keputusan. Contoh:
memusatkan pada peningkatan komitmen pegawai kepada organisasi, akan membantu
organisasi dalam berbagai cara. Peningkatan dalam komitmen pegawai akanberarti
berkurangnya turnover, berkurang
kemangkiran, dan kemungkinan tingkat kinerja meningkat, yang semuanya akan
menguntungkan organisasi. Jadi penelitian memiliki satu fokus tujuan.
2. Sistematis
(sistematic), artinya penyelidikan
ilmiah tertata dengan cara tertentu sehingga penyelidik dapat memiliki
keyakinan kritis atas hasil
penelitiannya. Penelitian ilmiah memiliki suatu struktur. Struktur ini pada
dasarnya merupakan satu perangkat kerangka petuntuk mengenai urutan tahapan-tahapan yang harus dilakukan
oleh peneliti. Urutan tahapan kegiatan tersebut berlangsung dalam suatu proses
secara berurutan (tahap yang satu tidak boleh melangkahi tahap-tahap sebelumnya
untuk langsung ke tahap berikutnya) yang dirumuskan secara jelas, logis antara
tahap yang satu dan tahap yang lainnya sehingga memudahkan untuk memeriksa
relevansi hasil yang didapat dengan cara yang digunakan untuk mendapatkan hasil
tersebut.
3. Empiris
(empirical). Ini berarti bahwa
pendapat atau keyakinan subyektif harus diperiksa dengan menghadapkannya pada
realitas objectif atau melakukan telaah dan uji empiris. Masalah-masalah yang
diteliti adalah masalah yang bersifat empiris. Oleh karenaitu, data terdiri
atas pengalaman-pengalaman peneliti dengan orang, benda, gejala, atau
peristiwa-peristiwa. Ini berarti bahwa materi mentah diperoleh melalui
observasi sistematis atas realita. Data empiris digunakan sebagai solusi
masalah sehingga penelitian empiris telah menjadi padanan untuk penelitian
ilmiah.
4. Objectivitas
(objectivity). Seluruh proses
penelitian, khususnya kesimpulan yang ditarik melalui interprestasi hasil
analisis data, harus obyektif yaitu harus berdasarkan pada fakta yang
dihasilkan dari kata aktual dan tidak pada subyektif pribadi atau nilai-nilai
emosional. Singkatnya, mutu pengamatan dan pengakuan atas fakta sebagaimana
adanya dan bukan sebagaimana yang diharapkan seseorang akan terjadi.
5. Kritis
(critics). Hasil penelitian terbuka
untuk dikritisi, diperiksa, atau diuji terhadap realitas yang obyektif melalui
penelitian dan pengujian lebih lanjut. Oleh karana itu, kritis berarti juga ada
tolok ukur atau kriteria yang digunakan untuk menentukan sesuatu yang dapat
diterima secara eksplisit atau implisit. Sebagai contoh: tolok ukur dalam
menetapkan hipotesis, menentukan subyek dan besarnya sampel, memilih metode
pengumpulan data dan analisis data, dan sebagainya.
6. Generalisabilitas
(generalizability) adalah derajat
sejauh mana temuan temuan spesifik dapat diterapkan kesatu kelompok yang lebih
besar yang disebut populasi atau derajat sejauh mana temuan dapat
digeneralisasi kepopulasi yang lebih luas.
7. Replikabilitas
(replicability), yaitu replikasi atau
pengulangan penelitian oleh peneliti lainnya untuk mengukuhkan
penemuan-penemuan atau memeriksa kebenarannya, baik untuk latar yang sama
ataupun untuk latar yang berbeda. Hal ini dapat dilakukan karena penelitian
ilmiah memiliki suatu struktur. Untuk dapat diulangi, data yang diperoleh dalam
satu eksperimen harus reliabel, yaitu hasil yang sama harus ditemukan jika
studi dulangi. Jika observasi tidak dapat diulangi, deskripsi dan penjelasan
kita menjadi tidak reliabel dan karenanya tidak berguna.
Proses
Penelitian Ilmiah.
Proses Penelitian ilmiah adalah
tahapan-tahapan yang dilakukan secara sistematis dan berurutan untuk
mengerjakan suatu penelitian. Itu adalah satu rangkaian tahapan yang dirancang
dan diikuti, dengan sasaran penemuan jawaban untuk isu-isu yang menjadi
perhatian dalam lingkungan sosial dan kerja. Tahap-tahap dalam penelitian suatu
proyek penelitian termasuk skripsi, tesis, desertasi adalah sebagai berikut:
Tahap
pertama proses penelitian kuantitatif adalah pemilihan dan perumusan masalah.
Tahap
kedua adalah pengembangan kerangka teoritis dan rumusan hipotesis.
Tahap
ketiga adalah menentukan desain penelitian
Tahap
keempat adalah pengukuran (measurement)
Tahap
kelima tentukan subyek (populasi dan sampel)
Tahap
keenam adalah pengumpulan data
Tahap
ketujuh adalah analisis data
Tahap
kedelapan melakukan interpretasi atau pembahasan
Tahap
ke sembilan adalah melaporkan hasil penelitian.
Tipe
Penelitian
Menentukan tipe penelitian atau jenis
penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menggambarkan dan menjelaskan
suatu fenomena atau masalah tidaklah mudah. Adanya berbagai ragam klasifikasi
tipe penelitian menunjukkan belum ada
kesamaan klasifikasi dari para ahli metodologi penelitian. Klasifikasi tipe
penelitian tampak seperti tabel berikut:
Dimensi Klasifikasi
|
Tipe Penelitian
|
Paradigma
|
- Kuantitatif
- Kualitatif
|
Manfaat/
Maksud atau hasil akhir
|
- Dasar
- Terapan
*Evaluasi
*Pengembangan
*Tindakan
|
Tujuan
|
- Eksplorasi
- Deskripsi
- Eksplanasi
- Prediksi
|
Waktu
|
- Lintas-seksional
- Longitudinal
*Seri-waktu
*Pengembangan
*Studi Panel
*Studi Kasus
|
Subyek
|
- Populasi
- Sampel
|
BAB
IV
MASALAH
PENELITIAN
Definisi
Masalah Penelitian.
Awal dari suatu penelitian adalah
masalah. Istilah masalah mengimplikasikan adanya suatu teka-teki yang harus
dipecahkan. Masalah merupakan suatu kesulitan yang dirasakan, suatu perasaan
yang tidak menyenangkan atas suatu situasi atau gejala tertentu. Jika ada
keraguan, kesangsian, kebingungan atau kemenduaan tentang suatu fenomena, itu
dianggap suatu masalah penelitian. Setiap situasi yang didalamnya terdapat
ketaksesuaian antara aktual dan ideal diharapkan atau antara apa yang ada
seharusnya ada dapat disebut sebagai
masalah.
Sebagai contoh “Apakah kelas sosial
mempengaruhi perilaku memilih?” adalah masalah yang dapat diinvestigasi melalui
penelitian ilmiah.
Topik
Penelitian
Walaupun dalam permulaan penelitian
adalah masalah, hal itu harus ditentukan secara jelas dan tepat berkaitan
dengan topik atau bidang apa. Memilih satu topik penelitian, kadang-kadang
disebut sebagai fokus untuk studi, ide-ide penelitian, isu penelitian, masalah
penelitian, merupakan langkah awal yang kita lakukan ketika mempersiapkan satu
rencana penelitian, tidak terkecuali ketika memulai satu proyek penelitian,
skripsi, tesis dan desertasi. Topik penelitian merupakan konsep utama yang
dibahas dalam suatu penelitian dan penulisan ilmiah.
Topik atau fokus atau isu-isu penelitian
merupakan wilayah umum dari penelitian.Biasanya para peneliti menggunakan
isu-isu teoritis umum dan hal-hal praktek atau yang membingungkan secara
empiris sebagai sumber dari topik. Fokus penelitian dapat muncul dari tinjauan
literatur secara ekstensif, dianjurkan oleh rekan, peneliti atau pembimbing
atau dikembangkan melalui pengalaman nyata. Topik merupakan konsep sentral yang
dijelaskan dalam studi (sering dipertukarkan dengan judul penelitian) dan
sangat penting kedudukannya dalam penelitian. Kebiasaan pertanyaan yang
diajikan kepada peneliti umumnya atau kepada mahasiswa penyusun skripsi, tesis
atau desertasi adalah “apa topik penelitian anda?”.
Tidak ada formula untuk memilih satu
topik penelitian. Namun apakah anda adalah seorang peneliti berpengalaman atau
hanya pemula, panduan terbaik adalah melakukan penelitian tentang sesuatu yang
anda minati dan layak diteliti. Untuk menentukan apakah satu topik layak
diteliti dibutuhkan kriteria untuk membuat keputusan. Pertanyaan-pertanyaan berikut
dapat diajukan oleh peneliti ketika mereka merencanakan suatu penelitian.
- Adakah
topik dapat diteliti, waktu tertentu, sumber-sumber dan ketersediaan data?
- Adakah
kepentingan pribadi dalam topik untuk mendukung perhatian?
- Akankah
hasil dari penelitian berguna bagi yang lain?
- Adakah
topik mungkin diterbitkan dalam suatu jurnal ilmiah?
- Apakah
penelitian (a) mengisi suatu kekosongan (b) replikasi atau mengulang (c)
memperluas atau (d) mengembangkan ide-ide baru dalam literatur ilmiah?
- Akankah
proyek penelitian tersebut menyumbang pada tujuan karier?
Peneliti harus mempertimbangkan
pertanyaan-pertanyaan ini dan meminta tanggapan orang lain mengenai topik
tersebut. Mintalah tanggapan dari rekan, terutama dari pihak yang memiliki
kompetensi di bidang tersebut, pembimbing akademik, dosen atau program studi.
Dari
topik kemasalah penelitian.
Para peneliti tidak mengadakan
penelitian tentang satu topik, meskipun satu topik adalah titik permulaan
esensial atau permulaan saat anda memulai penelitian. Tetapi peneliti melakukan
penelitian tentang masalah sehingga dapat dibuat solusi atas masalah tersebut.
Penelitian mulai dengan satu masalah dengan satu situasi problematis. Satu
topik hanya sebagai satu awal permulaan penelitian sehingga peneliti harus
mengubah topik ke satu pertanyaan penelitian spesifik.
Sumber
Topik dan Masalah Penelitian.
Dari mana anda menemukan topik atau
masalah penelitian? Tidak ada jawaban yang definitif terhadap pertanyaan ini.
Namun umumnya ada dua sumber informasi tentang satu topik dan masalah
penelitian yakni sumber teoritis dan praktis.
1) Sumber
Teoritis
Seseorang mungkin menemukan
satu ide atau masalah penelitian bersumber dari teori atau tinjauan literatur. Masalah
penelitian yang bersumber dari teori atau tinjauan literatur ditemukan dalam
berbagai sumber bahan tertulis yang dikelompokkan atas secondary sources
material, seperti buku teks dan primary sources materials, seperti monograph,
jurnal profesional, abstrak atau statistik.
Laporan-laporan penelitian
yang dipublikasi atau tidak dipublikasi juga merupakan sumber masalah
penelitian karena dari suatu penelitian biasanya dapat ditemukan hal yang perlu
diteliti lebih lanjut (mungkin direkomendasikan peneliti untuk diteliti lebih
lanjut oleh orang lain) atau dijumpai masalah-masalah baru yang perlu diteliti.
2) Sumber
Praktis.
Sering ide penelitian muncul
dari kebutuhan untuk memecahkan masalah-masalah praktek. Peneliti menemukan
masalah dari kejadian empiris terutama untuk penelitian terapan problem
oriented. Ide atau masalah praktek dapat diperoleh melalui pengalaman pribadi
peneliti atau dari hasil studi pendahuluan atau penjajakan, baik yang dilakukan
melalui observasi sistematis atau tak sistematis. Observasi tak sistematik diperoleh
secara kebetulan atas suatu kejadian. Observasi sistematis mungkin dilakukan
secara khusus
Motivasi
memilih masalah penelitian.
Umumnya sumber-sumber utama dari ide-ide
atau isu-isu atau masalah- masalah penelitian adalah pengalaman praktek atau
pragmatis (seperti dari pengamatan setiap hari perilaku) dan konsiderasi
teoritis (seperti membaca jurnal ilmiah atau melakukan telaah pustaka).
Memilih masalah yang bersumber dari
teori atau praktek ditentukan oleh motivasi peneliti melakukan penelitian. Semua
peneliti memiliki motivasi untuk apa penelitian yang mereka lakukan. Ada
motivasi kepentingan teoritis dan ada motivasi kepentingan praktis. Motivasi
kepentingan teoritis ialah bahwa ada suatu alasan abstrak atau keilmuan untuk
melakukan penelitian. Dengan kata lain biasanya ada suatu teori yang terdapat
pada suatu bidang ilmu tertentu yang ingin diketahui lebih mendalam oleh
peneliti. Peneliti mungkin ingin menguji, memperbaiki, mengubah, atau
menjelaskan gagasan-gagasan yang disajikan dalam suatu rancangan atau teori
atau mungkin mau mencoba menetapkan suatu teori.
Motivasi kepentingan praktis berkenaan
dengan suatu motivasi yang mempunyai penerapan segera kepada kegiatan yang
berlangsung. Seorang psikolog keluarga mungkin ingin mengetahui apa yang
menyebabkan perceraian, pekerja sosial mungkin mau mengetahui bagaimana
mencegah rantai kemiskinan yang mengikat banyak orang terhadap cara-cara hidup
yang tidak menguntungkan secara ekonomis, atau ahli kependudukan mungkin mau
mengetahui mengapa orang menginginkan
jumlah anggota keluarga tertentu.
Pertimbangan
memilih masalah penelitian.
Memilih masalah untuk dijadikan sebagai
suatu masalah penelitian tidaklah mudah. Ada banyak topik dan masalah tetapi
belum tentu semuanya layak untuk diteliti dan bahkan belum tentu sesuai dengan
bidang keahlian dan secara khusus menarik untuk diteliti. Ada sejumlah
pertimbangan bagi peneliti untuk memilih satu masalah penelitian; diminati,
merupakan masalah penelitian, memiliki karakteristik masalah yang baik dan
memenuhi kelayakan masalah.
1) Diminati
Pertimbangan
pertama adalah memilih satu topik dan masalah yang diminati yang akan
meningkatkan pengetahuan dan pemahaman dalam bidang profesional tertentu yang
membuat anda menjadi lebih baik. Jika masalah bersumber dari teori, konfirmasi
ke situasi empiris dimana masalah tersebut diduga terjadi sehingga dapat
dipastikan kelayakan masalahnya. Sebaliknya jika masalah bersumber dari praktek
periksa di bidang teoritis, perlu diketahui apakah tersedia teori yang dapat
digunakan untuk menjelaskan masalah tersebut. Ketersediaan teori menentukan
apakah masalah layak diteliti.
