SAHABATKU
Dipagi yang cerah, ku membuka jendela kamar yang langsung
mengarah keluar ke matahari yang tersenyum indah dihadapanku dan kubalas dengan
tertutup mata tangan terlentang merasakan hangatnya sinar mentari pagi dan
kusapa dengan senyuman manis yang mengembang dibibirku.
Pagi itu
kurasa bumi menyambutku dengan penuh semangat, hanya untuk mengantarku menuju
hidup yang lebih baik dari hari kemaren. Ditengah-tengah aku merasakan
hangatnya mentari, samar-samar kudengar ada yang memanggil namaku.
“Bhei…………………” seketika aku buka
mata ini dan melihat kesekeliling halaman, tak ada satu pun orang lalu lalang
dihadapanku, akhirnya ku kembali menutup mataku untuk melanjutkan merasakan
kehangatan mentari. Beberapa menit kemudian kudengar lagi seseorang memanggil
namaku “ Bheiiiiiiii…………..” dengan kencangnya hingga mengagetkan ku, kembali ku
buka mata dan aku dapati ternyata si Bawel dari arah pintu kamarku yang tanpa
mengetuk pintu dan langsung masuk begitu saja. Si Bawel Rafa sahabat aku dari
kecil yang sesuka hati masuk kamar tanpa permisi si pemilik kamar, itu sudah
menjadi kebiasaan dia tiap pagi, membuat ribut rumah orang. Aktifitas Rafa tiap
pagi hanya membuat ku jengkel dengan teriakkanya yang melengking, sampai-sampai
tetangga pun ikut kaget, yang masih tidur jadi bangun, yang bangun jadi tidur
lagi. Hahahah tu lah kebiasaanya Rafa, tapi dari tingkahnya yang menjengkelkan
aku sangat menyayanginya, dan dia yang selalu menghiburku disaat aku merasa
sedih.
“ iiiih tu kan Rafa, kenapa sih? sehari ja aku gak denger
teriakan kamu, emang gk bisa? Berisik tau. Aku udah bangun dari tadi tauuuuu.”
“ hahahaha, gak bisa peseeek (sambil menarik hidungku)”
“ duuuuh sakit tau.” Ku kerucutkan bibir aku yang imut ^_^.
“
iiiih tambah lucu deh pesek nih.” Malah mencubit pipi ku berkali-kali.
Kami pun bercanda dipagi yang
cerah itu, di kala itu semua terasa lebih indah tanpa adanya sebuah kegundahan
ataupun kesedihan sedikitpun.
Dihari sebelumya, Rafa mengetahui aku dalam masa dilemma,
dimana aku harus berada dalam dua pilihan, antar pilihan satu dengan pilihan
yang lain. Dan aku tak tau kenapa hati ini sulit untuk memilih antara dua
pilihan itu, antara aku takut menyakiti yang satu dengan yang lain. Aku tak ingin
menyakiti siapapun, aku hanya berusaha untuk menjadi yang lebih baik, tp disisi
lain aku sudah mejadi orang paling jahat karna telah menyakiti mereka yang
telah meyayangiku. Dan disaat ini hanya Rafa yang bisa menghiburku membuat aku
lupa akan masalah itu.
Rafa mengajakku ke suatu tempat, disana hanya ada angin segar,
suasana damai, tenang dan tanpa keributan, tempat favorit ku setiap aku ada
masalah. Di pantai itu aku bisa leluasa meluangkan segala sesuatu yang ada
dipikiran dan dibenakku dan seperti biasa aku selalu ditemani sahabat baikku
Rafa.
“Peseeek diem ja, gi mikirin pa nih?” memangku kepalanya
ditangan dan menghadap kearahku yang duduk disebelahnya.
Jauh ku memandang ke depan, hamparan laut terbentang luas,
sungguh indahnya ciptaan YANG MAHA KUASA sehingga membuat ku mengucap syukur.
Aku tenggelam di keindahan pisisir pantai tu, ku tersenyum menikmatinya,
sampai-sampai ku tak merespon pertanyaan Si Bawel Rafa.
“Woy… Bhei mikirin pa sih, senyum-senyum sendiri, aku dicuekin
lagi.” Melipat kedua tangan, menatap kedepan sambil bibir mengerucut.
