Wednesday, April 27, 2016

CerpenKu



SAHABATKU

       Dipagi yang cerah, ku membuka jendela kamar yang langsung mengarah keluar ke matahari yang tersenyum indah dihadapanku dan kubalas dengan tertutup mata tangan terlentang merasakan hangatnya sinar mentari pagi dan kusapa dengan senyuman manis yang mengembang dibibirku.
Pagi itu kurasa bumi menyambutku dengan penuh semangat, hanya untuk mengantarku menuju hidup yang lebih baik dari hari kemaren. Ditengah-tengah aku merasakan hangatnya mentari, samar-samar kudengar ada yang memanggil namaku.
“Bhei…………………” seketika aku buka mata ini dan melihat kesekeliling halaman, tak ada satu pun orang lalu lalang dihadapanku, akhirnya ku kembali menutup mataku untuk melanjutkan merasakan kehangatan mentari. Beberapa menit kemudian kudengar lagi seseorang memanggil namaku “ Bheiiiiiiii…………..” dengan kencangnya hingga mengagetkan ku, kembali ku buka mata dan aku dapati ternyata si Bawel dari arah pintu kamarku yang tanpa mengetuk pintu dan langsung masuk begitu saja. Si Bawel Rafa sahabat aku dari kecil yang sesuka hati masuk kamar tanpa permisi si pemilik kamar, itu sudah menjadi kebiasaan dia tiap pagi, membuat ribut rumah orang. Aktifitas Rafa tiap pagi hanya membuat ku jengkel dengan teriakkanya yang melengking, sampai-sampai tetangga pun ikut kaget, yang masih tidur jadi bangun, yang bangun jadi tidur lagi. Hahahah tu lah kebiasaanya Rafa, tapi dari tingkahnya yang menjengkelkan aku sangat menyayanginya, dan dia yang selalu menghiburku disaat aku merasa sedih.
       “ iiiih tu kan Rafa, kenapa sih? sehari ja aku gak denger teriakan kamu, emang gk bisa? Berisik tau. Aku udah bangun dari tadi tauuuuu.”
       “ hahahaha, gak bisa peseeek (sambil menarik hidungku)”
       “ duuuuh sakit tau.” Ku kerucutkan bibir aku yang imut ^_^.
       “ iiiih tambah lucu deh pesek nih.” Malah mencubit pipi ku berkali-kali.
Kami pun bercanda dipagi yang cerah itu, di kala itu semua terasa lebih indah tanpa adanya sebuah kegundahan ataupun kesedihan sedikitpun.