2) Merupakan
masalah penelitian
Pertimbangan
kedua adalah bahwa masalah yang akan dipilih adalah masalah penelitian. Disebut
masalah penelitian jika paling tidak memiliki tiga kondisi, yaitu antara
harapan dan kenyataan, ada satu pertanyaan tentang mengapa ada dua atau lebih
jawaban yang mungkin untuk yang dipertanyakan. Sebagai contoh: mengapa kinerja
karyawan menurun? Jawaban atas masalah ini dapat bervariasi. Mungkin jumlah
insentif yang diberikan tidak sesuai dengan keinginan karyawan, mungkin jenis
insentif yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan karyawan, mungkin sistem
penerapan insentif tidak adil, mungkin iklim organisasi tidak kondusif atau
mungkin motivasi kerja menurun.
Tidak
semua masalah adalah masalah penelitian atau tidak semua masalah secara empiris
dapat diteliti. Ada juga masalah tetapi bukan masalah penelitian yakni suatu
masalah yang sebelum dilakukan penelitian sudah dapat diketahui secara pasti
jawaban dari masalah tersebut karena tidak ada alternatif lain. Oleh karena itu
tanpa mengadakan penelitian solusi atas masalah tersebut dapat dibuat.
3) Memiliki
karakteristik dari masalah penelitian yang baik
Pertimbangan
ketiga adalah masalah yang dipilih harus memiliki karakteristik masalah yang
baik, ada tiga karakteristik yang baik
a) Dapat
diteliti, satu masalah yang dapat diteliti adalah dapat diselidiki melalui
pengumpulan data dan analisis data
b) Mempunyai
signifikansi teoritis dan pragmatis. Masalah sangat signifikan jika diturunkan
dari teori, bahkan jika masalah bukan teoritikal, bagaimanapun, solusinya harus
berkontribusi dalam beberapa cara untuk memperbaiki masalah-masalah yang ada.
c) Bahwa
masalah tersebut adalah masalah yang baik untuk diteliti dan sesuai dengan
tingkat ketrampilan penelitian dan tersedian sumber-sumber dan waktu yang
dimiliki.
4) Memenuhi
kelayakan masalah penelitian
Tidak
semua masalah penelitian dapat dijadikan permasalahn untuk diteliti. Meskipun
masalah penelitian telah memiliki karakteristik masalah yang baik masih perlu
diklasifikasi melalui kriteria pertimbangan kelayakan masalah. Kriteria ini
perlu bukan saja agar peneliti lebih mengenal masalah penelitiannya, melainkan
juga dapat menghilangkan atau mengurangi kesulitan yang mungkin timbul dalam
tahap penelitian berikutnya. Ada empat kriteria pertimbangan kelayakan masalah,
yakni masalah, peneliti, pemecahan dan hasil.
a) Masalah
Dari
masalah dapat dipertanyakan apakah ada kebutuhan yang dirasakan yang tidak
menyenangkan hingga perlu dilakukan sesuatu untuk mengatasi atau mencari solusi
atas masalah tersebut dan apakah masalah tersebut merupakan masalah baru atau
telah kadaluarsa? Jika situasi yang tidak menyenangkan tersebut memerlukan
solusi untuk tindakan perbaikan, dan merupakan sesuatu yang baru, masalah
tersebut layak dipilih untuk diteliti. Bahwa masalah harus jelas dan spesifik,
dikemukakan dengan bahasa yang lugas sehingga tidak menimbulkan keraguan
tentang arti masalah yang dikemukakan.
b) Peneliti
Dari
peneliti dapat diajukan pertanyaan apakah masalah tersebut sesuai dengan minat
dan perhatian peneliti dan menarik untuk diteliti? Ini berhubuingan dengan
motivasi peneliti sebagai aspek esensial untuk keberhasilan melakukan
penelitian. Kemudian apakah masalah tersebut dapat diteliti oleh peneliti
dihubungkan dengan persoalan-persoalan keterbatasan biaya, waktu yang tersedia,
kemampuan penguasaan teori dan metodologi penelitian?
c) Pemecahan
Dari
pemecahan masalah dapat dipertanyakan apakah tersedia teori atau kerangka
teoritis yang dapat digunakan untuk menjelaskan masalah, apakah tersedia data
dan tidak akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan data, apakah tersedia alat
pengumpul data dan teknik analisis untuk memecahkan masalah? Jika jawaban atas
pertanyaan di atas adlah ya, masalah tersebut layak dijadikan masalah
penelitian.
d) Hasil
Dari
hasil dapat dipertanyakan apakah hasil penelitian berguna untuk pemecahan
masalah praktis atau memperbaiki kondisi
empiris yang dihadapi atau sebagai rekomendasi kebijakan yang berguna bagi
masyarakat yang berkepentingan dan apakah juga memberi kontribusi bagi
pengembangan ilmu terutama pada bidang ilmu yang relevan dengan landasan teori
yang digunakan? Jika jawabannya ya masalah tersebut layak dipilih sebagai
masalah penelitian.
Perumusan
Masalah
Setelah
isu atau masalah perilaku untuk diteliti dipilih apakah teori atau praktis atau
keduanya, tahap selanjutnya adalah merumuskan pertanyaan-pertanyaan penelitian
yang dihubungkan dengan topik atau isu-isu yang selanjutnya akan diuji secara
empiris. Ini disebut sebagai perumusan masalah atau kadang-kadang disebut
definisi masalah. Perumusan masalah adalah konteks penelitian yang mengarahkan
pelaksanaan dan pencapaian tujuan penelitian. Peneliti memusatkan perhatian
pada masalah atau pertanyaan penelitian. Namun seorang peneliti tidak selalu
mampu merumuskan masalah penelitiannya secara sederhana, tepat, jelas dan
lengkap. Masalah penelitian merupakan situasi problematis yang perlu
dipecahkan, baik untuk tujuan teoritis, pengembangan ilmu maupun untuk tujuan
pragmatis.
Memiliki satu masalah dalam suatu
penelitian adalah tidak cukup. Anda harus menterjemahkan masalah tersebut ke
dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian yang baik. Pertanyaan penelitian adalah
krusial. Tidak adanya pertanyaan penelitian atau pertanyaan penelitian yang
dirumuskan secara buruk akan berdampak pada buruknya penelitian. Jika
pertanyaan penelitian tidak spesifik dan jelas, ada resiko yaitu penelitian
akan menjadi tidak fokus dan bahwa akan menjadi tak pasti tentang apa
penelitian serta tentang dan untuk apa data yang dikumpulkan. Juga tidak jelas
tentang bagaimana merancang kuesioner dan keterampilan wawancara.
Konsiderasi yang perlu diperhatikan
ketika mengembangkan pertanyaan penelitian untuk skripsi, tesis, desertasi atau
proyek adalah
1) Jelas,
dapat dimengerti oleh anda dan orang lain
2) Dapat
diteliti, harus kapabel berkembang dalam satu rancangan penelitian sehingga
data dapat dikumpulkan dalam hubungan dengan pertanyaan penelitian.
3) Berhubungan
dengan penetapan teori dan penelitian, harus ada literatur yang dapat ditarik
untuk membantu menjelaskan bagaimana pertanyaan penelitian harus didekati, juga
untuk memberikan atau memperlihatkan bagaimana penelitian dapat memberi
kontribusi untuk pengetahuan dan pemahaman.
4) Berhubungan
dengan yang lain, pertanyaan-pertanyaan penelitian yang tidak bertalian tidak
mungkin dapat diterima.
5) Memiliki
potensi untuk pembuatan satu kontribusi untuk pengetahuan, perlu paling sedikit
prospek untuk mampu membuat kontribusi bagiamanapun kecilnya untuk topik yang
menjadi bahasan.
6) Spesifik,
memiliki presisi dan tidak mendua, rumusan masalah harus mencakup analisis unsur-unsur
yang paling sederhana, ruang lingkup dan batasan-batasannya dan spesifikasi
terperinci dari arti semua kata yang berarti dalam penelitian.
Karakteristik
perumusan masalah
Merumuskan
masalah yang benar dan baik tidak cukup hanya menggunakan intuisi maupun
pengalaman sendiri. Penguasaan teori dan juga pengetahuan tentang hasil
penelitian orang lain, baik yang telah dipublikasi maupun yang belum, yang ada
kaitan dengan masalah yang akan diteliti, adalah sangat diperlukan untuk dapat
merumuskan masalah penelitian dengan tajam dan baik. Tajam berarti masalah yang
menjadi obyek penelitian jelas, sedang baik berarti masalah tersebut dapat
diangkat menjadi obyek penelitian dan berguna bagi kepentingan masyarakat dan
pengembangan teori. Untuk itu, peneliti harus bersikap kritis dalam membaca,
mendengar dan berpikir serta harus mampu mengungkap kembali gagasan-gagasan
dari penelitian-penelitian dan bacaan-bacaan mutakhir. Dengan mengingat
kesulitan merumuskan masalah, Kerlinger mengemukakan “Jika kita hendak
memecahkan suatu masalah, kita harus secara umum mengetahui apa masalahnya.
Dapat dikatakan bahwa sebagian besar pemecahannya terletak pada pengetahuan
kita tentang hal yang sedang kita coba mengerjakannya, Sebagian lagi terletak
pada pengetahuan tentang sifat hakikat suatu masalah, khususnya sifat hakikat
suatu masalah ilmiah”.
BAB V
TINJAUAN
PUSTAKA
Tahap berikutnya dari rangkaian
penelitian yang dilakukan adalah peneliti melakukan apa yang disebut dengan
tinjauan pustaka, yaitu mempelajari buku-buku referensi dan hasil penelitian
sejenis sebelumnya yang pernah dilakukan oleh orang lain. Tujuannya adalah
untuk mendapatkan landasan teori mengenai masalah yang akan diteliti. Teori
merupakan pijakan bagi peneliti untuk memahami persoalan yang akan diteliti
dengan benar sesuai dengan kerangka berpikir ilmiah.
Tinjauan
Pustaka dalam penelitian
Setelah satu masalah dipilih,
digambarkan, dinyatakan secara jelas, menurut Gay dan Diehl, peneliti siap
untuk melakukan telaah literatur yang berhubungan dan siap merumuskan
hipotesis. Telaah pustaka atau literatur (juga disebut survai literatur) adalah
proses melokasi, memperoleh, membaca dan mengevaluasi literatur penelitian
dalam bidang yang diminati. Alasan utama untuk perlu melakukan telaah literatur
adalah untuk menghindari duplikasi, membantu merancang tahap penelitian dan
membantu untuk memperbaharui empiris yang baru atau kontroversi teoritis dalam
satu bidang penelitian tertentu. Perancanangan satu studi meliputi keputusan
seperti apa variabel yang dicakup dan bagaimana mengukur, apa alat yang
digunakan, apa prosedur yang digunakan dan sebagainya.
Melakukan telaah pustaka merupakan satu
tahap dalam prses penelitian dan menjadi satu elemen penting dalam format
rencana penelitian yang dibuat dalam satu seksi terpisah untuk satu model
penelitian.
Rencana penelitian manapun yang diikuti
dalam suatu penelitian, sangat pasti bahwa telaah literatur meliputi
identifikasi sistematis, lokasi dan analisis dokumen-dokumen meliputi indeks
periodik atau jurnal, abstrak, telaah, buku, materi statistik dan laporan
penelitian lain yang memuat informasi yang berhubungan dengan masalah
penelitian. Tujuan utama telaah literatur adalah menentukan apakah peneliti
siap berhubungan dengan lapangan yang dipilih. Pengetahuan ini tidak hanya
menghindarkan duplikasi tak sengaja tetapi juga menyediakan pemahaman dan
wawasan yang berguna untuk pengembangan suatu kerangka logis yang didalamnya
masalah telah dirumuskan.
Telaah literatur digunakan untuk
membangun kerangka teoritis yang berhubungan dengan lapangan yang diteliti.
Hubungan antara survei literatur dan kerangka teoritis dapat dijelaskan sebagai
berikut. Telaah literatur atau survei literatur, memberikan satu pondasi yang
solid untuk pengembangan kerangka teoritis. Survei literatur mengidentifikasi
variabel yang mungkin penting, seperti ditentukan oleh temuan-temuan
penelitian. Kerangka teoritis merupakan pondasi yang didalamnya seluruh proyek
penelitian didasarkan. Manfaatnya adalah pertama, menentukan siapa dan apa yang
akan atau tidak akan dikaji, kedua, menegaskan adanya beberapa hubungan.
Setelah
membangun kerangka teoritis atau telaah literatur, formulasi dan rumusan
hipotesis kemudian dibuat. Hipotesis diformulasi dari kerangka teoritis atau
mengikuti telaah literatur yangb berhubungan. Tujuan pokok dari telaah
literatur bukan hanya membantu memformulasi hipoteis melainkan juga membantu
untuk merumuskan satu tujuan atau pertanyaan penelitian yang jelas.
Fungsi lain dari telaah pustaka adalah
menunjukkan strategi penelitian dan prosedur khusus dan pengukuran instrumen
dalam penyelidikan masalah. Akhirnya telaah pustaka juga berfungsi memudahkan
interpretasi hasil penelitian. Hasil dapat didiskusikan dalam istilah tentang
apakah setuju dengan dan mendukung temuan-temuan sebelumnya atau tidak. Jika
hasilnya bertentangan dengan temuan-temuan sebelumnya, perbedaan antara hasil
penelitian kita dan yang lain dapat digambarkan, memberi rasionalisasi untuk
ketidaksesuaian. Jika hasil temuan kita konsisten dengan temuan yang lain atau
sebelumnya, laporan hasil penelitian kita harus memasukkan sugesti atau saran
untuk tahap berikutnya. Sedangkan jika tidak konsisten, laporan hasil
penelitian kita harus memasukkan saran untuk penelitian atau studi yang akan
memecahkan konflik itu.
Jadi fungsi dan tujuan utama telaah
pustaka bukan saja untuk membantu menentukan masalah, merumuskan masalah dan
menyusun kerangka teoritis melainkan juga untuk menentukan strategi dan
prosedur spesifik penelitian dan instrumen pengukuran yang mungkin digunakan
dalam proses penyelidikan, pilihan atas metode pengumpulan data dan analisis
data dan juga untuk interpretasi. Singkatnya telaah pustaka dan teori
penting dan dibutuhkan untuk seluruh
proses penelitian.