“eeh ya…(menoleh ke Rafa kaget) ya Rafa kenapa?”
“au aah gelap” masih marah
Sambil senyum ku cubit pipi Si Babel dan aku lari, seketika
itu Rafa langsung tertawa dan balik mengejar aku yang sedang lari di pinggiran
bibir pantai. Ditempat itulah aku bisa melupakan segala masalah yang sedang
terjadi di kehidupanku, dan hanya Rafa yang bisa membuat itu semua terjadi.
Seharian ku bersama Rafa, seharian pula ku lupa dengan masalah
tu. Dan aku berjanji aku tak akan memikirkan itu lagi, karna semua terjadi itu
bukan sebuah kebetulan, dengan adanya masalah itu aku mejadi lebih kuat, lebih
bisa mengahadapi masalah lebih tenang dan itu semua karna Sibawel Rafa, Rafa
dan hanya Rafa sahabat aku sekaligus udah bagaikan kakak aku yang selama ini
tak kumiliki.
***
Disuatu hari ditengah kebisingan kota, kumelangkah menuju
sebuah café dimana disana ada seseorang yang telah menungguku, yang tidak lain
adalah Rafa. Aku tidak tau ada angin apa tiba-tiba Rafa mengajakku ke Café,
tidak biasanya seperti tu karna biasanya kalau memang ada yang penting untuk
dibicarakan Rafa langsung ke rumah tanpa harus membuat pertemuan di suatu Café.
Dalam langkahku begitu banyak pertanyaan yang muncul, ada apa dengan Rafa? Apa
yang akan dibicarakan? Kenapa gak seperti biasanya? Dan masih banyak lagi yang
ada dipikiranku.
Perlahan-lahan ku melangka kemuju Café, ku buka pintu Café
dengan hati yang dag dig dug, kulihat disekeliling Café ku mencari sesosok
tinggi, kurus tapi berisi dan penampilan yang cool menurutku sih. Kudapati di
paling ujung sebelah pojok, Rafa yang setia menungguku. Ku dekati, Rafa berdiri
dan menggeserkan kursi agak ke luar dari bawa meja yang mengisyaratkan untuk
tempat aku duduk, tapi itu bukan seperti Rafa, kembali sebuah pertanyaan
muncul, ‘kenapa seformal ini? Ada apa dengan rafa?’, disana aku semakit gak
karuan.
“terima kasih Rafa, tapi kenapa sampai segitunya sih, emang da
pa Fa?”
Rafa diam, dia hanya membalas
dengan senyuman kecil. “Fa ada apa siih, kok diem aja”, kembali hanya senyuman
yang aku dapat, sehingga aku putuskan untuk diam sampai Rafa sendiri yang
bicara, tetapi dalam hati dan fikiran aku bercampur aduh antara bingung,
jengkel dan banyaknya pertanyaan yang hanya berkeliling diatas kepalaku dan
hanya dapat jawaban senyuman dari Rafa.
Beberapa menit berlalu, pelayan keluar dengan makanan dan
minuman yang sudah dipesan Rafa, dan tanpa aku pesan Rafa sudah tau apa yang
akan aku pesan karna Café itu adalah Café langganan aku sama Rafa, dan pesanan
aku selalu sama setiap ke Café itu. Beberapa manit berlalu setelah pelayan
menaruh pesanan, dan Rafa masih terdiam dan hanya senyuman yang ada. Aku masih
tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Rafa terhadapku ini, aku tak mengerti
apa yang sebenarnya sedang direncanakan, aku makanpun menjadi tak enak dan tak
nyaman. Keheningan pun terpecah saat Rafa membuka percakapan, dari sekian menit
baru dia berucap.
“Bhie....”
“Akhinya bicara juga, ya Fa ada apa, kenapa, dari tadi diem ja
buat aku jadi khawatir dan bingung, ada apa sebenarnya..??” tak henti-hentinya
aku keluarkan kata-kata yang begitu panjang padahal Rafa hanya memanggilku, itu
pun dengan nama panggilanku yang begitu pendek ‘Bhie’ udh hanya itu tapi aku
menyambarnya dengan banyak pertanyaan, seketika Rafa memegang tanganku, makin
gak karuan aku, gak seperti biasanya dia selembut ini memegang tanganku. Ada
apa ini, fikiranku semakin macam-macam dan gak karuan.