       Dihari sebelumya, Rafa mengetahui aku dalam masa dilemma, dimana aku harus berada dalam dua pilihan, antar pilihan satu dengan pilihan yang lain. Dan aku tak tau kenapa hati ini sulit untuk memilih antara dua pilihan itu, antara aku takut menyakiti yang satu dengan yang lain. Aku tak ingin menyakiti siapapun, aku hanya berusaha untuk menjadi yang lebih baik, tp disisi lain aku sudah mejadi orang paling jahat karna telah menyakiti mereka yang telah meyayangiku. Dan disaat ini hanya Rafa yang bisa menghiburku membuat aku lupa akan masalah itu.
       Rafa mengajakku ke suatu tempat, disana hanya ada angin segar, suasana damai, tenang dan tanpa keributan, tempat favorit ku setiap aku ada masalah. Di pantai itu aku bisa leluasa meluangkan segala sesuatu yang ada dipikiran dan dibenakku dan seperti biasa aku selalu ditemani sahabat baikku Rafa.
       “Peseeek diem ja, gi mikirin pa nih?” memangku kepalanya ditangan dan menghadap kearahku yang duduk disebelahnya.
       Jauh ku memandang ke depan, hamparan laut terbentang luas, sungguh indahnya ciptaan YANG MAHA KUASA sehingga membuat ku mengucap syukur. Aku tenggelam di keindahan pisisir pantai tu, ku tersenyum menikmatinya, sampai-sampai ku tak merespon pertanyaan Si Bawel Rafa.
       “Woy… Bhei mikirin pa sih, senyum-senyum sendiri, aku dicuekin lagi.” Melipat kedua tangan, menatap kedepan sambil bibir mengerucut.
       “eeh ya…(menoleh ke Rafa kaget) ya Rafa kenapa?”
       “au aah gelap” masih marah
       Sambil senyum ku cubit pipi Si Babel dan aku lari, seketika itu Rafa langsung tertawa dan balik mengejar aku yang sedang lari di pinggiran bibir pantai. Ditempat itulah aku bisa melupakan segala masalah yang sedang terjadi di kehidupanku, dan hanya Rafa yang bisa membuat itu semua terjadi.
       Seharian ku bersama Rafa, seharian pula ku lupa dengan masalah tu. Dan aku berjanji aku tak akan memikirkan itu lagi, karna semua terjadi itu bukan sebuah kebetulan, dengan adanya masalah itu aku mejadi lebih kuat, lebih bisa mengahadapi masalah lebih tenang dan itu semua karna Sibawel Rafa, Rafa dan hanya Rafa sahabat aku sekaligus udah bagaikan kakak aku yang selama ini tak kumiliki.
***
       Disuatu hari ditengah kebisingan kota, kumelangkah menuju sebuah café dimana disana ada seseorang yang telah menungguku, yang tidak lain adalah Rafa. Aku tidak tau ada angin apa tiba-tiba Rafa mengajakku ke Café, tidak biasanya seperti tu karna biasanya kalau memang ada yang penting untuk dibicarakan Rafa langsung ke rumah tanpa harus membuat pertemuan di suatu Café. Dalam langkahku begitu banyak pertanyaan yang muncul, ada apa dengan Rafa? Apa yang akan dibicarakan? Kenapa gak seperti biasanya? Dan masih banyak lagi yang ada dipikiranku.
       Perlahan-lahan ku melangka kemuju Café, ku buka pintu Café dengan hati yang dag dig dug, kulihat disekeliling Café ku mencari sesosok tinggi, kurus tapi berisi dan penampilan yang cool menurutku sih. Kudapati di paling ujung sebelah pojok, Rafa yang setia menungguku. Ku dekati, Rafa berdiri dan menggeserkan kursi agak ke luar dari bawa meja yang mengisyaratkan untuk tempat aku duduk, tapi itu bukan seperti Rafa, kembali sebuah pertanyaan muncul, ‘kenapa seformal ini? Ada apa dengan rafa?’, disana aku semakit gak karuan.
       “terima kasih Rafa, tapi kenapa sampai segitunya sih, emang da pa Fa?”
Rafa diam, dia hanya membalas dengan senyuman kecil. “Fa ada apa siih, kok diem aja”, kembali hanya senyuman yang aku dapat, sehingga aku putuskan untuk diam sampai Rafa sendiri yang bicara, tetapi dalam hati dan fikiran aku bercampur aduh antara bingung, jengkel dan banyaknya pertanyaan yang hanya berkeliling diatas kepalaku dan hanya dapat jawaban senyuman dari Rafa.