Kerangka Teoritis
Kerangka teoritis merupakan satu
komponen penting dalam penelitian. Setiap tahap perumusan masalah, tahap
berikutnya adalah peneliti memberi penjelasan atas masalah penelitian yang
dirumuskan. Penjelasan teoritis atas masalah empiris disebut kerangka teoritis.
Penjelasan dilakukan dengan menggunakan teori-teori. Teori berusaha menjawab
pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa dan bagaimana suatu masalah empiris.
Teori yang digunakan untuk menjelaskan masalah harus relevan dengan konteks dan
isi.
Kerangka teoritis didefinisikan sebagai
satu model konseptuan tentang bagaimana teori dari satu hubungan antara
masing-masing faktor yeng telah diidentifikasi sebagai penting untuk masalah.
Kerangka teoritis adalah suatu kumpulan teori dan model dari literatur yang
menjelaskan hubungan dalam masalah tertentu. Dari kerangka teoritis, hipotesis
dapat dirumuskan untuk melihat kebenaran atau ketidakbenaran penjelasan
teoritis sebagaimana dikemukakan dalam kerangka teoritis. Dalam kerangka
teoritis , secara logis dikembangkan, digambarkan dan dielaborasi
jaringan-jaringan dari asosiasi antara variabel-variabel yang diidentifikasi
melalui survei atau telaah literatur.
Membangun kerangka teoritis dalam suatu
penelitian dimaksudkan untuk menggambarkan dan menjelaskan satu fenomena atau
hubungan antara dua atau lebih fenomena atau kejadian atau perilaku. Membangun
kerangka teoritis akan membantu meningkatkan pengetahuan dan pengertian
peneliti terhadap gejala dan hubungan antar gejala yang diamati. Teori bukan
hanya membantu menjawab pertanyaan apa karakteristik suatu fenomena tertentu
melainkan juga menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana hubungan antara satu
fenomena dengan fenomena lain. Seorang peneliti misal ingin menjelaskan tingkat
pendapatan seseorang. Melalui survei literatur dia memiliki suatu teori sebagai
berikut: “Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin tinggi pula
tingkat pendapatannya”. Jadi berdasarkan teori tersebut, diketahui tingkat
pendidikan seseorang dan berdasarkan tingkat pendidikan dapat diprediksi
tingkat pendapatannya.
Kerangka
Pemikiran
Kerangka
pemikiran merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala dari obyek
permasalahan, alur pemikiran yang logis dalam membangunkerangka berpikir yang
membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis.
Kesimpulan tentang hubungan antar
variabel yang disusun berdasarkan teori yang telah diuji kebenarannya,
selanjutnya digunakan alat analisis dengan sistematis sehingga menghasilkan
kesimpulan tentang hubungan antara variabel yang diteliti dan akhirnya
digunakan merumuskan hipotesis. Kerangka Pemikiran memuat alur dalam bentuk
diagram alir (flow chart) berikut penjelasannya.
Kerangka
konseptual
Apabila kerangka pemikiran adalah alur
pemikiran yang bersifat menyeluruh, kerangka konseptual adalah merupakan
kerangka berpikir yang lebih rinci, mengenai variabel-variabel yang terlibat,
hubungan antar variabel serta akan muncul hipotesis-hipotesis yang diperlukan
dalam penelitian. Kerangka konseptual awalnya berangkat dari pengembangan
konsep-konsep yang telah diuraikan dalam landasan teori dan penjabaran dari
kerangka pemikiran yang telah dibuat sebelumnya.
BAB VI
HIPOTESIS
Hipotesis merupakan satu tipe proposisi yang
langsung dapat diuji. Karena itu, hipotesis selalu mengambil bentuk atau
dinyatakan dalam kalimat pernyataan dan dalam pernyataan ini secara umum dihubungkan satu atau lebih
variabel dengan satu atau lebih variabel lain. Satu hipotesis adalah satu pernyataan
atau jawaban tentativ tentang hubungan antara dua atau lebih variabel. Ia
merupakan jawaban atau dugaan atau penjelasan sementara tentang perilaku, atau
gejala atau keadaan sebagaimana
dikemukakan dalam rumusan masalah. Ia merupakan satu pernyataan tentatif
tentang hubungan antara dua variabel (independen dan dependen) dan hubungan
tersebut dapat diuji secara empiris. Perhatikan beberapa definisi hipotesis
berikut.
1. Hipotesis
adalah pernyataan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih.
2. A hyphotesis is a
proposition that is stated in testable form and predicts a particular
relationship two or more variable.
3. An hyphotesis can defined as
a logically conjectured relationship between two or more variable expressed to
in the form of tastable statements
4. Hypotheses are tentative
answers research problem
Jadi hipotesis adalah pernyataan atau
jawaban tentatif atas masalah dan kemudian hipotesis dapat diverifikasi hanya
setelah hipotesis diuji secara empiris. Tujuan pengujian hipotesis ialah untuk mengetahuai kebenaran atau
ketidak benaran atau menerima atau menolak jawaban tentatif
Pentingnya
hipotesis.
Hipotesis merupakan elemen penting dalam
penelitian ilmiah. Ada tiga alasan utama yang mendukung pandangan ini. Pertama,
hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis dapat dirunut
dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti.
Kedua, hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak
benar. Ketiga, hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan
pengetahuan karena membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri, artinya
hipotesis disusun dan diuji untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas
dari nilai dan pendapat peneliti yang menyusun dan mengujinya. Disamping itu
hipotesis juga memiliki fungsi penting dalam penelitian yaitu untuk menguji
teori, mendorong munculnya teori, menerangkan fenomena sosial, sebagai pedoman
untuk mengarahkan penelitian dan memberi kerangka untuk menyusun kesimpulan yang
akan dihasilkan.
Walaupun hipotesis penting sebagai arah
dan pedoman kerja dalam penelitian, tidak semua penelitian mutlak harus
memiliki hipotesis. Penggunaan hipotesis dalam suatu penelitian didasarkan pada
masalah atau tujuan penelitian. Dalam masalah atau tujuan penelitian tampak
apakah penelitian menggunakan hipotesis atau tidak. Penelitian eksplorasi yang
tujuannya untuk menggali dan mengumpulkan sebanyak mungkin data atau informasi
tidak menggunakan hipotesis. Akan halnya penelitian deskriptif, ada yang
berpendapat tidak menggunakan hipotesis sebab hanya membuat deskripsi atau
mengukur secara cermat tentang fenomena yang diteliti, tetapi ada juga yang
menganggap penelitian deskriptif dapat menggunakan hipotesis. Sedangkan dalam
penelitian penjelasan yang bertujuan menjelaskan hubungan antar variabel adalah
keharusan untuk menggunakan hipotesis.
Hubungan
antara Teori dan Hipotesis.
Hipotesis adalah satu jenis proposisi,
yang dirumuskan sebagai jawaban tentatif atas suatu masalah dan kemudian diuji
secara empiris. Sebagai satu jenis proposisi, umumnya hipotesis menyatakan
hubungan antara dua variabel atau lebih varaibel yang didalamnya
pernyataan-pernyataan hubungan tersebut telah diformulasikan dala kerangka
teoritis. Hipotesis diformulasi, diturunkan atau bersumber dari teori dan
tinjauan literatur yang berhubungan dengan masalah.
Pernyataan hubungan antara variabel,
sebagaimana dirumuskan dalam hipotesis, merupakan dugaan sementara atas suatu
masalah yang didasarkan pada jaringan asosiasi yang telah dijelaskan dalam
kerangka teoritis yang diformulasi untuk menjelaskan masalah penelitian. Sebab
teori yang tepat akan menghasilkan hipotesis yang tepat untuk digunakan sebagai
jawaban sementara atas masalah yang diteliti atau dipelajari. Dalam penelitian
kuantitatif, peneliti menguji satu teopri. Untuk menguji teori tersebut,
peneliti menguji hipotesis yang diturunkan dari teori. Agar teori yang
digunakan sebagai dasar penyusunan hipotesis dapat diamati atau diukur dalam
kenyataan empiris, teori tersebut harus dijabarkan ke dalam bentuk yang konkret
yang dapat diamati dan diukur. Cara yang umum digunakan ialah melalui proses
operasionalisasi, yaitu menurunkan tingkat keabstrakan suatu teori menjadi
tingkat yang lebih konkret yang menunjuk fenomena empiris atau ke dalam bentuk
proposisi yang dapat diamati atau dapat diukur. Proposisi yang dapat diukur
atau diamati adalah proposisi yang menyatakan hubungan antar variabel.
Proposisi inilah yang dinamakan hipotesis.
Karakteristik
Hipotesis.
Satu hipotesis dapat diuji apabila
hipotesis tersebut dirumuskan dengan bena.
Kegagalan merumuskan hipotesis akan mengaburkan hasil penelitian.
Meskipun hipotesis telah memenuhi syarat secara proposional, jika hipotesis
tersebut masih abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian, melainkan
juga sukar diuji secara empiris. Sering kali peneliti merumuskan hipotesis yang
sangat umum sehingga tidak dapat diuji secara langsung.
Sebaliknya, merumuskan hipotesis dengan
kekhususan ataupenyempitan yang terlalu tinggi kadarnya juga dapat menyebabkan
hipotesis kehilangan eksistensinya. Umumnya, makin spesifik suatu hipotesis,
implikasi-implikasi pengujiannya menjadi semakin jelas, tetapi resikonya adalah
sepele dan remeh. Misal, “ketepatan hadir di kantor mempengaruhi kecepatan
penyelesaian pekerjaan”, sungguhpun penting dan menarik untuk diteliti, tetapi
hipotesis tersebut terlalu sempit dan kecil untuk dijadikan penelitian. Dalam
hal kedua sisi ekstrem ini (terlalu umum atau terlalu spesifik), kekhususan
yang terlalu tinggi kadarnya mungkin lebih berbahaya dari pada keumuman yang
terlalu luas. Oleh sebab itu, harus ditempuh semacam kompromi antara generalis
dan spesifitas.
Untuk memformulasi hipotesis yang benar
atau baik, sedikitnya harus memiliki beberapa ciri-ciri pokok, yakni:
1. Hipotesis
diderivasi dari suatu teori yang disusun untuk menjelaskan masalah dan
dinyatakan dalam proposisi-proposisi. Oleh sebab itu, hipotesis merupakan
jawaban atau dugaan sementara atas masalah yang dirumuskan atau searah dengan
tujuan penelitian.
2. Hipotesis
harus dinyatakan secara jelas, dalam terminologi yang benar dan secara
operasional. Aturan untuk menguji satu hipotesis secara empiris adalah harus
mendefinisikan secara operasional semua variabel dalam hipotesis dan diketahui
secara pasti variabel independen dan variabel dependen.
3. Hipotesis
menyatakan variasi nilai sehingga dapat diukur secara empiris dan memberikan
gambaran tentang fenomena yang diteliti. Untuk hipotesis deskriptif berart
hipotesis secara jelas menyatakan kondisi, ukuran atau distribusi suatu
variabel atau fenomena yang dinyatakan dengan nilai-nilai yang mempunyai makna.
Untuk hipotesis kausal atau penjelasan berarti hipotesis menyatakan sifat hubungan
kausal, bentuk hubungan linier atau tak linier dan arah hubungan positif atau
negatif.
4. Hipotesis
harus value free. Artinya nilai-nilai yang dimiliki peneliti dan preferensi
subyektivitas tidak memiliki tempat didalam pendekatan ilmiah seperti halnya
dalam hipotesis.
5. Hipotesis
harus dapat diuji. Untuk itu instrumen harus ada atau dapat dikembangkan yang
dapat menggambarkan ukuran yang valid dan reliabel dari variabel yang diliputi.
Kemudian hipotesis dapat diuji dengan metode yang tersedia yang dapat digunakan
untuk mengujinya. Oleh sebab itu, evaluasi hipotesis bergantung pada ekdidtensi
metode-metode untuk mengujinya, baik metode observasi, pengumpulan data,
analisis data, maupun generalisasi.
6. Hipotesis
harus spesifik. Hipotesis harus bersifat spesifik yang menunjukan kenyataan
empiris. Peneliti harus memiliki hubungan eksplisit yang diharapkan diantara
variabel dalam istilah arah seperti, positif atau negatif. Satu hipotesis
menyatakan bahwa X berhubungan dengan Y adalah sangat umum. Hubungan antara X
dan Y dapat positif atau negatif. Selanjutnya, hubungan tidak bebas dari waktu,
ruang atau unik analisis yang jelas. Jadi hipotesis akan menekankan hubungan
yang diharapkan diantara variabel, sebagaimana kondisi dibawah hubungan yang
diharapkan untuk dimanifestasi. Sehubungan dengan hal tersebut, teori menjadi
penting secara khusus dalam pembentukan hipotesis yang dapat diteliti karena
dalam teori dijelaskan arah hubungan antara variabel yang akan dihipotesiskan.
7. Hipotesis
harus menyatakan perbedaan atau hubungan antar variabel. Satu hipotesis yang
memuaskan adalah salah satu hubungan yang diharapkan diantara variabel dibuat
secara eksplisit.
BAB VII
METODE PENELITIAN
Setelah merumuskan pertanyaan penelitian
atau hipotesis, sekarang berada dalam posisi untuk memutuskan disain atau
rancangan penelitian yang cocok. Peneliti siap untuk memutuskan satu disain
penelitian yang cocok digunakan untuk mengevaluasi hubungan-hubungan yang
diduga ada atau menguji hipotesis. Pemilihan suatu disain penelitian yang tepat
secara krusial penting untuk keberhasilan sebuah proyek penelitian. Dalam
disain penelitian, diidentifikasi hubunganhubungan antar variabel yang akan
dijelaskan dalam penelitian, apakah melakukan rancangan hubungan korelasional
(mengukur dua atau lebih variabel dan melihat hubungan antara mereka) atau
hubungan kausal atau eksperimental (memanipulasi satu variabel dan melihat
perubahan yang bersamaan dalam kelompok ke dua), juga dijelaskan apakah
mengadakan penelitian dilaboratorium atau di lapangan.
Bab ini menjelaskan hakikat disain
penelitian, memperkenalkan tipe utama dari disain penelitian, dan menggambarkan
bagaimana masing-masing tipe berusaha mencoba memecahkan masalah-masalah
penelitian.
Definisi
Disain Penelitian.
Pemilihan disain penelitian yang sesuai
secara krusial penting untuk keberhasilan proyek penelitian. Keputusan yang
dibuat pada tahap proses penelitian ini sangat menentukan kualitas kesimpulan
yang digambarkan dari hasil penelitian. Satu disain penelitian adalah strategi
yang memandu dan digunakan penyeliik dalam pengumpulan data, penganalisaan
temuan-temuan dan pengintepretasian data dari mana kemudian digambarkan kesimpulan-kesimpulan.