“Bhie (masih memegang tanganku) aku mau bicara sesuatu, kamu
dengarkan saja jangan bicara dulu sebelum aku selesai bicara. Ok…?” melepas
genggamanya.
Aku melihat kearah tangan yang makin lama menjauh dari tanganku,
dan dikagetkan dengan panggilan Rafa. “Bhie…”
“eeh ya Fa, kenapa? Maaf aku gak konsen barusan, kenapa?”
“aku mau bicara sesuatu, tp sebelum aku selesai jangan bicara
satu kalimatpun ya, dengarkan saja.”
“o..oh ya, baik..” gugup, aku pun mencoba konsentrasi dengan
pembicaraan ini dengan hati yang gak karuan, gak tau kenapa hati ini jadi
seperti ini.
“begini Bhie, Sebenarnya aku mau bilang ini dari
kemaren-kemaren tapi ngelihat kondisi kamu yang kemaren kayaknya gak
memungkinkan. Karena sekarang udh lebih baik, jadi ini saatnya aku bicara dan
berkata jujur sama kamu Bhie.” Terdiam sejenak dan aku hanya menunggu kelanjutanya
tapi dengan hati yang berdebar-debar.
“Begini Bhie, sebenarnya ini udah lama tapi aku belum bisa
bilang ke kamu karna aku sendiri juga belum siap, tapi bakalan sampai kapan aku
menyembunyikan ini dari kamu, lama-lama kamu juga bakalan tau. Karna aku juga
gak sanggup lagi menyembunyikan ini, udah pengen banget aku ungkapkan ke kamu.”
Semakin gak karuan aku mendengar pengungkapan itu, ada apa sebenarnya, apa Rafa
menyukaiku? ah mana mungkin, kan kita sudah sahabatan mulai kecil, tp dari
perkataanya kenapa menuju kearah sana. Tapi aku memang nyaman banget sama Rafa,
setiap aku ada masalah dia selalu ada disamping aku, disaat sedih pun dia yang
menghiburku, dan tanpa aku sadari sepertinya rasa sayang aku lebih, bukan
sekedar sayang ke sahabat atau sayang keseorang kakak. Aku pun kemudian konsen
lagi dengan pengungkapan Rafa.
“ aku juga gak tau dari kapan aku seperti ini, merasakan rasa
seperti ini, tapi aku merasa bahagia saat aku ingat rasa itu ada di aku”
lanjutnya. “ tapi saat itu aku tak mampu untuk mengungkapkanya, rasanya
terkunci mulut ini untuk berbicara, tapi aku bulatkan tekat untuk
mengungkapkanya, aku datangi dan aku ungkapkan semua yang udah aku rasakan.” Tunggu,
apa? Datangi? Kapan? Ungkapin pa? malah sekarang aku yang suruh datang ke Café
ni? apa aku cuma gak sadar dengan yang diungkapkan Rafa sebelum ini, tapi tadi
dia bilang gk mungkin bilang-bilang kemaren ke aku, aduuuh sebenarnya ada apa
sih ini? kenapa dengan Rafa? siapa yang dimaksud? siapa yang didatangi? Dan
ngungkapin apa?, disaat itu aku semakin gak karuan.
“Bhie sebenarnya aku… aku…” kembali terdiam.
“Ya Fa kenapa kamu, jangan buat aku bingung dong, sebenanya
kamu kenapa?”
“Bhie jangan kaget ya, sebenarnya aku sukaaa…..” ‘hah suka?’
“ya Fa sukaaa?”
“sebenarnya aku suka seorang wanita di kampus Bhie, udh aku
ungkapkan dihadapanya dan hadapan semua orang dan dia ternyata juga menyukai ku
Bhie, aku seneng banget Bhie. Dan sekarang aku punya pasangan Bhie…”
Apa? Sekarang Rafa punya pacar? Seketika aku dibuat kaget
dengan pengungkapan Rafa terhadapku, dan aku gak tau kenapa aku menjadi sedih
didalam hatiku tapi aku tak mau perlihatkan ke Rafa. Apa aku benar-benar udah
sayang sama Rafa lebih dari sayang ke sahabat, tapi aku gak boleh egois, Rafa
juga harus bahagia dengan pasangannya.