       Beberapa menit berlalu, pelayan keluar dengan makanan dan minuman yang sudah dipesan Rafa, dan tanpa aku pesan Rafa sudah tau apa yang akan aku pesan karna Café itu adalah Café langganan aku sama Rafa, dan pesanan aku selalu sama setiap ke Café itu. Beberapa manit berlalu setelah pelayan menaruh pesanan, dan Rafa masih terdiam dan hanya senyuman yang ada. Aku masih tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Rafa terhadapku ini, aku tak mengerti apa yang sebenarnya sedang direncanakan, aku makanpun menjadi tak enak dan tak nyaman. Keheningan pun terpecah saat Rafa membuka percakapan, dari sekian menit baru dia berucap.
       “Bhie....”
       “Akhinya bicara juga, ya Fa ada apa, kenapa, dari tadi diem ja buat aku jadi khawatir dan bingung, ada apa sebenarnya..??” tak henti-hentinya aku keluarkan kata-kata yang begitu panjang padahal Rafa hanya memanggilku, itu pun dengan nama panggilanku yang begitu pendek ‘Bhie’ udh hanya itu tapi aku menyambarnya dengan banyak pertanyaan, seketika Rafa memegang tanganku, makin gak karuan aku, gak seperti biasanya dia selembut ini memegang tanganku. Ada apa ini, fikiranku semakin macam-macam dan gak karuan.
       “Bhie (masih memegang tanganku) aku mau bicara sesuatu, kamu dengarkan saja jangan bicara dulu sebelum aku selesai bicara. Ok…?” melepas genggamanya.
       Aku melihat kearah tangan yang makin lama menjauh dari tanganku, dan dikagetkan dengan panggilan Rafa. “Bhie…”
       “eeh ya Fa, kenapa? Maaf aku gak konsen barusan, kenapa?”
       “aku mau bicara sesuatu, tp sebelum aku selesai jangan bicara satu kalimatpun ya, dengarkan saja.”
       “o..oh ya, baik..” gugup, aku pun mencoba konsentrasi dengan pembicaraan ini dengan hati yang gak karuan, gak tau kenapa hati ini jadi seperti ini.
       “begini Bhie, Sebenarnya aku mau bilang ini dari kemaren-kemaren tapi ngelihat kondisi kamu yang kemaren kayaknya gak memungkinkan. Karena sekarang udh lebih baik, jadi ini saatnya aku bicara dan berkata jujur sama kamu Bhie.” Terdiam sejenak dan aku hanya menunggu kelanjutanya tapi dengan hati yang berdebar-debar.
       “Begini Bhie, sebenarnya ini udah lama tapi aku belum bisa bilang ke kamu karna aku sendiri juga belum siap, tapi bakalan sampai kapan aku menyembunyikan ini dari kamu, lama-lama kamu juga bakalan tau. Karna aku juga gak sanggup lagi menyembunyikan ini, udah pengen banget aku ungkapkan ke kamu.” Semakin gak karuan aku mendengar pengungkapan itu, ada apa sebenarnya, apa Rafa menyukaiku? ah mana mungkin, kan kita sudah sahabatan mulai kecil, tp dari perkataanya kenapa menuju kearah sana. Tapi aku memang nyaman banget sama Rafa, setiap aku ada masalah dia selalu ada disamping aku, disaat sedih pun dia yang menghiburku, dan tanpa aku sadari sepertinya rasa sayang aku lebih, bukan sekedar sayang ke sahabat atau sayang keseorang kakak. Aku pun kemudian konsen lagi dengan pengungkapan Rafa.
       “ aku juga gak tau dari kapan aku seperti ini, merasakan rasa seperti ini, tapi aku merasa bahagia saat aku ingat rasa itu ada di aku” lanjutnya. “ tapi saat itu aku tak mampu untuk mengungkapkanya, rasanya terkunci mulut ini untuk berbicara, tapi aku bulatkan tekat untuk mengungkapkanya, aku datangi dan aku ungkapkan semua yang udah aku rasakan.” Tunggu, apa? Datangi? Kapan? Ungkapin pa? malah sekarang aku yang suruh datang ke Café ni? apa aku cuma gak sadar dengan yang diungkapkan Rafa sebelum ini, tapi tadi dia bilang gk mungkin bilang-bilang kemaren ke aku, aduuuh sebenarnya ada apa sih ini? kenapa dengan Rafa? siapa yang dimaksud? siapa yang didatangi? Dan ngungkapin apa?, disaat itu aku semakin gak karuan.
       “Bhie sebenarnya aku… aku…” kembali terdiam.
       “Ya Fa kenapa kamu, jangan buat aku bingung dong, sebenanya kamu kenapa?”
       “Bhie jangan kaget ya, sebenarnya aku sukaaa…..” ‘hah suka?’
       “ya Fa sukaaa?”
       “sebenarnya aku suka seorang wanita di kampus Bhie, udh aku ungkapkan dihadapanya dan hadapan semua orang dan dia ternyata juga menyukai ku Bhie, aku seneng banget Bhie. Dan sekarang aku punya pasangan Bhie…”     