Jadi disain penelitian adalah rencana
dan struktur penyelidikan yang disusun sedemikian rupa sehingga peneliti akan
dapat memperoleh jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan penelitiannya. Rencana itu
merupakan suatu skema menyeluruh yang mencakup program penelitian. Dalam disain
penelitian, terangkum paparan mengenai
hal-hal yang akan dilakukan oleh peneliti, mulai ari penulisan hipotesis dan
implikasi operasional hipotesis tersebut sampai pada analisis akhir terhadap
data. Adapaun suatu struktur adalah kerangka, pengaturan, atau konfigurasi
unsur-unsur struktur itu yang terhubung dengan cara-cara yang jelas serta
tertentu. Cara terbaik untuk menyatakan struktur ialah menuliskan persamaan
matematik yang merelasikan bagian-bagian struktur tersebut satu dan lainnya.
Selain itu disain penelitian yang perlu
diperhatikan adalah variabel yang digunakan, variabel ditentukan besaran atau
ukurannya,
l Besaran (quantity) adalah sesuatu yang mempunyai besar
(magnitude) atau ukuran.
l Ada dua jenis besaran;
1. tetapan atau konstanta yaitu besaran
yang besarnya tetap, tertentu
2. perubah atau variabel yaitu besaran yang
besarnya berubah-ubah, bervariasi, membentuk sekumpulan data atau informasi.
Sedang untuk data yang berbentuk variabel,
l Dua variabel atau lebih hanya dapat;
- dibandingkan atau dibedakan, apabila
teoritik memang layak dibandingkan
- dihubungkan, apabila teoritik memang
layak dihubungkan.
Variabel
dan hubungan antar variabel
Jika penelitian dilakukan untuk
menjelaskan hubungan antara variabel, peneliti perlu memahami posisi variabel
dalam hubungan antara variabel dan hubungan antara variabel itu sendiri.
Seorang peneliti perlu memahami berbagai macamtipe variabel dan posisinya dalam
hubungan antara variabel sebab tiap variabel mempunyai posisi dalam tiap
hubungan antara variabel. Ia bisa sebagai variabel independen, variabel
dependen, variabel kontingensi, variabel antara atau variabel kontrol. Kemudian
hakikat dan macam hubungan antara variabelpun penting dipahami oleh peneliti
sebab satu ciri penting dari preposisi atau hipotesis adalah pola dari hubungan
yang ada dalam preposisi atau hipotesis tersebut. Hubungan antara variabel
dapat dijelaskan dari sifat, pola atau bentuk, arah dan kekuatan hubungan.
Variabel
bebas (Independent Variable)
Variabel bebas merupakan variabel
stimulus atau variabel yang mempengaruhi variabel lain. Variabel bebas merupakan variabel yang variabelnya diukur,
dimanipulasi atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungannya dengan
suatu gejala yang diobservasi.Didalam penelitian hubungan kausal biasanya
dimulai dengan suatu akibat, baru kemudian ia mencari sebab-sebabnya. Dalam
sebuah diagram hubungan antar variabel, variabel sebab berposisi pada sebelah
kiri dan variabel akibat berposisi di sebelah kanan. Variabel yang berposisi di
sebelah kiri disebut sebagai variabel independen atau variabel bebas, sedangkan
variabel yang berposisi di sebelah kanan sesudah variabel independen disebut
variabel dependen.
Variabel
terikat (Dependent Variable)
Variabel terikat adalah variabel yang
memberikan reaksi/respon jika dihubungkan dengan variabel bebas. Variabel
terikat adalah variabel yang variabelnya diamati dan diukur untuk menentukan
pengaruh yang disebabkan oleh variabel bebas. Jika variabel independen ada,
variabel dependen juga ada, dan jika ada peningkatan dalam variabel independen
mungkin akan terjadi suatu peningkatan atau penurunan dalam variabel dependen.
Jika terjadi perubahan nilai dalam variabel independen, perubahan nilai
tersebut direspon secara positif atau negatif oleh variabel dependen. Variabel dependen
adalah akibat yang dipradugakan, yang bervariasi mengikuti perubahan atau
variasi variabel bebas.
Hubungan
antara variabel bebas dengan variabel terikat.
Pada umumnya orang melakukan penelitian
dengan menggunakan lebih dari satu variabel, yaitu variabel bebas dan variabel
terikat. Kedua variabel tersebut kemudian dicari hubungannya. Kita mengatakan
bahwa ada hubungan antara dua atau lebih variabel bila perubahan dalam nilai
dari satu variabel (variabel independen) secara sistematis membawa perubahan
dalam nilai variabel lain (variabel dependen).
Contoh:
1) Hipotesis
penelitian: Ada hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kinerja karyawan.
Variabel bebas : Gaya kepemimpinan
Variabel terikat : Kinerja karyawan
Gaya kepemimpinan mempunyai hubungan
dengan kinerja karyawan, misal gaya kepemimpinan yang sentralistik akan
berdampak terhadap kinerja karyawan, berbeda dengan gaya kepemimpinan yang
bersifat delegatif.
2) Hipotesis
penelitian: Ada hubungan antara promosi dengan volume penjualan.
Variabel bebas : Promosi
Variabel terikat : Volume penjualan
Promosi mempunyai hubungan dengan
peningkatan volume penjualan di perusahaan tertentu.
Menyusun
definisi operasional variabel
Variabel harus didefinisikan secara
operasional agar lebih mudah dicari hubungannya antara satu variabel dengan
variabel lainnya dan pengukurannya. Tanpa operasionalisasi variabel, peneliti
akan mengalami kesulitan dalam menentukan pengukuran hubungan antar variabel
yang masih bersifat konseptual.
Sebagai bagian dari proses pengukuran,
operasionalisasi variabel merupakan satu proses yang menghubungkan satu
definisi konseptual ke definisi operasional. Ini diperlukan karena terdapat
jurang antara variabel teoritis yang dinyatakan dalam istilah abstrak,
sebagaimana tampak dalam definisi konseptual dan variabel empiris yang
dinyatakan dalam istilah empiris, sebagaimana tampak dalam definisi
operasional. Usaha menjebatani jurang tersebut dilakukan melalui
operasionalisasi yaitu proses pengkonstruksian
variabel untuk mewakili konsep untuk dipelajari. Jadi operasionalisasi variabel
menghasilkan variabel operasional atau disebut indikator yang menjadi ukuran
empiris dari variabel atau konsep yang dioperasionalisasi.
Operasionalisasi merupakan proses
mengubah abstract term atau konsep menjadi empirical term atau indikator.
Operasionalisasi variabel merupakan kegiatan mengurai variabel menjadi sejumlah
variabel operasional atau variabel empiris, yang menunjuk langsung pada hal-hal
yang dapat diamati atau diukur. Operasi-operasi itu memungkinkan untuk
menurunkan konsep dari tingkat ide yang abstrak ke tingkat realitas yang
konkret sehingga gejala yang diacu dapat dikenal dan jelas.
Untuk mengubah konsep atau variabel
menjadi indikator atau indikator-indikator, peneliti-peneliti kuantitatif
secara utama mengikuti deduktif. Mereka mulai dengan ide abstrak, selanjutnya
dengan suatu prosedur pengukuran dan berakhir dengan data empirik yang
merepresentasi ide-ide.
Sebagai contoh: kompensasi, promosi,
disiplin kerja, lingkungan kerja, produktivitas, kepuasan kerja, kualitas
pelayanan, bauran pemasaran, bauran promosi, kepuasan, loyalitas dan sebagainya
merupakan istilah-istilah abstrak yang tidak dapat secara langsung diobservasi.
Konsep (istilah abstrak) dapat diobservasi secara langsung jika konsep tersebut
diubah menjadi variabel atau indikator (istilah empiris) yang berhubungan
secara langsung dengan aktivitas sosial yang dapat diobservasi.
Definisi operasional dibutuhkan dalam
rangka mengukur suatu sifat atau suatu konstruk. Satu definisi operasional
diformulasi untuk menyatakan secara tegas bagaimana konsep akan diukur. Satu
definisi operasional memerinci bagaimana menggambarkan kejadian dari suatu variabel
dan bagaimana memberi suatu nilai untuk masing-masing kejadian. Jadi definisi
operasional menyatakan secara tegas dan terperinci observasi-observasi mengenai
petunjuk-petunjuk (indikator) keperilakuan yang mengisyaratkan sifat itu.
Definisi operasional tidak lain dari mengubah konsep yang berupa konstruk
dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat diamati,
dapat diuji dan dapat ditentukan kebenarannya oleh orang lain, atau definisi
yang dinyatakan dalam kriteria atau operasi yang dapat diuji secara khusus.
BAB VIII
PENGUKURAN
PENELITIAN
a) Definisi
Pengukuran Penelitian
Setelah memilih satu disain penelitian
yang sesuai, tugas selanjutnya adalah memutuskan secara tepat apa yang
diobservasi dan mengukurnya. Mengukur apa yang diobservasi menggunakan teknik
pengukuran yang berkaitan dengan aturan dan prosedur yang digunakan untuk
menjembatani konsep dan fakta. Pengukuran merupakan bagian integral penting
dalam penelitian kuantitatif. Pengukuran berkualitas akan menghasilkan data
empiris yang juga berkualitas. Satu pengukuran disebut berkualitas apabila
pengukur tersebut reliabel atau andal valid atau sahih. Menggunakan pengukur
yang sahih dan valid akan menghasilkan kesesuaian antara data yang dikumpulkan
dari lapangan empiris dan data yang diharapkan. Artinya data empiris yang
dikumpulkan merupakan gambaran dari kejadian-kejadian empiris jika peneliti
menggunakan alat ukur yang tepat dan melakukan pengukuran dengan benar.
Menggunakan data empiris berkualitas untuk menguji hipotesis adalah penting
karena memberi solusi yang tepat terhadap isu-isu penelitian.
b) Jenis-jenis
Pengukuran Penelitian
Pengukuran dalam kegiatan penelitian
dapat dibedakan dalam 4 (empat) skala, yakni:
1. Skala
nominal.
Tingkat
pengukuran yang paling sederhana adalah pengukuran dengan menggunakan skala
nominal. Pemberian nomor kepada obyek, tidak memberikan makna baik secara
kualitas maupun kuantitas, tetapi hanya merupakan sekedar pemberian simbol atau
label saja. Pemberian nomor itupun tidak dapat disusun sesuai dengan nomor urut
atau dijumlahkan.
Contoh:
No.
|
RESPONDEN
|
SIMBOL
/
NOMOR
|
|
PRIA
|
WANITA
|
||
1.
|
+
|
01
|
|
2.
|
+
|
02
|
|
Ket:
Jenis kelamin
responden Pria diberi simbol no. 01
Jenis kelamin
responden Wanita diberi simbol no. 02
Masing-masing
nomor tidak mempunyai makna terhadap kualitas maupun kuantitas. Bukan
menunjukkan apakah responden Pria lebih penting daripada responden wanita atau
sebaliknya, dan bukan pula menunjukkan apakah responden Pria lebih dulu
ketimbang responden wanita atau sebaliknya.
2. Skala
Ordinal
Pengukuran
Ordinal ini, pemberian nomor pada indikan sifat disusun menurut besarnya. Pada
skala ordinal ini dapat digunakan untuk menyusun urutan berdasarkan rangking
(rank). Namun dalam pemberian nomor-nomor/ simbol-simbol tidak dapat dipakai
untuk menunjukkan suatu jarak tertentu antara dua nomor.
Skala
pengukuran ordinal memberikan informasi tentang jumlah relatif karakteristik
berbeda yang dimiliki oleh obyek atau individu tertentu. Tingkat pengukuran ini
mempunyai informasi skala nominal ditambah dengan sarana peringkat relatif
tertentu yang memberikan informasi apakah suatu obyek memiliki karakteristik
yang lebih atau kurang tetapi bukan berapa banyak kekurangan dan kelebihannya.
Contoh:
Jawaban
pertanyaan berupa peringkat misalnya: sangat tidak setuju, tidak setuju,
netral, setuju dan sangat setuju dapat diberi simbol angka 1, 2, 3, 4, 5.
Angka-angka ini hanya merupakan simbol peringkat, tidak mengekspresikan jumlah.
Misal
dalam pertanyaan:
Apakah
saudara setuju dengan penggusuran pedagang kaki lima yang
bertempat di sembarang tempat? Jawaban : a. sangat tidak setuju, b. tidak setuju,
c. netral, d. setuju dan e. sangat setuju. Jika digunakan skala ordinal, maka
“sangat tidak setuju” diberi nilai 1, “tidak setuju” diberi nilai 2, “netral”
diberi nilai 3, “setuju” diberi nilai 4 dan “sangat setuju” diberi nilai 5
3. Skala
Interval
Skala
interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan
ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa adanya interval yang
tetap. Dengan demikian peneliti dapat melihat besarnya perbedaan karakteristik
antara satu individu atau obyek dengan lainnya. Skala pengukuran interval
benar-benar merupakan angka. Angka-angka yang digunakan dapat dipergunakan dapat
dilakukan operasi aritmatika, misal dijumlahkan atau dikalikan. Untuk melakukan
analisis, skala pengukuran ini menggunakan statistik parametrik.
Contoh:
Jawaban
pertanyaan menyangkut frekuensi dalam pertanyaan, misal: berapa kali anda
melakukan kunjungan ke Jakarta dalam satu bulan? Jawaban: 1 kali, 3 kali, 5
kali. Maka angka-angka 1,3,dan 5 merupakan angka sebenarnya dengan menggunakan
interval 2.
Misalnya
dalam pertanyaan:
Berapa
kali saudara berbelanja di supermarket ini dalam satu bulan? Jawaban berupa
angka sebenarnya: a. 1 kali, b. 2 kali, c. 3 kali, d. 4 kali, e. 5 kali.
4. Skala
Ratio
Skala
pengukuran ratio merupakan pengukuran yang tertinggi dibandingkan dengan skala
sebelumnya. Pengukuran dengan skala ratio ini, seharusnya merupakan pengukuran
yang harus dilakukan dan didambakan oleh setiap peneliti, mengingat bahwa dalam
skala ratio ini selain memiliki sifat-sifat nominal, ordinal dan interval juga
mempunyai titik 0 absolut dengan kemaknaan empiris. Nomor pada skala ratio
menunjukkan besaran sifat yang diukur sebenarnya.