“apa Fa? (tanyaku, tanpa memperlihatkan kekecewaanku) dari
kapan? Kok gk cerita-cerita sih dari kemaren? Aku udah bukan sahabat kamu ya?”
“bukan begitu Bhie, sebenarnya aku udah mau bilang ke kamu
tapi keadaan kamu gk memungkinkan kemaren-kemaren, maaf ya…?”
“hemmmmm…, ya dah gpp. Mana sekarang? Kenapa gak dikenalkan ke
aku?”
“rencananya hari ini, tapi masih belum datang. Tunggu ya
bentar lagi.”
Aku diam, aku merasa kecewa, tapi aku harus gimana ini demi
Rafa, biar lah cinta ini aku pendam sendiri, mungkin memang benar perhatian
Rafa akan terbagi, tapi selama ini aku sudah banyak dibahagiakan oleh Rafa, dan
udah saatnya wanita lain merasakan apa yang pernah aku rasakan.
Beberapa menit udah aku menunggu sesosok wanita yang belum aku
tau siapa, aku melihat ke arah Rafa, ku lihat dalam-dalam. Wajah itu telihat
bahagianya, bentar-bentar senyum, senyuman yang terindah yang belum pernah aku
lihat dari Si Bawel yang sudah mempunya seseorang yang special di hatinya,
bentar-bentar melihat kearah Handphone, saat Handphone ditangannya berbunyi dia
buru-buru mengangkatnya dan kembali raut wajah bahagia itu muncul. terus aku
tatapi wajah itu, tiba-tiba dia melambai. Aku penasaran siapa wanita itu,
tiba-tiba……
“ hai Bhie, lama gak kelihatan di kampus.” Suara itu tak asing
di telingaku, sepertinya aku menenalnya, aku lihat dari kaki sampai ke atas
dengan perlahan. Betapa terkejutnya aku, ternyata Bulan teman seangkatanku dan
bahkan teman sekelasku. Bodoh sekali aku gak pernah sadar.
“Bulan (mata melotot) kamu?”
“ya aku Bhie…” tersenyum
“hei gak perlu kaget, sampai melotot segala.” Rafa mengusap
wajah aku, “ya ini Bulan Bhie, kenapa? Gk nyangka ya. Ya ini wanita yang aku
ceritakan dari tadi, gimana menurutmu Bhie?” Tanya Rafa ke padaku.
“eeh (masih belum percaya), bagus-bagus hehehe.” Seketika ku
bangun dari ketidak percayaanku. Ya inilah kenyataanya, Rafa sudah bahagia
bersama Bulan dan aku hanya bisa do’akan semoga langgeng sampai ke lebih
serius.
“ehya Bhie aku mau keluar sama Bulan, seandainya kamu pulang
sendiri gak papa kan?”
“sayang kenapa harus pulang sendiri? Kenapa gak kita anter
dulu.” Minta Bulan kepada Rafa. Rafa memberikan isyarat ke padaku untuk menolak
saran Bulan, aku pun sadar dengan isyarat itu.
“eh tidak usah Bulan aku bisa pulang sendiri, lagian aku masih
ada urusan, hehehehe.”
“ oh gtu, ya udah kalau gitu.”
“ ya udah sayang yuk kita berangkat. Dag dag Bhei ati-ati ya
dijalan.” Pergi meninggalkan aku sambil menarik tangan Bulan dan menggandengnya
dengan mesrah.
Aku hanya bisa menatap punggung Rafa yang perlahan menjauh
dariku, perlahan menghilang dari hadapanku. Rafa aku hanya bisa mendoakanmu
agar kamu bisa bahagia dengan Bulan, sampai kalian menuju yang lebih serius,
mungkin suatu saat aku juga akan dapatkan seseorang, tapi aku gak akan
melupanmu Rafa yang selalu ada buat aku. Terima kasih atas semua kebahagian
yang kau berikan kepadaku, ini saatnya kau bahagiakan orang lain juga.
Dag sahabatku, kakakku, si bawelku, aku akan merindukan
hari-hari bersamamu.
I LOVE YOU MY FREAND. ^_^
What Does Baccarat Mean For Real Money? - FBCASINO
ReplyDeleteBaccarat is a kadangpintar classic 바카라사이트 game of skill play. A game with a little twist on the wheel, and no matter what หาเงินออนไลน์ you happen to score a line, your bet is a loser.