       Apa? Sekarang Rafa punya pacar? Seketika aku dibuat kaget dengan pengungkapan Rafa terhadapku, dan aku gak tau kenapa aku menjadi sedih didalam hatiku tapi aku tak mau perlihatkan ke Rafa. Apa aku benar-benar udah sayang sama Rafa lebih dari sayang ke sahabat, tapi aku gak boleh egois, Rafa juga harus bahagia dengan pasangannya.
       “apa Fa? (tanyaku, tanpa memperlihatkan kekecewaanku) dari kapan? Kok gk cerita-cerita sih dari kemaren? Aku udah bukan sahabat kamu ya?”
       “bukan begitu Bhie, sebenarnya aku udah mau bilang ke kamu tapi keadaan kamu gk memungkinkan kemaren-kemaren, maaf ya…?”
       “hemmmmm…, ya dah gpp. Mana sekarang? Kenapa gak dikenalkan ke aku?”
       “rencananya hari ini, tapi masih belum datang. Tunggu ya bentar lagi.”
       Aku diam, aku merasa kecewa, tapi aku harus gimana ini demi Rafa, biar lah cinta ini aku pendam sendiri, mungkin memang benar perhatian Rafa akan terbagi, tapi selama ini aku sudah banyak dibahagiakan oleh Rafa, dan udah saatnya wanita lain merasakan apa yang pernah aku rasakan.
       Beberapa menit udah aku menunggu sesosok wanita yang belum aku tau siapa, aku melihat ke arah Rafa, ku lihat dalam-dalam. Wajah itu telihat bahagianya, bentar-bentar senyum, senyuman yang terindah yang belum pernah aku lihat dari Si Bawel yang sudah mempunya seseorang yang special di hatinya, bentar-bentar melihat kearah Handphone, saat Handphone ditangannya berbunyi dia buru-buru mengangkatnya dan kembali raut wajah bahagia itu muncul. terus aku tatapi wajah itu, tiba-tiba dia melambai. Aku penasaran siapa wanita itu, tiba-tiba……
       “ hai Bhie, lama gak kelihatan di kampus.” Suara itu tak asing di telingaku, sepertinya aku menenalnya, aku lihat dari kaki sampai ke atas dengan perlahan. Betapa terkejutnya aku, ternyata Bulan teman seangkatanku dan bahkan teman sekelasku. Bodoh sekali aku gak pernah sadar.
       “Bulan (mata melotot) kamu?”
       “ya aku Bhie…” tersenyum
       “hei gak perlu kaget, sampai melotot segala.” Rafa mengusap wajah aku, “ya ini Bulan Bhie, kenapa? Gk nyangka ya. Ya ini wanita yang aku ceritakan dari tadi, gimana menurutmu Bhie?” Tanya Rafa ke padaku.
       “eeh (masih belum percaya), bagus-bagus hehehe.” Seketika ku bangun dari ketidak percayaanku. Ya inilah kenyataanya, Rafa sudah bahagia bersama Bulan dan aku hanya bisa do’akan semoga langgeng sampai ke lebih serius.
       “ehya Bhie aku mau keluar sama Bulan, seandainya kamu pulang sendiri gak papa kan?”
       “sayang kenapa harus pulang sendiri? Kenapa gak kita anter dulu.” Minta Bulan kepada Rafa. Rafa memberikan isyarat ke padaku untuk menolak saran Bulan, aku pun sadar dengan isyarat itu.
       “eh tidak usah Bulan aku bisa pulang sendiri, lagian aku masih ada urusan, hehehehe.”
       “ oh gtu, ya udah kalau gitu.”
       “ ya udah sayang yuk kita berangkat. Dag dag Bhei ati-ati ya dijalan.” Pergi meninggalkan aku sambil menarik tangan Bulan dan menggandengnya dengan mesrah.
       Aku hanya bisa menatap punggung Rafa yang perlahan menjauh dariku, perlahan menghilang dari hadapanku. Rafa aku hanya bisa mendoakanmu agar kamu bisa bahagia dengan Bulan, sampai kalian menuju yang lebih serius, mungkin suatu saat aku juga akan dapatkan seseorang, tapi aku gak akan melupanmu Rafa yang selalu ada buat aku. Terima kasih atas semua kebahagian yang kau berikan kepadaku, ini saatnya kau bahagiakan orang lain juga.
       Dag sahabatku, kakakku, si bawelku, aku akan merindukan hari-hari bersamamu.
I LOVE YOU MY FREAND. ^_^

1 comment:

  1. What Does Baccarat Mean For Real Money? - FBCASINO
    Baccarat is a kadangpintar classic 바카라사이트 game of skill play. A game with a little twist on the wheel, and no matter what หาเงินออนไลน์ you happen to score a line, your bet is a loser.

    ReplyDelete