Contoh:
Pendapatan
Wagiyo Rp 1.000.000 / bulan sedang pendapatan Tukiman Rp 5.000.000 / bulan,
maka pendapatan Wagiyo dengan pendapatan Tukiman sama dengan 1 dibanding 5.
c) Skala
Pengukuran
Dalam
penelitian kuantitatif, dikatakan bahwa alat ukur adalah indikator yang diberi
skala. Skala berhubungan dengan kategori yang mengindikasikan nilai dari satu
variabel. Jika indikator telah diberi skala, peneliti menyusun pedoman atau
instruksi pengukuran yang disebut daftar pertanyaan. Ini penting dalam tahap
proses atau pelaksanaan pengukuran yang di dalamnya alat ukur tersebut
dihadapkan pada subyek penelitian. Menyusun instruksi pengukuran atau
pertanyaan pengukuran sangat erat kaitannya dengan teknik penyusunan skala.
Diantara
beberapa teknik penskalaan atau pengkonstruksian skala yang secara umum
digunakan dalam penelitian sosial ialah skala Likert, skala Thrustone, skala
Guttman dan perbedaan semantis.
1) Skala
Likert
Skala
Likert sebagai teknik penskalaan banyak digunakan terutama untuk mengukur
sikap, pendapat atau persepsi seseorang tentang dirinya atau kelompoknya atau
sekelompok orang yang berhubungan dengan suatu hal. Skala ini sering disebut
sebagai summated scale yang berisi
sejumlah pernyataan dengan kategori respons atau satu seri item respons yang
mengekspresikan luas jangkauan sikap dari ekstrem positif ke ekstrem negatif
untuk direspons oleh responden. Item respons tersebut dapat disusun dalam tiga,
lima, atau lebih alternatif pasti yang mengekspresikan seperti halnya “sangat
setuju”, “setuju”, “netral atau ragu-ragu atau bimbang”, “tidak setuju”, dan
“sangat tidak setuju”. Tiap respons dihubungkan dengan nilai skor atau nilai
skala untuk masing-masing pernyataan
Contoh
nilai respons dalam pernyataan positif dan negatif
Indikator
Promosi
|
Nilai/Kategori
Respon
|
||||
Sangat setuju
|
Setuju
|
Netral
|
Tidak setuju
|
Sangat
tidak setuju
|
|
Positif/menguntungkan:
Promosi
berdasarkan prestasi merupakan promosi ideal dalam organisasi
|
5
|
4
|
3
|
2
|
1
|
Negatif/tidak menguntungkan:
Promosi
berdasarkan senioritas merupakan promosi ideal dalam organisasi
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
2) Skala
Thrustone
Skala
ini disusun dalam skala interval yang tampak atau mendekati sama besar
berdasarkan kriteria tertentu sehingga penskalaan Thrustone disebut method of equal-appearing interval scale. Berarti
skala ini bertujuan untuk mengurutkan responden berdasarkan suatu kriteria
tertentu.
Contoh:
Perintah:
Lingkarilah angka yang menunjukkan tingkat kepositifan untuk setiap pernyataan
di bawah ini:
Sangat Sangat
Tidak
positif Netral Positif
|
Pernyataan
|
1
2 3 4
5 6 7
8 9
1
2 3 4
5 6 7
8 9
1
2 3 4
5 6 7
8 9
1
2 3 4
5 6 7
8 9
|
-Pemberian
kompensasi yang layak akan meningkatkan prestasi kerja karyawan
-Kualitas
pelayanan yang baik akan meningkatkan kepuasan pelanggan
-Loyalitas
pelanggan ditentukan tingkat kepuasan pelanggan
-Lingkungan
kerja yang nyaman akan meningkatkan produktivitas karyawan
|
3) Skala
Guttman
Berbeda
dengan skala Likert dan skala Thrustone, teknik penskalaan Guttman, yang
pertama kali dikembangkan oleh Louis Guttman pada tahun 1940an, digunakan jika
ingin mendapatkan jawaban yang tegas atas suatu masalah. Ketegasan jawaban
tersebut disusun dalam nilai atau kategori respon dikotomis (dichotomous response categories) yang
disusun dalam dua kategori seperti: setuju dan tidak setuju.
Contoh:
Pertanyaan
|
Kategori respon
|
Nilai
skala
|
-Bagaimana
sikap saudara terhadap promosi pekerjaan atas dasar prestasi?
-Bagaimana
sikap saudara terhadap poligami?
|
Setuju
Tidak
setuju
Setuju
Tidak
setuju
|
2
1
2
1
|
4) Perbedaan
semantis
Skala
perbedaan semantis dikembangkan oleh Osgood pada tahun 1950an. Skala perbedaan
semantis digunakan untuk mengukur atribut yang diberikan oleh responden
terhadap beberapa arti untuk mendeskripsikan obyek tertentu. Dalam pengukuran
ini, biasanya digunakan kata sifat yang mempunya arti berlawanan.
Contoh:
Contoh
ini digunakan untuk mengukur tiga dimensi arti, yaitu: 1) mengukur dimensi
evaluasi menggunakan sebanyak empat pasanyan kata sifat, 2) mengukur dimensi
potensi dengan menggunakan sebanyak tiga pasangan kata sifat, 3) mengukur
dimensi aktivitas dengan menggunakan sebanyak tiga pasangan kata sifat.
Bagaimana
pendapat saudara mengenai Supermarket X?
Layanan
Cepat 1 2
3 4 5
6 7 Layanan lambat
Tempat
belanja bersih 1 2
3 4 5
6 7 Tempat belanja kotor
Produk
baru 1 2
3 4 5
6 7 Produk lama
Harga
murah 1 2
3 4 5
6 7 Harga mahal
Parkir
luas 1 2
3 4 5
6 7 Parkir sempit
Karyawan
ramah 1 2
3 4 5
6 7 Karyawan tidak ramah
Banyak
pilihan 1 2
3 4 5
6 7 Sedikit pilihan
Ruangan
luas 1 2
3 4 5
6 7 Ruangan sempit
Suasana
nyaman 1 2
3 4 5
6 7 Suasana tidak nyaman
Aman 1 2
3 4 5
6 7 Tidak aman
BAB
IX
POPULASI
DAN SAMPEL
Populasi
dan Sampel
Unit analisis yang dipelajari adalah
populasi (population), juga disebut universum, universe, dan universe of discourse. Populasi adalah
jumlah total dari seluruh unit atau elemen di mana peneliti tertarik. Populasi
adalah seluruh unit-unit yang darinya sampel dipilih. Populasi dapat berupa
organisme, orang atau sekelompok orang, masyarakat, organisasi, benda, obyek,
peristiwa atau laporan yang semuanya memiliki ciri dan harus didefinisikan
secara spesifik dan tidak secara mendua. Hakikat spesifik dari populasi bergantung pada masalah
penelitian.
Populasi
Apabila populasi yang diteliti relatif
kecil, katakanlah kurang dari 100, peneliti mungkin memutuskan untuk tidak
menggunakan sampel, tetapi meneliti keseluruhan populasi. Misalnya penelitian
terhadap bank atau perusahaan, unsur-unsur populasinya mungkin terdiri dari 100
pegawai, sehingga ia memutuskan meneliti seluruh unsur. Tugas ini mudah
dikerjakan, oleh karena itu penggunaan sampel tidak perlu dipertimbangkan.
Tetapi apabila populasi yang diteliti
cukup besar, sampling menjadi alternatif yang memungkinkan untuk mempelajari
keseluruhan populasi. Misalnya, apabila peneliti ingin mempelajari tingkat
kepuasan dengan kualitas pelayan yang ada pada penumpang kerata api 5 tahun
terakhir, populasinya menjadi sangat besar. Dalam hal ini besarnya populasi
penumpang kereta api mengakibatkan sulitnya meneliti keseluruhan populasi.
Secara umum, dapat dikatakan, bahwa semakin besar unsur populasi yang diteliti,
maka sampling menjadi sangat penting. Tetapi masalah besar kecilnya populasi
relatif sifatnya. Bisa saja suatu populasi dikatakan besar oleh seorang
peneliti, tetapi hal ini tidak demikian menurut peneliti yang lainnya, dan
memang tidak ada petunjuk yang jelas yang membedakan antara populasi kecil
dengan populasi besar.
Sampel
Idealnya penelitian dilakukan terhadap
populasi. Tetapi apabila terjadi kendala untuk mempelajari seluruh populasi
yang ada, peneliti boleh untuk mempelajari atau meneliti sebagian dari populasi
sang disebut sampel. Jika peneliti meneliti sebagian dari populasi atau sampel,
sampel tersebut harus memenuhi dua kriteria penting, yaitu ukuran dan
keterwakilan. Jika kedua kriteria ini dipenuhi, barulah peneliti dapat
menggenerelalisasikan hasil penemuan dari sampel terhadap populasi yang darinya
sampel diambil.
Rancangan
Sampel
Setelah populasi didefinisikan,
pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menurunkan satu sampel dari populasi
tersebut. Jawaban atas pertanyaan ini ada hubungan dengan rancangan sampel,
atau rancangan pemilihan sampel. Rancangan sampel adalah seperangkat prosedur
untuk pemilihan unit-unit dari populasi yang dijadikan sampel. Jika kita
memilih sampel dengan benar, sampel itu akan memberikan estimasi secara tepat
tentang keseluruhan populasi yang diteliti.
Proses
Pengambilan Sampel
Proses pengambilan sampel merupakan cara
kita dalam memilih sampel untuk studi tertentu. Proses terdiri dari beberapa
tahapan sebagai berikut:
a) Tahap
1: Memilih Populasi.
Tahap awal adalah menentukan populasi
yang menarik untuk dipelajari. Suatu populasi yang baik adalah mencakup
rancangan eksplisit semua elemen yang terlibat biasanya meliputi empat komponen
yaitu elemen, unit sampling, keluasan skop dan waktu.
b) Tahap
2: Memilih unit-unit sampling.
Unit-unit sampling adalah unit analisis
dari mana sampel diambil atau berasal. Karena kompleksitas penelitian dan
banyaknya desain sampel, maka pemilihan unit-unit sampling harus dilakukan
dengan teliti.
c) Tahap
3: Memilih kerangka sampling.
Pemilihan kerangka sampling merupakan
tahap yang penting karena jika kerangka sampling yang dipilih tidak mewakili
populasi, maka generalisasi hasil penelitian meragukan. Kerangka sampling dapat
berupa daftar nama populasi seperti kartu pegawai, buku telepon atau data base
lainnya.
d) Tahap
4: Memilih desain sampel
Desain sampel merupakan tipe metode atau
pendekatan yang digunakan untuk memilih unit-unit analisis studi. Desain sampel
sebaiknya dipilih sesuai dengan tujuan penelitian.
e) Tahap
5: Memilih ukuran sampel
Ukuran sampel tergantung beberapa faktor
yang mempengaruhi daiantaranya adalah:
l Homogenitas
unit-unit sampel, secara umum semakin mirip unit-unit sampel, dalam suatu
populasi semakin kecil sampel yang dibutuhkan untuk memperkirakan
parameter-parameter populasi.
l Kepercayaan,
kepercayaan mengacu pada suatu tingkatan tertentu dimana peneliti ingin merasa
yakin bahwa yang bersangkutan memperkirakan secara nyata parameter populasi
yang benar. Semakin tinggi tingkat kepercayaan yang diinginkan, maka semakin
besar ukuran sampel yang diperlukan.
l Presisi:
presisi mengacu pada ukuran kesalahan standar estimasi. Untuk mendapatkan
presisi yang besar dibutuhkan ukuran sampel yang besar pula.
l Kekuatan
statistik: Istilah ini mengacu pada adanya kemampuan mendeteksi perbedaan dalam
situasi pengujian hipotesis. Untuk mendapatkan kekuatan yang tinggi, peneliti
memerlukan sampel yang besar.
l Prosedur
Analisis: Tipe prosedur analisis yang dipilih untuk menganalisis data dapat
juga mempengaruhi seleksi ukuran sampel,
l Biaya,
waktu dan personil: Pemilihan ukuran sampel juga harus mempertimbangkan biaya,
waktu dan personil. Sampel besar akan menuntut biaya besar, waktu banyak dan
personil besar juga.
f) Tahap
6: Memilih rancangan sampling
Rancangan sampling menentukan prosedur
operasional dan metode untuk mendapatkan sampel yang diinginkan. Jika dirancang
dengan baik, rancangan sampling akan menuntun peneliti dalam memilih sampel
yang digunakan dalam studi, sehingga kesalahan yang akan muncul dapat ditekan
sekecil mungkin.
g) Tahap
7: Memilih sampel
Tahap akhir dalam proses ini adalah
penentuan sampel untuk digunakan pada proses penelitian berikutnya, yaitu
koleksi data.
Desain
sampel
Secara garis besar ada dua desain sampel
utama, yaitu desain Probabilitas dan desain Non Probabilitas. Masing-masing
kategori mempunyai sub-sub kategori yang lebih kecil. Dalam pembahasan ini
dimulai dengan desain probabilitas.
a.
Pengambilan sampel secara
random sederhana (simple random sampling)
Cara
pengambilan sampel dengan teknik ini adalah dengan memberikan suatu nomor yang
berbeda kepada setiap anggota populasi, kemudian memilih sampel dengan
menggunakan angka-angka random.
Keuntungan
menggunakan teknik ini adalah peneliti tidak membutuhkan pengetahuan tentang
populasi sebelumnya bebas dari kesalahan-kesalahan klasifikasi yang kemungkinan
dapat terjadi dan dengan mudah data dianalisis serta kesalahan-kesalahan dapat
dihitung.
Kelemahan
dalam teknik ini adalah peneliti tidak dapat memanfaatkan pengetahuan yang
dipunyainya tentang populasi dan tingkat kesalahan dalam penentuan ukuran
sampel lebih besar.
b.
Pengambilan sampel secara
random sistematis (systematic random sampling).
Teknik
ini merupakan pengembangan teknik sebelumnya hanya bedanya teknik ini
menggunakan urut-urutan alami. Caranya adalah pilih secara random dimulai dari
anatara angka 1 dan integer yang terdekat terhadap ratio sampling (N/n),
kemudian pilih item-item dengan interval dari integer yang terdekat terhadap
ratio sampling. Keuntungan menggunakan sampel ini adalah peneliti
menyederhanakan proses penarikan sampel dan mudah di cek, dan menekan keaneka
ragaman sampel.
c.
Pengambilan sampel secara
random bertahap (random multistage)
Desain
ini merupakan variasi dari desain diatas tetapi lebih kompleks. Caranya adalah
dengan menggunakan bentuk sampel acak dengan sedikit-dikitnya dua tahap.
Keuntungannya
adalah daftar sampel, identifikasi dan penomoran yang dibutuhkan hanya untuk
para anggota dari unit sampling yang dipilih dalam sampel. Jika unit sampling
didefinisikan secara geografis akan lebih menghemat biaya.
Kelemahannya
adalah tingkat kesalahan akan menjadi tinggi apabila jumlah ampling unit yang
dipilih menurun.
d.
Teknik pengambilan sampel
secara random bertingkat (stratified random sampling).
1. Proporsional
Cara
pengambilan sampel dilakukan dengan menyeleksi setiap unit sampling yang sesuai
dengan ukuran unit sampling. Keuntungannya adalah aspek representatifnya lebih
meyakinkan sesuai dengan sifat-sifat yang membentuk dasar unit-unit yang
mengklasifikasinya, sehingga mengurangi keanekaragamannya. Karakteristik-karakteristik
masing-masing strata dapat diestimasikan sehingga dapat dibuat perbandingan.
Kerugiannya adalah membutuhkan informasi yang akurat pada proporsi populasi
untuk masing-masing strata. Jika hal tersebut diabaikan maka kesalahan akan muncul.
2. Disporposional
Strategi
pengambilan sampel sama dengan proporsional. Perbedaannya adalah terletak pada
ukuran sampel yang tidak proporsional terhadap ukuran unit sampling karena
untuk kepentingan pertimbangan analisis dan kesesuaian.
e.
Teknik pengambilan sampel cluster
Strategi pengambilan sampel dilakukan
dengan cara memilih unit-unit sampling
dengan menggunakan formulir tertentu sampling acak, unit-unit akhir adalah
kelompok-kelompok tersebut secara random dan hitung masing-masing kelompok.
Keuntungan menggunakan metode ini adalah jika kluster-kluster didasarkan pada
perbedaan geografis maka biaya penelitiannya menjadi lebih murah. Karakteristik
kluster dan populasi dapat diestimasi.
Kelemahannya adalah membutuhkan kemampuan untuk membedakan masing-masing
anggota populasi secara unik terhadap kluster, yang akan menyebabkan
kemungkinan adanya duplikasi atau penghilangan individu-individu tertentu.
f.
Teknik Pengambilan sampel
kluster berstrata (srtatified cluster)
Cara menyeleksi sampel dengan cara
memilih kluster-kluster secara random untuk setiap unit sampling. Keuntungannya
adalah mengurangi keanekaragaman sampling cluster sederhana. Kelemahannya
adalah karakteristik-karakteristik kluster bisa berubah sehingga keuntungannya
dapat hilang karena itu tidak dapat dipakai untuk penelitian berikutnya.
g.
Repetisi: Multiple atau
Sequensial (berurutan
Dua sampel atau lebih dari kluster di
atas (F) diambil dengan menggunakan hasil-hasil dari sampel yang lebih dahulu
untuk merancang sampel-sampel berikutnya. Keuntungan menggunakan teknik ini
adalah memberikan estimasi karakteristik populasi yang memfasilitasi perncangan
yang efisien untuk sampel berikutnya. Kelemahan teknik ini adalah penghitungan
dan analisis akan dilakukan berulang-ulang. Sampling berurutan hanya dapat
digunakan jika suatu sampel yang kecil dapat mencerminkan populasinya.
h.
Desain non probabilitas.
1. Penilaian
(judgement)
Memilih sampel dari sesuatu populasi
didasarkan pada informasi yang tersedia, sehingga perwakilannya terhadap
populasi dapat dipertanggungjawabkan. Keuntungannya adalah unit-unit yang
terakhir dipilih dapat dipilih sehingga mereka mempunyai banyak kemiripan.
Kerugiannya adalah memunculkan keanekaragaman dan bias estimasi terhadap
populasi dan sampel yang ndipilihnya.
2. Kesesuaian
(Convenience)
Memilih unit-unit analisis dengan cara yang
dianggap sesuai oleh peneliti. Keuntungannya adalah dapat dilakukan dengan
cepat dan murah. Kelemahannya adalah mengandung sejumlah kesalahan sistematik
dan variabel-variabel yang tidak diketahui.
3. Teknik
bola salju.
Memilih unit-unit yang mempunyai
karakteristik langka dan unit-unit tambahan yang ditujukan oleh responden
sebelumnya. Keuntungannya adalah hanya digunakan dalam situasi-situasi
tertentu. Kelemahannya adalah perwakilan dari karakteristik langka dapat tidak
terlihat di sampel yang sudah dipilih.
Cara
menentukan ukuran sampel
Salah satu cara untuk menentukan ukuran
sampel dengan cara melihat tabel yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael
dengan tingkat kesalahan 1%, 5% dan 10% sebagai berikut:
Tabel
Ketentuan Jumlah Sampel dengan Jumlah Populasi Tertentu dengan Tingkat
Kesalahan 1%, 5% dan 10%.
N
|
Sampel
|
N
|
Sampel
|
N
|
Sampel
|
||||||
1%
|
5%
|
10%
|
1%
|
5%
|
10%
|
1%
|
5%
|
10%
|
|||
10
15
20
25
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
85
90
95
100
110
120
130
140
150
160
170
180
190
200
210
220
230
240
250
260
270
|
10
15
19
24
29
33
38
42
47
51
55
59
63
67
71
75
79
83
87
94
102
109
116
122
129
135
142
148
154
160
165
171
176
182
187
192
|
10
14
19
23
28
32
36
40
44
48
51
55
58
62
65
68
72
75
78
84
89
95
100
105
110
114
119
123
127
131
135
139
142
146
149
152
|
10
14
19
23
27
31
35
39
42
46
49
53
56
59
62
65
68
71
73
78
83
88
92
97
101
105
108
112
115
118
122
125
127
130
133
135
|
280
290
300
320
340
360
380
400
420
440
460
480
500
550
600
650
700
750
800
850
900
950
1000
1100
1200
1300
1400
1500
1600
1700
1800
1900
2000
2200
2400
2600
|
197
202
207
216
225
234
242
250
257
265
272
279
285
301
315
329
341
352
363
373
382
391
399
414
427
440
450
460
469
477
485
492
498
510
520
529
|
155
158
161
167
172
177
182
186
191
195
198
202
205
213
221
227
233
238
243
247
251
255
258
265
270
275
279
283
286
289
292
294
297
301
304
307
|
138
140
143
147
151
155
158
162
165
168
171
173
176
182
187
191
195
199
202
205
208
211
213
217
221
224
227
229
232
234
235
237
238
241
243
245
|
2800
3000
3500
4000
4500
5000
6000
7000
8000
9000
10000
15000
20000
30000
40000
50000
75000
100000
150000
200000
250000
300000
350000
400000
450000
500000
550000
600000
650000
700000
750000
800000
850000
900000
950000
1000000
∞
|
537
543
558
569
578
586
598
606
613
618
622
635
642
649
663
655
658
659
661
661
662
662
662
662
663
663
663
663
663
663
663
663
663
663
663
663
664
|
310
312
317
320
323
326
329
332
334
335
336
340
342
344
345
346
346
347
347
347
348
348
348
348
348
348
348
348
348
348
348
348
348
348
348
348
349
|
247
248
251
254
255
257
259
261
263
263
263
266
267
268
269
269
270
270
270
270
270
270
270
270
270
270
270
270
270
270
270
271
271
271
271
271
272
|
Jika
menggunakan rumus, gunakan rumus dibawah ini:
n =
Dimana :
n = Sampel
N = Populasi
d = Derajat Kebebasan
Misal : 0,1; 0,05; 0,01
Contoh
:
N = 720
n =
n = 87,53
Metode Pengumpulan data
Mengumpulkan data merupakan bagian
integral dari satu rancangan penelitian. Ini berhubungan dengan pemilihan
strategi untuk dan melakukan kontak dengan subyek. Penelitian sebagai upaya
mencari dan memahami data atau informasi yang dibutuhkan tidak selalu
menggunakan satu teknik saja dalam mengumpulkan data melalui penelitian
lapangan. Untuk dapat merancang metode pengumpulan data yang tepat, atau
memilih secara tepat satu atau beberapa metode pengumpulan data untuk suatu
penelitian yang dilakukan, hal penting yang harus dipahami oleh setiap peneliti
ialah memahami data, latar data, sifat atau jenis data, sumber data dan memilih
secara tepat teknik pengumpulan data. Kadang-kadang, metode pengumpulan data
harus dipilih berdasarkan pertimbangan peneliti, baik atas dasar cakupan
penelitian, keragaman dan kekhususan data, waktu, ketepatan maupun kecepatan.
1) Definisi
pengumpulan data
Data merupakan bahan penting yang
digunakan oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan atau menguji hipotesis dan
mencapai tujuan penelitian. Oleh karena itu, data dan kualitas data merupakan
hal yang penting dalam penelitian karena menentukan kualitas hasil penelitian.
Data diperoleh melalui suatu proses yang disebut pengumpulan data. Pengumpulan
data dapat didefinisikan sebagai satu proses mendapatkan data empiris melalui
responden dengan menggunakan metode tertentu. Ini berarti sebelum mengumpulan
data terlebih dahulu, kita menentukan teknik pengumpulan data yang tepat
digunakan dan menyusun instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data.
Instrumen penelitian ini merupakan alat bantu bagi peneliti untuk mengumpulkan
data. Kualitas instrumen akan menentukan kualitas dan kuantitas data yang
dikumpulkan untuk kemudian dianalisis dan diinterpretasi.
Istilah data menunjuk pada ukuran atau
observasi aktual tentang hasil dari suatu investigasi survey, atau hasil
observasi yang dicatat dan dikumpulkan,
baik dalam bentuk angka ataupun jumlah dan bentuk kata-kata ataupun gambar
disebut data. Ini berarti bahwa data merupakan hasil pengamatan dan pengukuran
empiris yang mengungkapkan fakta tentang karakteristik dari suatu gejala
tertentu. Data merupakan fakta tentang karakteristik tertentu dari suatu
fenomena yang diperoleh melalui pengamatan. Istilah data merupakan bentuk jamak
(plural) yang menunjuk pada satu kelompok observasi. Bentuk tunggal (singular)
ialah datum yang menunjuk tiap bagian-bagian dari observasi. Istlah data
digunakan untuk menggambarkan pola-pola respons yang dicatat dari responden
untuk suatu instrumen yang digunakan dalam penelitian.
Untuk mengumpulkan data dapat
menggunakan berbagai metode pengumpulan data. Tiap metode pengumpulan data
memiliki instrumen pengumpulan data. Metode angket misalnya memiliki jenis
instrumen yang disebut daftar angket. Untuk menentukan metode dan instrumen
pengumpulan data yang tepat, kita harus memahami data empiris , baik jenis
maupun sumber data yang kita butuhkan untuk dikumpulkan.
Data dalam penelitian kualitatif
bersifat deskriptif bukan angka. Data dapat berupa gejala-gejala, kejadian dan
peristiwa yang kemudian dianalisis dalam bentuk kategori-kategori.
2) Jenis
Data
Data
untuk suatu penelitian dapat dikumpulkan dari berbagai sumber. Data data
dikumpulkan dari latar data yang berbeda. Latar data yang dimaksud ialah latar
natural dimana fenomena atau peristiwa secara normal terjadi yang disebut noncontrived settings, dan latar artifisial (artificial setting), baik di laboratorium, dalam rumah responden,
di jalan atau di mall yang disebut contrived
settings. Data juga dapat bersumber dari dalam organisasi yang dinamakan
sumber atau data intern dan dari luar organisasi yang dinamakan sumber atau
data ekstern. Sumber data ekstern dibedakan atas sumber data primer dan sumber
data sekunder.
a. Data
Primer:
Untuk beberapa proyek penelitian, sumber data
adalah penting untuk menggunakan sumber-sumber primer disamping sumber-sumber
sekunder. Apa bedanya? Sumber primer /
data primer adalah suatu obyek atau dokumen original, material mentah dari
pelaku yang disebut “first hand
information”. Data yang dikumpulkan dari situasi aktual ketika peristiwa
terjadi dinamakan data primer. Individu, kelompok fokus dan satu kelompok
responden secara khusus sering dijadikan peneliti sebagai sumber data primer.
Oleh karena itu, ketika merancang pertanyaan, dibedakan tipe pertanyaan, yakni pertanyaan faktual
personal yang didalamnya responden memberikan informasi personal tentang
berbagai hal yang menyangkut diri, sikap, dan perilaku, pertanyaan faktual
tentangorang lain yang didalamnya responden memberikan informasi personal
tentang orang lain, dan pertanyaan faktual informan yang didalamnya kita
menempatkan orang yang diwawancara atau melengkapi kuesioner dalam posisi
informan dari pada sebagai responden yang menjawab pertanyaan tentang diri
mereka sendiri.
Data ini berupa teks hasil wawancara dan
diperoleh melalui wawancara dengan informan yang sedang dijadikan sampel dalam
penelitiannya. Dapat direkam atau dicatat oleh peneliti.
b. Data
Sekunder.
Data sekunder merupakan data yang dikumpulkan
dari tangan kedua atau dari sumber-sumber lain yang telah tersedia sebelum
penelitian dilakukan. Data yang dikumpulkan melalui sumber-sumber lain yang
tersedia dinamakan data sekunder. Sumber sekunder meliputi komentar,
interpretasi atau pembahasan tentang materi original. Sumber sekunder dapat
dikatakan sebagai “second-hand information”.
Jika saya mengatakan kepada anda tentang
sesuatu, saya adalah sumber primer. Jika anda mengatakan kepada orang lain apa
yang saya katakan kepada anda, anda adalah sumber sekunder. Bahan-bahan sumber
sekunder dapat berupa artikel-artikel dalam surat kabar atau majalah populer,
buku atau telaah gambar hidup, atau artikel-artikel yang ditemukan dalam
jurnal-jurnal ilmiah yang mengevaluasi atau mengkritisi suatu penelitian
original yang lain. Buletin statistik, laporan-laporan, atau arsip organisasi,
publikasi pemerintah, informasi yang dipublikasikan atau tidak dipublikasikan
dan tersedia dari dalam atau dari luar organisasi, analisis-analisis yang
dibuat oleh para ahli, hasil survey terdahulu yang dipublikasikan atau tidak
dipublikasikan, data bases yang ada dari penelitian terdahulu, catatan publik
mengenai peristiwa-peristiwa resmi dan catatan-catatan perpustakaan juga
merupakan sumber data sekunder. Umumnya data intern atau data dari sumber primer dianggap lebih baik daripada data
ekstern atau data sekunder. Namun sering kali hanya mengandalkan dala primer
belum tentu secara valid dapat digunakan untuk membuat solusi tentang suatu
masalah sehingga data primer dan data sekunder, keduanya dijadikan sebagai
sasaran pengumpulan data.
Dapat dikatakan juga data sekunder adalah berupa
data-data yang sudah tersedia dapat diperoleh oleh peneliti dengan cara
membaca, melihat atau mendengarkan. Data ini biasanya berasal dari data primer
yang sudah diolah oleh peneliti sebelumnya. Termasuk dalam kategori data
tersebut adalah:
- Data bentuk teks, dokumen, pengumuman,
surat-surat, spanduk
- Data dalam bentuk gambar, foto, animasi,
billboard
- Data dalam bentuk suara, hasil rekaman kaset
- Kombinasi teks, gambar dan suara, film,
video, iklan ditelevisi dan lain-lain.
Pada prinsipnya data kualitatif dapat berupa
apa saja termasuk kejadian atau gejala yang tidak dapat menggambarkan hitungan,
angka atau kuantitas.
1) Teknik
Pengumpulan Data
Data
diperoleh melalui suatu proses yang disebut pengumpulan data. Pengumpulan data
dapat didefinisikan sebagai suatu proses mendapatkan data empiris melalui
responden dengan menggunakan metode tertentu.
a) Observasi
Dalam arti luas berarti peneliti secara
terus-menerus melakukan pengamatan atas sesuatu yang diteliti.
b) Wawancara
Wawancara
adalah teknik pengumpulan data yang paling sosiologis dari semua
teknik-teknik penelitian sosial. Ini karena bentuknya yang berasal dari
interaksi verbal antara peneliti dan responden
c) Kuesioner
Adalah alat pengumpul data yang paling sering
digunakan dalam penelitian sosial. Kuesioner adalah serangkaian
pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada responden, yang
pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner itu merupakan hasil pengolahan definisi
operasional tiap variabel. Jawaban responden itulah yang nantinya akan
dianalisis oleh peneliti.
BAB
X
ANALISIS
DATA
Tahap
Persiapan
Analisis
data dilakukan setelah peneliti mengumpulkan semua data yang diperlukan dalam
penelitian. Peneliti biasanya melakukan beberapa tahap persiapan data untuk
memudahkan proses analisis data dan intepretasi hasilnya, yaitu: pengeditan,
pemberian kode dan pemresesan data.
Pengeditan.
Pengeditan
merupakan proses pengecekan dan penyesuaian yang diperlukan terhadap data
penelitian untuk memudahkan proses pemberian kode dan pemrosesan data dengan
teknik statistik. Data penelitian yang dikumpulkan oleh peneliti melalui metode
survey atau metode observasi perlu diedit
dari kemungkinan kekeliruan dalam proses pencatatan yang dilakukan oleh pengumpul data, pengisian
kuisioner yang tidak lengkap atau tidak konsisten. Tujuan pengeditan data adalah
menjamin kelengkapan, konsistensi dan kesiapan data penelitian dalam proses
analisis. Proses pengeditan dapat dilakukan di lapangan (field editing) oleh
peneliti, pengumpul data atau staf yang bertindak sebagai supervisor sesaat
setelah melakukan pengecekan terhadap isian kuisioner. Penelitian dapat
dilakukan di tempat peneliti, setelah beberapa atau semua data terkumpul,
karena field editing sulit dilakukan jika peneliti menggunakan teknik
pengiriman kuisioner melalui pos. Prosedure pengeditan akan memudahkan proses
pemberian kode dan data entry.
Pemberian
Kode (Coding)
Pemberian
kode merupakan proses identifikasi dan klasifikasi data penelitian ke dalam
skor numerik atau karakter simbol. Proses ini diperlukan terutama untuk data
penelitian yang dapat diklasifikasi, misal: jawaban dari tipe pertanyaan
tertutup yang tidak memberikan alternatif jawaban kepada responden selain
jawaban yang tersedia. Pemberian kode pada jawaban pertanyaan terbuka relatif
lebih sulit karena memerlukan judgement dari pemberi kode dalam
mengintepretasikan jawaban responden. Tujuan pemberian kode pada tipe
pertanyaan terbuka adalah untuk mengurangi variasi jawaban responden menjadi
beberapa kategori umum sehinggadapat diberi skor numerik atau simbol. Teknik
pemberian kode akan memudahkan dan
meningkatkan efisiensi proses data entry ke dalam komputer.
Contoh:
A. Mohon
bapak/Ibu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memberi tanda silang
(X) pada alternatif jawaban yang tersedia:
1. Jenis
industri utama perusahaan Bapak/Ibu
101
( ) Pertanian dan pertambangan
102
( ) Aneka Industri
103
( ) Konstruksi, Properti dan real estate
104
( ) Keuangan
105
( ) Industri dasar dan Kimia
106
( ) Industri barang konsumsi
107
( ) Perdagangan dan jasa
2. Jumlah
karyawan yang bekerja diperusahaan Bapak/Ibu
201
( ) 1 s/d 10 orang
202
( ) 11 s/d 25 orang
203
( ) 26 s/d 40 orang
204
( ) 41 s/d 60 orang
205
( ) 61 s/d 100 orang
206
( ) lebih dari 100 orang
3. Total
penjualan dalam setahun
301
( ) Kurang dari 500 juta
302
( ) Antara 500 juta s/d 1 Milyar
303
( ) Antara 1 Milyar s/d 5 Milyar
Dst
B. Mohon
Bapak/Ibu menjawab pertanyaan berikut dengan memberi tanda silang (X) pada
pilihan jawaban yang tersedia.
STS = Sangat Tidak Setuju, TS = Tidak
Setuju, TP = Tidak Pasti, S = Setuju, SS = Sangat setuju.
4. Para
pimpinan di perusahaansetiap saat selalu memberikan motivasi terhadap setiap
karyawan.
STS TS TP S SS
401
( ) 402
( ) 403
( ) 404
( ) 405
( )
Dst.
Pemrosesan
data
Banyak
peneliti saat ini yang melakukan analisis dengan bantuan tknologi komputer.
Beberapa paket aplikasi statistik yang dapat digunakan untuk analisis data
komputer, antara lain: SPSS, SAS, Stat-Easy dan Minitab. Diantara program
aplikasi tersebut yang sering digunakan dalam penelitian bisnis adalah Statistical Package for the Social Sciences
(SPSS)
Tabulasi
Dalam penelitian ilmiah, tabulasi data
pada umumnya tidak termasuk dalam analisis data karena dalam tabulasi belum
mengungkap hubungan dalam data. Tabulasi hanya menyajikan hitungan frekuensi
atau perkiraan numerik tentang distribusi frekuensi dari satu hal. Oleh karena
itu, tabulasi merupakan alat analisis atau sebagai alat untuk menyusun kategori
ketika mengubah variabel rasio atau interval menjadi nominal atau ordinal atau
berdasarkan indeks. Tabulasi kemudian digunakan untuk menciptakan statistik
deskriptif
Frekuensi
(Frequency)
Frekuensi
merupakan salah satu ukuran dalam statistikdeskriptif yang menunjukkan nilai
distribusi data penelitian yang memiliki kesamaan kategori. Frekuensi suatu
distribusi data penelitian dinyatakan dengan ukuran absolut (f) atau proporsi
(%). Penyajian statistik deskriptif yang menggunakan ukuran frekuensi dapat
menggunakan tabel numerik atau grafik.
Contoh:
1.2 Deskripsi
Responden
Responden
pada studi ini adalah pelanggan pengguna jasa Perusahaan Daerah Air Minum
Banyuwangi yang berada di wilayah pelayanan kota Banyuwangi yang meliputi
Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Kalipuro, sebagian Kecamatan Glagah, sebagian
Kecamatan Kalipuro dan sebagian Kecamatan Kabat. Deskripsi responden dapat
dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, pekerjaaan dan tempat tinggal. Deskripsi
responden tersebut adalah sebagai berikut:
a. Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 5.6
Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
|
Jumlah
|
Persentase
|
Laki-laki
Perempuan
|
58
46
|
55,77%
44,23%
|
Jumlah
|
104
|
100%
|
Sumber: Lampiran 1, diolah
Berdasarkan kuisioner yang diberikan
kepada pelanggan PDAM Banyuwangi, menunjukkan bahwa responden mempunyai jenis
kelamin laki-laki sebanyak 58 orang atau 55,77% dan perempuan 46 orang atau
44,23%. Secara umum pri dan wanita mempunyai karakteristik yang berbeda pada
ekspektasi terhadap pelayanan jasa. Wanita lebih peka terhadap perlakuan
penyaji jasa dalam memberikan pelayanan kepada mereka. Sedangkan laki-laki
lebih menekankan pada hasil penyampaian jasa tersebut.
b.
Deskripsi
Responden Berdasarkan Pekerjaan
Deskripsi responden
berdasarkan pekerjaan dapat dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 5.7
Jumlah Responden Berdasarkan
Pekerjaan
Pekerjaan
|
Jumlah
|
Persentase
|
Notaris
Dosen
Perbankan
PNS
Guru
Ibu Rumah Tangga
Swasta
BUMN
Mahasiswa
Pensiunan
Wartawan
|
1
21
3
8
16
3
44
5
1
1
1
|
0,96%
20,19%
2,88%
7,69%
15,38%
2,88%
42,31%
4,81%
0,96%
0,96%
0,96%
|
Jumlah
|
104
|
100%
|
Sumber: Lampiran 1,
diolah
Secara umum pelanggan mempunyai pekerjaan
yang berbeda-beda. Deskripsi responden berdasarkan pekerjaan menunjukkan bahwa
sebagian besar pelanggan PDAM Banyuwangi mempunyai pekerjaan sebagai pegawai
swasta yaitu 44 responen atau 42,31%.
c.
Deskripsi
Responden Berdasarkan Tempat Tinggal
Deskripsi responden
berdasarkan tempat tinggal dapat dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 5.8
Jumlah Responden Berdasarkan Tempat
Tinggal
Tempat
Tinggal
|
Jumlah
|
Persentase
|
Kecamatan Kalipuro
Kecamatan Giri
Kecamatan Kota
Kecamatan Glagah
Kecamatan Kabat
|
10
7
67
16
4
|
9,62%
6,73%
64,42%
15,38%
3,88%
|
Jumlah
|
104
|
100%
|
Sumber: Lampiran 1, diolah
1.3.
Distribusi
Jawaban Responden.
Berikut dijelaskan tanggapan responden
dari kuisioner yang disebarkan, dari jawaban responden tersebut dapat membantu
mengetahui frekuensinya.
a.
Variabel
Tangibles /bukti fisik (X1)
Frekuensi jawaban responden
untuk bukti fisik terdiri dari 4 pertanyaan yang berupa, kenyamanan fasilitas
dan sarana, pemeliharaan, keamanan fasilitas dan tersedianya kotak saran.
Adapun gambaran penilaian atas butir-butir pertanyaan tersebut dapat dilihat
pada tabel berikut:
Tabel 5.9
Distribusi
Frekuensi untuk Variabel Tangibles /bukti
fisik (X1)
Skor Jawaban
|
|||||||||||
Item
|
5
|
4
|
3
|
2
|
1
|
Mean
|
|||||
F
|
%
|
F
|
%
|
F
|
%
|
F
|
%
|
F
|
%
|
||
X1.1
|
28
|
26,9
|
59
|
56.7
|
9
|
8.7
|
8
|
7.7
|
0
|
0
|
4,029
|
X1.2
|
18
|
17,3
|
37
|
35,6
|
25
|
24
|
23
|
22,1
|
1
|
1
|
3,654
|
X1.3
|
22
|
21,2
|
32
|
30,8
|
24
|
23,1
|
26
|
25
|
0
|
0
|
3,481
|
X1.4
|
21
|
20,2
|
41
|
39,4
|
21
|
20,2
|
19
|
18.3
|
2
|
1,9
|
3,580
|
Rata-rata Nilai Variabel Tangibles/bukti
fisik (X1)
|
3,686
|
||||||||||
Sumber: Lampiran 2 diolah
Keterangan:
X1.1 : Item Kenyamanan fasilitas dan
sarana
X1.2 : Item Pemeliharaan
X1.3 : Item Keamanan fasilitas
X1.4 :
Item Tersedianya kotak saran
Berdasarkan tabel diatas kondisi fasilitas
dan sarana pembayaran rekening (X1.1). 28 responden atau 26,9%
menyatakan baik sekali, 59 responden atau 56,7 menyatakan baik, 9 responden
atau 8,7% menyatakan netral (cukup baik), 8 responden atau 7,7% menyatakan
jelek dan tidak ada responden yang menyatakan jelek sekali. Hal ini berarti
sebagian besar responden memberikan tanggapan baik terhadap kenyaman dan
fasilitas sarana terbukti nilai rata-rata sebesar 4,029. Dilihat dari nilai
rata-rata, item pertanyaan ini memiliki nilai tertinggi untuk variabel tangibles (bukti fisik) (X1.1).
hal ini dapat dibuktikan bahwa ruangan untuk pembayaran rekening nyaman dan ber
AC dan ini dinyatakan baik oleh pelanggan.
Untuk item pertanyaan mengenai
pemeliharaan terhadap tandon, jaringan dan meteran (X1.2), 18
responden atau 17,3% menyatakan baik sekali, 37 responden atau 35,6% menyatakan
baik, 25 responden atau 24% menyatakan netral (cukup baik), 23 responden atau
22,1% menyatakan kurang baik dan 1 responden atau 1% menyatakan jelek sekali.
Berarti dalam hal pemeliharaan fasilitas responden memberikan tanggapan yang
beragam terbukti dengan tersebarnya jawaban, namun secara keseluruhan untuk
item pertanyaan mengenai pemeliharaan responden menyatakan cukup baik terbukti dari
nilai rata-rata 3,654.
Untuk item pertanyaan mengenai keamanan
tandon, jaringan dan meteran (X1.3), 22 responden atau 21,2%
menyatakan baik sekali, 32 responden atau 30,8% menyatakan baik, 24 responden
atau 23,1% menyatakan netral (cukup baik), 26 responden atau 25% menyatakan
kurang baik dan tidak ada responden menyatakan jelek sekali. Berarti dalam hal
keamanan fasilitas responden memberikan tanggapan yang beragam terbukti dengan
tersebarnya jawaban, namun secara keseluruhan untuk item pertanyaan mengenai
keamanan responden menyatakan cukup baik terbukti dari nilai rata-rata 3,481.
Item pertanyaan mengenai tersedianya
kotak saran di tempat pembayaran rekening (X1.4), 21 responden atau
20,2% menyatakan tersedia dan baik sekali, 41 reponden atau 39,4% menyatakan
tersedia dan baik, 21 responden atau 20,2% menyatakan netral, 19 responden atau
18,3% menyatakan tidak tersedia kotak saran dan 2 responden atau 1,9%
menyatakan dengan yakin tidak tersedia kotak saran. Dari tanggapan responden yang
ada dapat dikatakan bahwa sebagian besar responden menyatakan ditempat
pembayaran rekening tersedia kotak saran terbukti niiai rata-ratanya sebesar
3,580.
Secara keseluruhan menunjukkan bahwa tangibles (bukti fisik) (X1)
oleh responden sebagian besar menyatakan cukup baik hal tersebut dapat dilihat
dari nilai rata-rata 3,686.
Uji
kualitas data
Kesimpulan
penelitian yang berupa jawaban atau pemecahan masalah penelitian, dibuat
berdasarkan hasil proses pengujian data yang meliputi : Pemilihan, pengumpulan
dan analisis data. Kesimpulan tergantung pada kualitas data yang di analisis
mengumpulkan data penelitian dan instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan
data penelitian. Ada dua konsep untuk mengukur kualitas data, yaitu validitas
dan reliabilitas. Artinya suatu penelitian akan menghasilkan kesimpulan yang
bias apabila datanya kurang valid dan kurang reliabel. Sedang kualitas data
penelitian ditentukan oleh kualitas instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan
data.
Uji
Instrumen Penelitian
Validitas
dan Reliabilitas
Hasil
pengukuran dan data yang diperoleh dengan menggunakan ukuran tersebut dapat
digunakan dalam penelitian tersebut jika memiliki kesahihan ukuran (validity of a measure) dan keandalan
ukuran (reliability of measure). Ini
berarti bahwa jika data diperoleh dari suatu instrumen atau teknik pengumpulan
data kita perlu mengetahui apakah data secara benar mengindikasikan perilaku
yang diukur. Apakah instrumen atau alat ukur yang digunakan berulang-ulang
untuk mengukur gejala yang sama pada responden yang sama memberikan hasil yang
sama, dan apakah instrumen atau alat ukur yang digunakan untuk mengukur suatu
gejala telah mengukur gejala yang diukur, tidak mengukur gejala lain? Menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut berarti kita menilai apakah instrumen yang kita
gunakan valid (sahih) atau reliabel (andal). Menggunakan data yang valid dan
reliabel penting agar data empiris yang dikumpulkan merupakan gambaran dari
kejadian-kejadian empiris data tersebut diperoleh.
Validitas
Apakah
instrumen pengukur, mengukur apa yang saya ingin ukur? Pertanyaan ini berkaitan
dengan validitas atau kesahihan pengukuran yang menunjuk pada sejauh mana
pengukuran secara akurat merefleksikan pokok isi ukuran. Validitas adalah
sejauh mana perbedaan dalam skor pada suatu ninstrumen (item-item dan kategori
respon yang diberikan kepada satu variabel khusus) mencerminkan kebenaran
perbedaan antara individu-individu, kelompok-kelompok atau situasi-situasi
dalam karakteristik (variabel) yang ditemukan untuk ukuran.
Reliabilitas
Reliabilitas
atau keandalan adalah keterpercayaan, stabilitas atau kemantaban, konsistensi,
prediktabilitas dan ketepatan atau akurasi dari suatu ukuran.
Jika
set obyek yang sama diukur berkali-kali
dengan alat ukur yang sama, apakah kita akan memperoleh hasil yang sama
dan apakah hasil ukuran yang diperoleh dengan menggunakan alat ukur tertentu
merupakan ukuran sebenarnya dari obyek tersebut? Pertanyaan ini berhubungan
dengan reliabilitas atau keandalan pengukuran yaitu derajat sejauh mana ukuran
menciptakan respon yang sama sepanjang waktu dan lintas situasi.
BAB XI
UJI HIPOTESIS
Data yang dikumpulkan dan direkam
mungkin dalam bentuk angka atau jumlah dan dalam bentuk kata-kata atau gambar.
Data tersebut kemudian diolah dan dianalisis. Data diolah untuk mendapatkan
data yang siap analisis. Pengolahan data mengubah data menjadi informasi. Hasil
pengolahan data berupa data sheet akan memudahkan dalam melakukan analisis
data. Kualitas pengolahan data menentukan kualitas data yang akan dianalisis
dan karenanya menentukan kualitas hasil analisis data. Demikian eratnya kaitan
antara pengolahan dan analisis data sehingga pengolahan data sering dimasukkan
menjadi bagian dari analisis data. Analisis data memiliki arti yang luas, yang
meliputi penyederhanaan data penyajian
data dan pada umumnya disebut sebagai analisis. Dalam proses analisis data,
peneliti mengolah dan mengorganisasi data mentah ke dalam bentuk yang sesuai,
terutama untuk diolah dengan menggunakan komputer, menyajikannya dalam berbagai
bagan atau gambar untuk meringkas segi-segi atau ciri-cirinya dan
menginterpretasi atau memberi makna teoritis atas hasil. Jadi analisis
databerkenaan dengan pemilihan alat statistik yang digunakan dan penyajian
temuan-temuan.
Salah satu tujuan penelitian adalah
menguji hipotesis. Berdasarkan paradigma penelitian kuantitatif, hipoesis
merupakan jawaban atas masalah penelitian yang secara rasional di ambil dari
teori. Tujuan pengujian hipotesis untuk menentukan apakah jawaban teoritis yang
terkandung dalam pernyataan hipotesis didukung oleh fakta yang dikumpulkan dan
dianalisis dalam proses pengujian data.
Pemrosesan
data
Pemrosesan data adalah menghubungkan
antara pengumpulan data dan analisis data. Pemrosesan data meliputi
transformasi dari observasi yang dihimpun dalam lapangan ke dalam satu sistem kategori dan
menerjemahkan kategori tersebut ke dalam kode yang dapat dipertanggungjawabkan
ke analisis kuantitatif. Pengujian hipotesis merupakan proses yang kompleks,
terutama jika data yang diteliti merupakan data sampel atau bagian dari
populasi. Pernyataan hipotesis, sebagaimana diketahui, merupakan ekspektasi
peneliti mengenai karakteristik populasi yang didukung oleh logika teoritis.
Berdasarkan hasil pengujian terhadap sebagian populasi (sampel), penelitian
membuat keputusan menolak atau mendukung hipotesis.
Penyuntingan
Data harus diperiksa kembali kualitasnya,
proses memeriksa kembali kualitas data dalam instrumen dinamakan penyuntingan
(editing). Yang diperiksa kembali adalah kelengkapan, konsistensi, ketepatan,
keseragaman dan relevansi. Jika data yang didapat menunjukkan ada cacat yang
disebabkan oleh tidak dipenuhinya satu atau beberapa dari syarat data, maka
harus dilakukan pengumpulan data ulang ke lapangan untuk mendapatkan data yang
sesuai dengan kebutuhan dan harapan. Jika hal ini tidak mungkin lagi dilakukan,
data dari responden tertentu yang tidak lengkap harus didrop sehingga terjadi
pengurangan sampel. Asal pengurangannya tidak ekstrem tidak menjadi masalah,
tetapi alasan pengurangan sampel harus dijelaskan dalam laporan penelitian
dalam sub judul penarikan sampel.
Tabulasi
Dalam penelitian ilmiah, tabulasi data
pada umumnya tidak termasuk dalam analisis data karena dalam tabulasi belum
mengungkap hubungan dalam data. Tabulasi hanya menyajikan hitungan frekuensi
atau perkiraan numerik tentang distribusi frekuensi dari satu hal. Oleh karena
itu, tabulasi merupakan alat analisis atau sebagai alat untuk menyusun kategori
ketika mengubah variabel rasio atau interval menjadi nominal atau ordinal atau
berdasarkan indeks. Tabulasi kemudian digunakan untuk menciptakan statistik
deskriptif
Analisis
Data
Analisis data dilakukan untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan penelitian atau untuk menguji hipotesis-hipotesis
penelitian yang telah dinyatakan sebelumnya. Adapun teknik analisis yang biasa
digunakan untuk data yang bersifat ordinal adalah:
1. Regresi
Linier berganda
2. Intepretasi
3. Uji
Fisher (Uji F)
4. Intepretasi
5. Uji
t
6. Intepretasi
BAB
XII
UJI
ASUMSI KLASIK
1. Uji
Multikoleniaritas
2. Uji
Heterokesdasitas
3. Uji
Autokorelasi
BAB
XIII
PENYUSUNAN
PROPOSAL PENELITIAN
Satu proyek penelitian dimulai dengan
menyusun proposal penelitian. Berdasarkan proposal penelitian tersebut kemudian
peneliti mengadakan penelitian. Jika penelitian selesai maka seorang peneliti wajib
mengkomunikasikan temuan-temuan penelitian tersebut kepada orang lain dalam
berbagai cara. Biasanya dalam bentuk tulisan yang disebut laporan penelitian.
Umumnya laporan penelitian menguraikan secara cukup rinci prosedur penelitian
yang dipakai agar memungkinkan peneliti
lain mengulangi melakukan penelitian tersebut, kecuali jika kerahasiaan data
hasil penelitian harus dijaga. Jika penelitian dilakukan dengan mengambil
sampel dari populasi, misalnya, laporan ini harus mencakup bukti-bukti mengenai
sejauh mana sampel tersebut mewakili populasi yang bersangkutan. Telah pustaka
harus lengkap dan mendalam serta disebutkan sumbernya. Alat pengumpul data yang
digunakan harus tepat, mislnya, jangan menggunakan kuisioner bilamana tersedia
bukti-bukti yang lebih dapat diandalkan dari sumber-0sumber dokumen atau
pengamatan langsung. Jadi hasil penelitian termasuk tahap-tahap, rancangan dan
prosedur penelitian harus dilaporkan secara lengkap tanpa ada yang
ditutup-tutupi apapun hasilnya.
Perbandingan
integral dan sistematika proposal dan laporan hasil penelitian
Proposal Penelitian
|
Laporan
Hasil Penelitian (Skripsi)
|
BAGIAN
AWAL
Halaman
Judul
BAGIAN
UTAMA
BAB I
Pendahuluan
Latar
Belakang Masalah
Perumusan
Masalah
Batasan
Masalah
Tujuan dan
manfaat penelitian
Kerangka
Pemikiran
BAB II
Tinjauan Pustaka
Penelitian
Terdahulu
Landasan
Teori
Kerangka
Konseptual dan hipotesis (jika diperlukan)
BAB III
Metode Penelitian
Lokasi
Penelitian
Metode
pengumpulan data
Penentuan
populasi dan sampel (jika diperlukan)
Model analisis
data
BAGIAN
AKHIR
Jadwal
Penelitian (tabel)
Daftar
Pustaka
|
BAGIAN
AWAL
Halaman
judul
Halaman
Pengesahan
Kata
Pengantar
Abstrak
Daftar Isi
Daftar
Tabel
Daftar
Gambar
Daftar
Lampiran
BAGIAN
UTAMA
BAB I
Pendahuluan
Latar
Belakang Masalah
Perumusan
Masalah
Batasan
Masalah
Tujuan dan
manfaat penelitian
Kerangka
Pemikiran
BAB II
Tinjauan Pustaka
Penelitian
Terdahulu
Landasan
Teori
Kerangka
Konseptual dan hipotesis (jika diperlukan)
BAB III
Metode Penelitian
Lokasi
Penelitian
Metode
pengumpulan data
Penentuan
populasi dan sampel (jika diperlukan)
Model
analisis data
BAB IV
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Gambaran
umum perusahaan
Hasil
penelitian
Analisis
data
BAB V
Kesimpulan dan Saran
BAGIAN
AKHIR
Daftar
Pustaka dan lampiran
|
Pada hakekatnya, baik proposal
penelitian maupun laporan hasil penelitian terdiri dari tiga bagian: bagian
awal, bagian utama dan bagian akhir.
Penyusunan proposal penelitian dilakukan
pada awal sebelum penelitian dilakukan, yang didalamnya tertuang rencana topik
yang akan dibahas, judul, sampai dengan rencana analisis data dan jadwal
pelaksanaan penelitian.
Bagian
awal
Halaman
judul
Dalam suatu penelitian, judul merupakan
suatu yang sangat penting kedudukannya. Judul merupakan “wajah” dari kegiatan
penelitian karena memang yang nampak paling dulu dari suatu penelitian adalah
judul. Judul berkaitan erat dengan perumusan maslah. Dengan memiliki masalah
maka peneliti mengetahui unsur penting untuk dirumuskan menjadi judul
penelitian. Buat judul penelitian tidak terlalu panjang tetapi ringkas dan
informatif (paling banyak 10 hingga 12 kata). Judul harus singkat tetapi harus
mengkomunikasikan topik dan variabel-variabel utama kepada pembaca. Ringkaslah
dan hindari kata-kata yang tidak perlu. Tetapi juga tidak terlalu singkat agar
judul tidak kehilangan arti.
Bagian
Utama
BAB
I Pendahuluan.
Pendahuluan
merupakan bagian pertama dalam penulisan proposal penelitian, pendahuluan
mengatur bagian penelitian secara keseluruhan. Pendahuluan merupakan bagian
dari isi proposal penelitian yang sedikitnya memuat tiga aspek (1) Latar
belakang yang menjadi motivasi peneliti untuk melakukan penelitian (2) Rumusan
Masalah Penelitian (3) Tujuan dan Manfaat Penelitian. Pembahasan dalam bagian
ini dimulai dengan uraian yang cukup mengenai arti pentingnya penelitian yang
sedang dilakukan dan alasan pemilihan bidang masalah dan topik yang diteliti.
Selanjutnya pada bagian pendahuluan ini,
peneliti harus menyatakan rumusan masalah yang diteliti secara jelas dan dapat
diuji melalui pengumpulan data.
Uraian berikutnya adalah penjelasan
mengenai tujuan yang harapkan oleh peneliti dengan adanya penelitian tersebut
dan manfaat atau kontribusi apa yang diberikan oleh hasil penelitian tersebut.
BAB
II Tinjauan Pustaka
Bagian ini memuat konsep-konsep teoritis
yang digunakan sebagai kerangka atau landasan untuk menjawab masalah
penelitian. Pembahasan pada bagian ini difokuskan pada literatur-literatur yang
membahas konsep teoritis yang relevan dengan rumusan masalah dan tujuan
penelitian. Peneliti sebaiknya menghindari pembahasan konsep-konsep yang kurang
relevan dengan upaya pemecahan masalah penelitian
BAB
XIV
PENYUSUNAN
LAPORAN PENELITIAN
No comments:
Post a Comment